Foto: Arca Emas temuan Bulu Cina koleksi Rudi Oei. (ist)

MEDAN – Edward Edmun Mckinnon sejak Juli 2017 penasaran sekali dengan foto yang saya kirim hasil temuan arca Budha kuno dari Hamparan Perak. Di antara arca arca yang ditemukan buruh tani tebu itu ada yang disepuh emas dan memiliki gaya agama Budha India Selatan abad 8, sezaman era Sriwijaya di Palembang dan Jambi. Yang ditemukan itu adalah Arca Avaloketiswara/Lokeswara juga tablet kuno beraksara untuk persembahan dalam peribadatan agama Budha kuno.

Foto: Tablet beraksara peribatan agama Budha kuno temuan Bulu Cina, Hamparan Perak. Koleksi Museum Pribadi Rudi Oei. (ist)

Bagi Mckinnon ini merupakan temuan penting yang akan mengoreksi sejarah keberadaan agama Budha kuno di Sumatra. Temuan ini mengindikasikan Hamparan Perak memiliki jejak sezaman dengan situs Budha di Jambi dan Palembang. Apakah ini merupakan petunjuk, bukti orang Melayu kuno pra Islam di Sumatera Timur beragama Budha? Dua paper untuk jurnal nasional dan internasional sedang disiapkan atas analisis ikonografi temuan arca yang mengejutkan ini. Juga tahun depan eskavasi oleh Balai Arkeologi Sumatera Utara sedang disiapkan ke lokasi ini. Tes laboratorium atas arca ini diharapkan tidak terlalu lama lagi akan juga dilakukan.

Sumber sumber kuno naskah Melayu setelah dihubungkan dengan temuan arkeologis menunjukkan leluhur Melayu pra Islam dulu beragama Budha. Dalam naskah Melayu klasik Sejarah Melayu, disebut bahwa leluhur Melayu yang melahirkan raja raja Melayu awal bernama Sang Sapurba, sosok setengah dewa yang turun di Bukit Siguntang, Palembang. Orang Melayu di Malaysia banyak yang mempercayai leluhur Melayu turun di Bukit Siguntang itu dan melakukan ziarah ke sana. Dalam kajian arkeologis, situs Bukit Siguntang merupakan situs Budha penting kurun waktu abad ke 4-12.

Pada 2 Agustus 2017 rasa penasaran atas temuan ini coba dibuktikan. Kami hari itu ber enam (Edward Mackinnon dari ISEAS, Eri Sudewo dari Balai Arkeologi Sumatera Utara, Apriani Harahap dan saya dari Universitas Negeri Medan) mendatangi bukit kecil di kebon tebu PTP 2 perbatasan Bulu Cina dan Kota Rentang Kecamatan Hamparan Perak. Kami ke sana bersama Bapak Rudi Oei dan Karyawan (Buruh/Koeli) Kebon PTP yang namanya untuk sementara saya sebut saja Bapak Roesli. Rudi adalah kolektor penting di Medan yang juga mengoleksi barang antik temuan pak Roesli , warga Bulu Cina/Kota Rentang.

Pak Roesli menunjukkan lokasi temuan temuan Arca di bukit yang dibuldozer PTP II untuk menanam tebu. Menurut pengakuannya selama 5 tahun belakangan ini dia menemukan 30 an arca, sebagian utuh tapi sebagian besar patah patah bekas buldozer. Area temuan itu walau bertahun tahun dibuldozer masih nampak bekas dataran setinggi 1 meter dari areal lainnya . Jejak bahwa dulunya ini lokasi bukit peribadatan masih kelihatan karena ada dataran rendah di sisi baratnya.

Foto: Ichwan Azhari (bertopi) bersama Edward Mckinnon, Rudi, Ery Sudewo, dan Apriani Harahap . (ist)

Sayangnya, sebagian besar arca temuan pak Roesli itu sudah “diambil” pedagang barang antik dan dibawa keluar negeri dan ke pedagang barang antik di Bali. Kami sudah mengidentifikasi nama pedagang barang antik itu. Tapi beruntung sebagian temuan penting ini sempat diselamatkan BapakRudi Oei yang berencana akan membangun Museum Sumatra di Medan tahun depan. (Ichwan Azhari)

TINGGALKAN KOMENTAR