Foto: Poster Pementasan 'Obrog Owok-Owok Ebreg Ewek-Ewek' (ist)

Karya Danarto
Sutradara Jose Rizal Manua
Produksi Teater Tanah Air

Teater Kecil – Taman Ismail Marzuki
11 April 2019. Pukul 16.00 & 20.00 WIB

PERAN-PERAN:

SLENTEM, Tukang Sapu Pasar
Diperankan oleh Bias Ismantoro
PROFESOR SENI RUPA
Diperankan oleh Gandung Bondowoso
NYONYA PROFESOR SENI RUPA
Diperankan oleh Ani S’restu
SUMIRAH, Juragan Batik
Diperankan oleh Yuyun Arfah
ATI, Pedagang Batik
Diperankan oleh Dwi Nunanunuk
SARIYEM, Ledek
Diperankan oleh Eka Kartika Halim
TUKANG KENDANG
Diperankan oleh Dede Bharata, Ari Dakota Sunjaya
TUKANG SULING
Diperankan oleh Poetra Noesantara
TUKANG CLEMPUNG
Diperankan oleh Poeljangga
WARTI, Pengamen Cassette Tape Recorder
Diperankan oleh Rini Kreet
KUSNINGTYAS, Putri Profesor, Mahasiswi Kedokteran
Diperankan oleh Tengku Rina Doremi
TOMMY HENDRONEGORO. Pelukis
Diperankan oleh Nusa Kalimasada

Menuju teater tanpa penonton
‘Para penonton, segeralah pertunjukan’

Oleh: Danarto

Panggung pertunjukan, tidak saja menarik bagi pemain maupun sutradara, tetapi ternyata juga menarik bagi penonton sendiri. Penonton yang membeli karcis, tidak saja ingin melihat petunjukan, tetapi ternyata ingin juga ambil bagian dalam pertunjukan itu.

Teriakan-teriakan penonton untuk pemain maupun pertunjukan yang tidak disukainya, juga teriakan akan kesanggupannya untuk menggantikannya, tentu saja tidak dapat diambil kesimpulan begitu saja sebagai suatu teori tentang hubungan pertunjukan dan penonton, namun paling tidak ada membersit suatu pikiran bagaimana sebuah pertunjukan yang menarik seharusnya diselenggarakan.

Bahwa teater membutuhkan penonton, bahwa sutradara memperhitungkan penonton, bahwa para pemain berusaha memikat penonton, ternyata semuanya itu adalah teori yang sungguh-sungguh mendudukkan penonton pada peran yang menentukan. Jumlah penonton, banyak sedikitnya, menentukan kondisi para pemain, luar-dalam.

Ketika sutradara memilih naskah yang akan dipentaskan, ia sebenarnya melakukan pemilihan bersama penonton. Bagaimana hal ini mungkin terjadi? Betapa tidak. Masalah-masalah yang terkandung dalam naskah adalah persoalan sekeliling di mana kita hidup, termasuk sang sutradara dan penonton.
Sutradara yang lebih-lebih lagi, termasuk sang sutradara dan penonton.

Persoalan sosial, politik, kesenian adalah persoalan bersama yang dipikirkan dan digeluti oleh sutradara dan penonton. Sutradara yang lebih-lebih lagi suka mentautkan persoalan sosial politik dalam pemilihan naskahnya, pastilah akan menggaet penonton lebih dalam lagi.

Dalam hal ini penonton adalah seratus prosen isi naskah tersebut. Malah yang membara dalam dada penonton, sebenarnya baru merupakan peristiwa tang sedang digodok oleh sutradara terhadap pemain.
Jika sutradara dan pemain mengingat kembali segala peristiwa untuk menterjemahkan naskah ke atas panggung menjadi sesuatu yang visual, maka penonton sebagai pelaku utama, tidak saja mengingat tapi sudah lama terbantai di tangan pengarang naskah tersebut.

Sebenarnya penonton adalah sasaran utama pengarang, sutradara dan pemain.
Mereka adalah peran-peran yang tak pernah diperhitungkan apalagi dikasih honor. Bahkan mereka harus membayar untuk nonton segala peristiwa dan cerita yang mereka alami sendiri. Penonton adalah darah daging pertunjukan. Bahkan tidak itu saja. Mereka juga: otak.

Sutradara dan pemain yang bertanggung jawab adalah yang sanggup menjamin bahwa pementasannya akan menjadi pertunjukan yang baik. Sebab jika tidak, ada dua kesewenangan yang telah dilakukannya.
Pertama: penonton tertipu bahwa sejarahnya telah dicoreng-moreng hingga tak terbaca lagi. Kedua: penonton telah dicopet duitnya (untuk karcis dan transportasi). Berhakkah “penonton yang naskah” itu meminta kembali duitnya.

Sikap yang memperhitungkan penonton dalam teater, telahmelahirkan sejumlah pengertian,lalu gagasan yang dilaksanakan. Dibuatnya teater arena supaya keterlibatan penonton lebih terasa. Dipentaskan suatu pertunjukan di udara terbuka menjadi lebih luas lagi jangkauannya: lingkungan dan yang hidup di dalamnya. Yang terlupakan sesungguhnya adalah bahwa naskah (yang tertulis maupun tidak) adalah penonton itu sendiri.

Ketika sutradara, berpikir tentang pementasan, maka sesungguhnya telah berderet antri penonton di hadapannya untuk diapakan terserah ia. Dan sutradara memang berkuasa penuh.

Menyerang Pertunjukan

Demikianlah kemudian rupanya sutradara dan pemain menjadi sadar, betapa bahayanya penonton. Sementara itu penoton menjadi lebih tahu peran apa yang harus dilakukannya. Perkataan peran bagi penonton mungkin kurang tepat. Lebih pas kalau disebut: tugas. Ya, tugas apa yang harus dilakukan penonton bila nonton pertunjukan.

Karena dirinya “dipermainkan” maka penonton ganti berhak mempermainkan pertunjukan itu. Serangan penonton sebenarnya tak terduga, meskipun hal ini telah diperhitungkan oleh sutradara.
Ambil saja misalnya dengan pertunjukan “Calon Arang” teater tradisional Bali yang adalah sebuah sumbernya- sumber dari segala tetek-bengeknya teori teater.

Lebih-lebih lagi tarian sakral semisal ‘Sang Hyang Jaran’ atau “Sang Hyang Dedari” atau… atau… atau…

Ketika Rangda yang sakti habis berduel dengan Barong yang sakti pula, maka muncullah para pemain yang memerankan penduduk menyerang Rangda itu dengan keris dan ternyata sejumlah penonton dalam keadaan kesurupan ikut menyerangnya. Tentu saja perkelahian menjadi tambah seru. Keributan terjadi juga di antara para penonton yang kejatuhan salah seorang diantara sekian orang penonton yang kesurupan itu. Sementara pertempuran masih berlangsung, sementara yang lain mencoba menolong yang berkaparan. Akhirnya seluluh yang hadir main.

Begitulah, bahwasanya dengan jelas tidak saya penonton terlibat dengan pertunjukan tetapi lebih dari pada itu adalah ikut main.

Penonton sebagai pemain mungkin menguntungkan, mungkin merugikan, juga bisa jadi membahayakan. Ini semua tergantung dari daya jangkau penonton yang menganggap dirinya bagian dari naskah.
Penyerangan terhadap sebuah pertunjukan dapat dikoordinir oleh seorang sutradara pula. Dengan persiapan latihan yang tak kurang lamanya, dengan sejumlah pemain yang semarak jumlahnya, dengan mendalami naskah yang sedang dipentaskan oleh grup yang mau diserangnya, akan membuat pertunjukan menjadi berubah bentuknya.

Karena terjadi penyerangan tersebut, maka terjadilah perubahan dimensi dalam ruang dan waktu pertunjukan itu. Terjadinya inter-aksi antara dua buah “grup”, apalagi memiliki warna, watak dan kekhasan sendiri-sendiri, semuanya ini menarik untuk diperhitungkan.

Maka stage, sesuatu benda mati yang berkedip-kedip yang bersahabat dengan para manusia, mendadak menjadi terkejut sangat, bahwa dalam kesemrawutan adegan itu ternyata tak dapat dijumpai sebiji pun penonton. (***/gr)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here