KESAKSIAN BAWAH TANAH

Produksi ke-16:
Teater Sangkala
Judul:
Kesaksian Bawah Tanah
Karya:
Mohammad YDS
Sutradara:
Aprilif Firmanto
Astrada:
Ucup Waras
Artistik:
Amee, Hendri Batok, Muhammad Fauzi, Harry Kethut
Penata Lampu:
Amee
Penata Musik:
Hendri Batok, Oket Ridwan, Uwe
Penata Kostum:
Dita Destriani, Yanto
Make Up:
Dita Destriani, Wulan, Yanto
Penata Gerak:
Ade Lutfi
Para Pemain:
Dita Destriani, Agis Indra H, Ucup Waras , Azhar Buchori, Yudi, Idan, Asep, Deris, Mike, Astri, Resi, Lisna, Sri, Alvian Sinyo, Ridwan , Fahmi
Pimpinan Produksi:
Aprilif Firmanto
Administrasi:
Idan Dan Dita Destriani
Koord. Aktor:
Sri
Marketing:
Uwe, Azhar Buchori
Purchasing:
Oket Ridwan
Dokumentasi:
Anfau Ziah
Publikasi:
Ajay Petet
On The Spot:
Sopiandi Sauri, Bayu Maulana
Logistik:
Imam Mukadis
Transportasi:
Ridwan, Opik
Tempat Pementasan:
Gedung Dewan Kesenian Cianjur, Jl. Suroso 46, Cianjur
Waktu:
Tanggal 26 Dan 27 September 2014
Jam Pentas:
10.00, 13.30, Dan 15.30
Target Audience:
3.000 Penonton:
Segmen:
Pelajar, Mahasiswa, Umum
Harga Tiket:
Rp. 12.000,-
Contact Person:
0877 2029 5131
Email:
Aprillif@Gmail.Com
FB:
Teater Sangkala
Twitter:
@Teater_Sangkala

Cerita ini berawal dari tertangkapnya sembilan orang pejuang Islam oleh pihak Belanda, yakni Kyai Kanjeng Jafar As-Sidiq, Raden Mas Sugeng Karyowongso, Suryo Prayogo, Syarifudin, Nyi Mas Atikah, Nyi Aisyah, Raden Sri Ayu, dan Nyi Ajeng Maemunah. Mereka ditangkap oleh pihak Belanda karena mereka dituduh melawan terhadap Pemerintahan Belanda VOC pada saat itu. Mereka dituduh menyebarkan ajaran Islam kepada rakyat di wilayah Slarong, sehingga mereka ditangkap dan dipenjarakan di dalam Penjara Bawah Tanah, serta dituduh sebagai bagian dari barisan Kaum Pangeran Diponegoro.

Di dalam penjara bawah tanah mereka mengalami berbagai penindasan dan penyiksaan baik Fisik maupun Psikis. Mereka dipaksa untuk mengakui kesalahan yang sebenarnya mereka tidak lakukan serta mereka dipaksa untuk berhenti menyebarkan syi’ar dan meninggalkan ajaran Islam yang telah menjadi keyakinan mereka, namun jiwa kepatriotan mereka serta Keimanan dan ketaqwaan yang mereka miliki tak mematahkan setiap ancaman dan siksaan yang mereka alami, walau nyawa sebagai taruhannya.

Kecuali Sugeng, seorang murid tertua Jafar yang dipercaya akan melanjutkan perjuangan malah bersikap menjadi seorang pengkhianat, setelah beberapa hari mengalami penyiksaan Sugeng menyerah dan berkhianat serta mengakui kesediaanya untuk bergabung bersama pihak VOC dan menyatakan kemunafikannya terhadap Perjuangan yang selama ini mereka perjuangkan. Akhirnya satu persatu dari para pejuang yang tersisa pun gugur dibunuh oleh pihak Belanda dan Sugeng pun pada akhirnya mati di Tangan Mayor Van De Burst. (gr)

Foto Ilustrasi: Teater Sangkala

 

TINGGALKAN KOMENTAR