Membongkar Trauma Seks Dalam Keluarga
Dari Lampung Sampai ke Medan

Judul : ‘Cinta Dalam Toples’
Pentas: 22 Maret 2014
Tempat: Gedung Utama Taman Budaya Sumatera Utara, Jalan Perintis Kemerdekaan No.33 Medan
Pukul : 15.00 WIB (Pelajar) 19.30 WIB (Umum)
Harga Tiket: Rp10.000 (Pelajar) Rp20.000 (Umum)
Pesan Tiket: 0813 9681 3204 atau langsung ke Taman Budaya Sumut

Foto-foto: Teater Rumah Mata

Sigmund Freud (penganut teori psikoanalisis yang menghasilkan teori psikodinamik) berpandangan determinisme psikis; pandangan teori kepribadian yang berujar bahwa tingkah laku kita- normal atau abnormal- ditentukan oleh hasil dari proses-proses dinamik dan konflik-konflik intrapsikis, motivasi tak sadar dan pentingnya pengalaman masa kanak-kanak dalam membentuk kepribadian dan tingkah laku. Freud kemudian berujar bahwa gangguan-gangguan psikologis akibat dorongan-dorongan seksual telah tertanam sejak masa kanak-kanak.

cinta dalam toples1

Cinta Dalam Toples, karya dan sutradara: Agus Susilo mengurai permasalahan tersebut dan efek-efek yang ditimbulkan dalam sebuah keluarga di atas panggung. Panggung menjadi sarana meditasi kritis terhadap dinamika pembentukan kepribadian bocah perempuan di sebuah keluarga yang mengalami terror seks.

Teater Rumah Mata akan mementaskan Cinta Dalam Toples, karya dan Sutradara: Agus Susilo di Gedung Utama Taman Budaya Sumatera Utara, Jalan Perintis Kemerdekaan No. 33 Medan, Sabtu (22 Maret 2014) pukul 15.00 (Pelajar) dan 19.30 (Umum).

cinta dalam toples

Pementasan ini diselenggarakan setelah Teater Rumah Mata sukses mengikuti Festival Panggung Perempuan Kala Sumatera III yang diselenggarakan Teater Satu Lampung bekerjasama dengan Hivos di Taman Budaya Lampung. Pada event ini Cinta Dalam Toples, karya: Agus Susilo disutradari Sidaratul Muntaha. Festival Panggung Perempuan Kala Sumatera III merupakan program lanjutan dari Kala Sumatera I (2008/2009) dan Kala Sumatera II (2011/2012). Program ini adalah upaya kreatif pemberdayaan kelompok-kelompok dan seniman teater di Sumatera dengan menitikberatkan pada pembongkaran wacana peran seniman teater perempuan dalam suatu komunitas.

cinta dalam toples4

Upaya kreatif ini bertujuan membuka akses informasi, peningkatan pengetahuan dan keterampilan, dan kesempatan untuk maju dan berkembang bagi seniman dan kelompok-kelompok teater di Sumatera baik dalam persepektif gender maupun artistik dan organisasi. Sehingga secara kualitatif memiliki kesetaraan dengan seniman dan organisasi serupa yang telah lebih dahulu berhasil mengembangkan diri di lingkup nasional juga global.

Untuk penampilan di Taman Budaya Sumatera Utara kami mengambil moment Bulan Teater Internasional yang jatuh pada Maret. Hajatan ini kami selenggarakan untuk menunjukkan capaian kualitas artistik dan dinamika teater di Sumatera Utara ke hadapan publik, khususnya kepada kalangan pencinta teater. Peta Teater di Sumatera Utara sangat potensial dan perlu menjadi salah satu rujukan dalam perbincangan teater di Indonesia, maka perlu diberi ruang kreatifitas lebih besar dan terbuka untuk menghadirkan potensi kualitas artistik yang berstandard nasional.

cinta dalam toples2

Seperti yang pernah diungkapkan para pengamat Festival Panggung Perempuan Kala Sumatera III di Taman Budaya Lampung (Tony Broer; Teater Payung Hitam, Yani Mae; STSI Bandung, Iswadi Pratama; Teater Satu Lampung) setelah menonton pementasan Cinta Dalam Toples mereka sepakat mengungkapkan capaian kualitas pertunjukan Teater Rumah Mata sebagai perwakilan dari Medan menjadi simbol bahwa perkembangan teater di Sumatera Utara dapat menjadi barometer bagi perkembangan teater di Sumatera. Pertunjukan yang berlangsung 90 menit itu berhasil menghipnotis penonton untuk mencincang kebobrokan psikis manusia modern dengan segala ketimpangan tingkah laku seksualnya. Penonton dihujam terapi psikis hingga di akhir pertunjukan mereka mengalami katarsis.

cinta dalam toples3

‘Cinta Dalam Toples’ karya dan sutradara: Agus Susilo menceritakan tentang kehidupan Yani yang dihabisi kenangan-kenangannya bersama sang papa. Semua kenangan itu tersimpan di dalam toples. Praktek insect di rumah memerangkap Yani dalam suasana trauma dan depresi yang akut. Kemudian Harry (saudara kandung Yani) menjadikan Yani sebagai pelampiasan syahwat. Penderitaan semakin tenggelam di dasar toples ketika mama hendak menikahkan Yani dengan seluruh lelaki simpanannya. Yani menggeliat-geliat dalam kubangan kenangan-kenangan yang semakin menghimpitnya di dalam toples. Di titik nadir itu, Yani melakukan perlawanan.(Agus Susilo/gardo)

 

TINGGALKAN KOMENTAR