SEMARANG – Sambut ulang tahun Teater Lingkar Semarang ke-38, sutradara Edy Morphin akan mementaskan ‘Juru Kunci’ karya Prie GS yang direncanakan digelar di Auditorium RRI Semarang, pada bulan Juli 2018 mendatang.

Pimpinan Produksi pementasan ‘Juru Kunci’ Yaya Lingkar mengatakan saat ini sedang dalam proses latihan.

“Saat ini masih dalam proses latihan. Baik dialog, blocking maupun latihan ilustrasi musiknya, ” kata Yaya Lingkar, Sabtu (7/4/2018).

Kisah ‘Juru Kunci’ mengangkat tentang kecenderungan manusia yang mulai berkiblat dengan kekuatan supranatural.
Segala cara ditempuh. Mereka dengan polahnya yang unik sowan kepada sang juru kunci makam keramat. Tujuannya untuk mendapatkan apa yang di harapkan.
Apa yang terjadi? Maka, sesuatu yang tak terduga terjadilah.

Teater Lingkar merupakan salah satu pioner berdirinya teater-teater lain di Kota Semarang dan sekitarnya melalui spirit yang selalu ditularkan melalui pergaulan kesenian dan pertunjukan-pertunjukan.

Kelompok ini bermarkas di Jalan Gemah Jaya I No 1 Pedurungan Kidul, Kota Semarang. Pada awal berdirinya, teater Lingkar merupakan prakarsa sekelompok anak muda di jalan Genuk Krajan II No 9 (sekitar Taman Singosari, jalan Sriwijaya).

Dulunya tempat tersebut merupakan terminal bus yang berdekatan dengan Taman Hiburan Rakyat (THR) Tegal Wareng. Sebagai tempat keramaian dengan beragam aktivitas, daerah ini sangat potensial menjadi tempat rawan pada hal-hal negatif. Oleh karena itu kelompok pemuda yang biasa mangkal di sana berusaha menciptakan suatu aktivitas positif dan bermanfaat. Berkat kegigihan usaha, akhirnya membuahkan hasil dan terbentuklah Teater Lingkar.

Nama Teater Lingkar sendiri sarat dengan nilai-nilai filosofis yang menjadi dasar setiap anggotanya yaitu “Lingkar mempunyai satu titik pusat dengan jari-jari yang panjang” yang dapat dijabarkan bahwa semua anggota mempunyai tujuan yang sama dengan hak serta kewajiban yang sama yaitu menjaga estetika.

Sedangkan nilai filosofi yang tertera dalam logo Teater Lingkar yang bertuliskan itu adalah: gambar kaki tangan sebagai simbol laku/kerja, gitar simbol rasa. Jadi, dengan slogan “Teteg, tekun, teken, tekan” diharapkan agar para anggota Teater Lingkar senantiasa berada dalam setiap laku harus dengan rasa, “aja rumangsa bisa, nainging bisaa rumangsa”. (a2k/gr)

TINGGALKAN KOMENTAR