merah teater.indd

Judul:
‘Pagi Bening di Stasiun’
Naskah:
Serafin dan Joaquin Alvares Quintero
Terjemahan:
Sapardi Joko Damono
Pemain:
S Affair (Guntur)
Katerina Lie Rahel Pranoto (Larasati)
Anggi Cibi (Pitri)
Hery Saragih (Jono).
Sutradara:
Haryanto SE
Pimpinan Produksi:
Lina Suhesti
Stage Manager:
Buyung Mentari
Set Builder:
Aa One, dkk
Penata Musik:
Rudi Ortung
Penata Make Up:
Atta Salon
Penata Busana:
Steven Zhou)
Penata Panggung:
Zainuddin Mendit
Backing vokal:
Olil Buntil&Laksmi Ocha Purwati
Tempat:
AuditoriumGelanggang Remaja Grogol, Jakarta Barat
Waktu:
Rabu, 3 September 2014
Pukul:
16. 00 WIB

[dropcap color=”#888″ type=”square”]E[/dropcap]ksplorasi tak Berlebihan dengan Setting 60an. Itulah yang akan ditampilkan sutradara Haryanto SE. Sebab katanya, seperti dalam kebiasaannya, ia dalam menyutradarai memakai pendekatan tTekstual, kontekstual, dan aktual.

“Saya tak ingin berteori, maka dalam naskah ini saya pilih pendekatan aktual. Atau meminjam istilah tren yang dipopulerkan Diyanto adalah Alih Konteks. Pendekatan hasil eksplorasi ini berupa mengaktualkan bentuk pertunjukkan pada falsafah Jawa yang melegenda berbunyi witing trisno jalarane seko kulino,” katanya kepada Gapuranews.com.

Heryanto pun memaparkan, bahwa tumbuhnya benih-benih cinta atau rasa naksir karena seringnya bertemu di satu tempat yang itu-itu saja. Bisa stasiun kereta, halte, kantor, dan tempat2 lainnya. Apakah lantas cinta itu mewujud dalam mahligai rumah tangga. Bisa saja kalo masing-masing belum menikah.

“Atau bisa saja itu terjadi kalau itu di luar bentuk cerita atau pertunjukkan. Karena namanya cerita harus jadi teladan. Nah, karena di tokoh ini sudah masing2 menikah, maka tidak dipastikan mereka menikah. Itu tergantung lagi pada pertemuan-pertemuan berikutnya,” paparnya.

“Adanya falsafah Jawa ini memaksa saya harus merubah setting cerita terjadi di Indonesia. Begitu pun bentuk pertunjukkannya terjadi di stasiun kereta api yang ada di Indonesia dari pada mempertahankan set taman seperti aslinya pada taman. Walaupun taman masuk sebagai tempat yang bisa memperemukan jodoh, tapi pilihan stasiun lebih kuat,” ulasnya.

Semua eksplorasi ini pun tidak over sehingga tetap terlihat apa adanya yang memperkuat peristiwanya yang terbukti menjalin komunikasi dg penontonya. “Saya menghindari eksplorasi berlebihan yang malah bisa membunuh kekuatan gagasan atau ide. Ambil contoh kami mengeksplorasi orang minum obat pasti ada masa untuk reaksinya obat. Ini saya isi dengan bentuk pertunjukkan trsendiri semacam video klip, tp ceritanya jang tentang ‘witing trisna jalarane seko kulino’. Ada juga temuan tujuan bepergian tokoh kakek yang pemburu, dihadirkan senapan buru. Jadi semua ikon-ikon ini bukan elemen over yang dibuat-buat, tapi jadi elemen penguat tersendiri,” tutupnya.

SINOPSIS

Sepasang orangtua yang pernah saling menyintai lama tak jumpa lagi. Keduanya pun sudah saling menikah. Ini yang membuat keduanya masing lupa dan saling tak mengenal saat perjumpaan mereka lagi. Apalagi ditambah usia tua memang biasa membuat orang jadi pelupa. Tapi karena sering bertemu di stasiun kereta api untuk berpergian dengan tujuan masing-masing, akhirnya mulai menumbuhkan daya ingat keduanya.

Utamanya dari ciri-ciri masing-masing. Seperti tokoh GUNTUR yang sombong, tak tahu sopan santun dan kasar, ini semua menjadi penanda bagi LARASATI mengingat bahwa sebenarnya GUNTUR adalah kekasihnya dulu. Begitu pun GUNTUR mendapat tanda-tanda untuk ingat kembali bahwa perempuan tua yang sering ditemuinya adalah LARASATI, seperti dari puisi-puisi yang dimiliki GUNTUR. Keduanya makin ingat ketika apa yang diceritakan sama persis yang dialaminya.

Tapi rupanya ego dan kesombongan masing-masing membuat keduanya bertahan untuk tidak mau mengakui siapa dirinya masing-masing. Tapi ini sebenarnya juga untuk menjaga keutuhan rumah tangga masing-masing yang sudah dibangun. Sehingga keduanya pasrah dengan membiarkan,itu cukup jadi kenangan kisah masa lalu mereka berdua. (ers/gardo)

 

TINGGALKAN KOMENTAR