Behind The Masks poster

TEATER Keliling akan mentaskan ‘Behind The Masks’ Karya dan sutradara Rudolf Puspa dan Dolfry Inda Suri di Jerman pada 28 Oktober 2015 di Das Internasionale Theater Frankfurt atas sponsor Goerthe Universitat Frankfurt Am Naim. Selain itu, di Berlin akan mengadakan workshop untuk pemain teater di aula KBRI Berlin tanggal 30 Oktober 2015 dan tanggal 31 Oktober2015 pentas di Berlin. Sponsor utama adalah KBRI Berlin dan PPI.

Behind The Masks  poster
Behind The Masks poster

Mentasnya Teater Keliling diawali tahun 2012 Heiner Walenda seorang mahasiswa dari Goethe Universitas Frankfur Am Main datang ke Indonesia untuk menulis skripsi bagi S2nya. Ia meneliti teater Inddonesia dan teater keliling mejadi nara sumber utamanya. Iapun ikut keliling dan berhasl menyelesaikan gelar S2 nya.

Kemudian tahun 2014 datang lagi untuk menyiapkan penelitian bagi S3 nya dan teta- teater keliling jadi nara sumber. Ia pun ikut keliling ke Sumatera selama dua minggu. Dari sanalah terbetik keinginnya membawa teater keliling pentas di Jerman karena banyak bentuk ciptaan teater keliling yang tidak ada di jerman. Terutama gaya teater keliling yang menjadikan penonton aktif. Bahkan selalu ada saja yang naik panggung dan ambil peran. Profesornya mendukung gagasan Heiner dan segera persiuapanpun dilakukan agar tahun 2015 bisa teraksana.

Pertunjukkan Behind The Masks memang diciptakan dengan bentuk non verbal. Namun bukan bisu. Tetap bicara namun tanpa kata-kata. Satu situasi batinm dan pikirna manusia dimana kata-kata sudha tak mampu mendukung sehingga yang muncul bahasa gerak, bunyi dari pemain dibantu tata musik yang mendukung.

Pada tur ke Jerman init Teater Keliling membawa 12 aktor dan aktris diantaranya, Ir.Dery Syrna, Dolfry, Dina Amalina, Fabiola, Aditya, Hidayat, Renno, Azis Suprianto.

Teater keliling yang kini sudah menjadi sebuah yayasan yang bernama Yayasan teater keliling yang didirikan oleh Dery syrna, Sumanggar Sihombing, Dwi, Titik Selang, Aditya dan Jajang C Noer.

Mereka menjadi orang-orang yang sangat bertanggung jawab dan memang sejak awal sudah memilih teater keliling karena adanya kesamaan sikap yakni melalui teater berusaha mendidik karakter bangsa. Unsur pendidikan karakter inilah yang mempersatukan para pendiri yayasan teater keliling.

Di Jerman akan pentas tanggl 28 Oktober di Das Internasionale Theater Frankfurt atas sponsor Goerthe Universitat Frankfurt Am Naim. Kemudian di Berlin akan mengadakan workshop untuk pemain teater di aula KBRI Berlin tanggal 30 Oktober dan tanggal 31 Oktober pentas di Berlin. Sponsor utama adalah KBRI Berlin dan PPI.

Selebihnya waktu akan dipakai untuk melihat teater di Jerman dan berusaha berdialog dengan pekerja teater.

BEHIND THE MASKS

Lahir telanjang ke dunia dan kemudian membesar dan pengaruh l8intgkungan atau kekuatan2 lain menumbuhkan karakter yang bermacam-macam. Ada dua kekuatan karakter yag sangat enonjol yang muncul dimana-mana dan menghasilkan pertikaian tiada hentinya. Sifat keras dan percaya diri sebagai manusia super hebat, perkasa sehingga selalu mau tampil dan menguasai segalanya. Yang lainnya sifat yang selalu pesimis, menganggap segala yang ada akan menjqadikan dirinya serba susah, menderita sehingga hanya menumbuhkan sifat selalu menghindar hingga mudah menangis.

Latihan 'Behind The Masks'  di alam (teater keliling)
Latihan ‘Behind The Masks’ di alam (teater keliling)

Kertika mereka bertemu tentu segera timbul pertikaian yang tidak seimbang. Yang satu ingin terjadi adu kekuatan fisik sementara yang lain lebih mencari jalan damai dan berusaha menghindar dengan cara mengalah. Namun si yang merasa super kuasa tentu tidak puas dnegan cara seperti ini. Tetap bersikeras harus ada perkelahian.

Suasana kehidupan yang manusiawi muncul yakni lapar dahaga dan kelelahan hingga 8ngin tidur setelah makan kenyang. Si perkasa mengigau dan terbangun dalam kekesalan kenapa harus terjadi pertikaian yang tidak selesai. Sementara si pesimistik tetap saja tak menggubris selain selalu dalam bayang ketakutan akan perkelahian. Adu mulut tak terhindarkan bahkan hingga memuncak sang perkasa untuk meminta lawannya meladeninya. Si pesimistik mencoba lari menghindaer namun ditarik tangannya oleh si perkasa. Tanpa terduga ada sesuatu yang terjadi ketika mereka berpegangan tangan. Ada gairah lain yang timbul dalam diri mereka. Si perkasa tentu saja lebih agresif sifatnya untuk semakin menjadi-jadi memegangi tubuh lawannya. Keduanya hanyut terbawa arus perasaan yang belum pernah mereka rasakan selama ini.

Mereka pun terjalin dalam suasana romantic yang semakin membesar sehingga keduanya sukar untuk menolaknya. Keduanya dnegan susah patyah mencari kata yag tepat untuk mengucapkan apa yang dinamakan “cinta”. Dan ketika berhasl maka merekapun sangat menikmati dan berpelukan erat sekali. Tanpa mereka sadar sahabatnya terbangun dan begitu marah besar mengira temannya sedang disakiti sehingga ia akan membelanya. Namun dihalangi dan tetap menol;ak tak paham dengan penjelasan si perrkasa. Akhirnya dimabil tombaknya dan akan dihnjamkan ke lawannya namun si perrkasa menghalangi sehingga justru dia yang terkena hingga meninggal.

Saat latihan 'Behind The Masks'  (teater keliling)
Saat latihan ‘Behind The Masks’ (teater keliling)

Dalam keadaan sedih seperti ini muncul si ‘raksasa’ global yang benci dnegan suasana cinta. Ia tak percaya cinta karena menurutnya hanya menghasilkan penderitaan belaka. Ia berusaha kembali mempengaruhi mereka dank arena kekuatan yang dimiliki sangat dahsyat maka semua mereka kembali ke karakter aslinya dan kekerasan pun kembali muncul. Sang elang ganas inipun sangat suka cita hingga ketika muncul kekuatan sang cinta yang menebaran benih kasih ternyata sagat kuat sehingga menyiksanya. Suasana aksi tumbuh membesar sehingga nyanyi tari berlimpah dan memenuhi seluruh ruang kehidupan.

Ketika sang perkasa memilih bergandengan dengan lelaki yang juga tampak menyayagi maka yang lain menolak dan berusaha melepaskan mereka dan kembali kepada mereka. Maka tak ayal lagi kembali timbul kekerasan saling ingin menguasai. Inilah kenyataan yang hampir-hampir tak pernah terslesaikan dan pertanyaannya apakah “Cinta” sudah semakin menjauh atau dijauhkan atau tak ada lagi dalam diri mausia??

Semua kita tentu memiliki jawaban masing-masing. (gr)

SUPERVISI:
Dery Syrna
PIMPINAN:
Dolfry Inda Suri
SUTRADARA:
Rudolf Puspa
ART DIRECTOR:
Azis Suprianto
MUSIK:
Retno Kiragah
ARTIS:
Dery
Dina Amalina
Fabiola Sanasya
Aditya Jaya
Abdurrahman Hidayat
Alexandria Kahagani

TINGGALKAN KOMENTAR