Pementasan “Tangis” oleh taeter Gandrik
Sebuah pementasan apik ditampilkan para pemain Teater Gandrik di Taman Budaya Yogyakarta, pada Rabu (11/2/2015) malam. Pementasan yang memilih lakon berjudul  ‘Tangis’ tersebut ditampilkan dengan jenaka namun berakhir dengan haru-biru manakala sebuah perusahaan ‘runtuh’ akibat ulah orang-orang yang berambisi berebut kekuasaan.

Dalam pentas garapan Djaduk Ferianto ini dikisahkan, bahwa juragan Abiyoso semula hidup bahagia bersama istri dan anaknya, yakni Pangajab. Dia yang dikenal sebagai pemilik pabrik batik itu menjalankan usahanya seperti biasa dibantu para karyawannya.

Lambat laun, hari berganti hari tahun berganti tahun, usaha batik yang dirintis juragan Abiyoso berkembang pesat. Saat itu, dia mempercayai kelangsungan bisnisnya kepada Kang Mas Muspro, sahabat lamanya.

Namun, bisnis batik milik si-juragan tiba-tiba goyah tatkala Kang Mas Muspro yang dipercaya mengelola bagian produksi dan pemasaran, ternyata ketiban apes. Dia tertipu janji palsu seorang pelanggannya.

Pelanggannya, awalnya memesan banyak baju batik buat kampanye partai politik. Tapi karena kalah pemilu, janji tinggal janji. Yang ada justru Kang Mas Muspro malah menanggung kerugian akibat kain yang menumpuk sia-sia di pabrik juragan Abiyoso.

Kang Mas Muspro pun dituding menjadi biang kehancuran pabrik batik Abiyoso. Stres dan banyak pikiran, membuat kondisi Kang Mas Muspro mulai sakit-sakitan bahkan tak lama kemudian meninggal dunia. Sementara juragan Abiyoso mulai berpikir memilih penerusnya.

Di balik semua masalah tersebut, juragan Abiyoso tiba-tiba diingatkan kisah masa lalunya. Bu Muspro, istri almarhum Kang Mas Muspro datang kepada Pak Abiyoso lalu bilang, mendiang suaminya punya jasa besar saat masih berjuang menumpas penjajah.

Karena hal itu, Bu Muspro pun mendesak agar putranya, Prasojo diangkat menjadi kepala pabrik untuk membantu bisnis batik Abiyoso. Di sisi lain, istri juragan Abiyoso juga ingin anaknya, Pangajab menduduki jabatan tinggi di pabrik suaminya.

Kisah dalam lakon ‘Tangis’ menjadi antiklimaks ketika Pangajab dan Prasojo berebut kekuasaan di dalam perusahaan juragan Abiyoso. Pangajab berkonspirasi menjatuhkan Prasojo tapi malah dia sendiri yang jatuh, karena membunuh Siwuh, mandor pabrik dan akhirnya dipenjara. Sementara Prasojo memilih kabur lantaran tak tahan dengan carut-marutnya pabrik.

Acara pementasan Teater Gandrik di Taman Budaya ini masih berlanjut pada hari ini, Kamis (12/2/2015) dan dilanjutkan pada 20-21 Februari mendatang di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.  (sumber: Sorotjogja.com/gr)

Foto ilustrasi (ist)

 

TINGGALKAN KOMENTAR