Teater Gabungan Yogyakarta posterTEATER     Gabungan Yogyakarta  kembali naik panggung. Kali ini reportoar yang diangkat bertajuk ‘Musik Mantra 2’  karya Joko Santosa. Acara digelar pada  Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM Yogya, Selasa (31/3/2015) pukul 19.30 WIB.

‘Musik Mantra 2’  digarap oleh sutradara oleh  Daru Maheldaswara. Dengan penata musik Pardiman Djoyonegoro dan penata tari Gita Gilang.

“Musik Mantra 2 merupakan kelanjutan dari pentas Musik Mantra yang digelar tahun 1993,” kata  pimpinan produksi Ancu Murdaru.

Sedikitnya 55 aktor dan aktris teater terlibat.  Sebagai  bintang tamu akan tampil Ni Putu Putri Suastini, pembaca puisi andal dari Bali. Pentas ini juga didukung sejumlah model Yogya, seperti Septi Indria, Anis Laishy, Anjani Citrafsiser, Dewi Retno Wati, dan Puput Wahyu Wigati. Ditambah 15 penari Sanggar Seni Gita Gilang, juga musisi dan penyanyi Acapella Mataraman,” kata Ancu .

KEHIDUPAN MANUSIA

Proses kehidupan manusia dari belum ada hingga meninggal. Dalam konvensi kehidupan Jawa, kadang mantra digunakan sebagai penguat upacara penanda siklus manusia. Lewat pentas ini, ditampilkan proses kehidupan manusia yang melibatkan mantra, dari Maskumbang (saat lahir), Asmaradana, Mijhil, Gambuh, Durma, Megatruh, Pucung (dipocong saat meninggal), hingga kembali ke Maskumambang.

“Tiap jenjang siklus kehidupan manusia, oleh bangsa Indonesia di masa lalu, khususnya masyarakat Jawa, ditandai dengan upacara sambil membaca mantra atau doa agar tiap siklus kehidupan bisa dilalui dengan baik, bahagia dan sejahtera,” kata Daru Maheldaswara, sutradara.

“Mantra tidak berhenti pada kata, tidak mandeg pada frasa, selebihnya rapal juga nada, suara, irama, bahkan diam, sekaligus unsur ketidaksadaran, suatu ungkapan yang tersusun dari dorongan naluri. Mantra bukan sekadar proses simbolik, juga semiotik. Pada akhirnya, Musik Mantra 2 adalah liberating arts, krida seni yang membebaskan musik dari bunyi, dan tari dari gerak,” kata Joko Santosa, inisiator sekaligus penulis naskah.

Ni Putu Putri Suastini mengaku bangga bisa terlibat di acara ini. “Bisa bekerjasama dengan seniman-seniman Yogya, kehormatan bagi saya,” terang Putri. Acara ini terbuka untuk umum, gratis dan disediakan ratusan doorprize bagi penonton, seperti buku, payung, jam dinding, mug, dan lainnya. (gr)

Teks foto ilustrasi (ist)

 

TINGGALKAN KOMENTAR