Foto ilustrasi: Istano Basa Pagaruyung. (ist)

SUMATERA Barat ingin seperti Lombok, yakni membangun destinasi halal. Sebab, dengan ikhlas dan penuh spirit optimisme, seluruh “CEO”, dari Gubernur, dan 19 Bupati-Walikota yang mengikuti Rapat Koordinasi se Sumatera Barat itu sepakat pariwisata menjadi sektor prioritas. Positioning provinsi ini adalah wisata halal dan destination halal.

Foto ilustrasi: Istano Basa Pagaruyung. (ist)
Foto ilustrasi: Istano Basa Pagaruyung. (ist)

Keputusan bulat dan aklamasi itu betul-betul menjadi tonggak, membangun Sumbar sebagai kawasan halal tourism, sama dengan branding yang sedang dibangun di Lombok dan Nangroe Aceh Darussalam (NAD).

“Kami sepakat pariwisata menjadi leading sector, karena itu kami ingin belajar banyak mengembangkan potensi yang sangat kaya di Sumbar,” ucap Gubernur Sumbar Irwan yang didampingi Wagub.

Hal ini tak lain, karena i presentasi Menpar Arief Yahya di depan Forum Pemred Riau Pos Group di seminar sebelum Rakor itu dilangsungkan. Apa yang membuat seluruh stakeholder Sumbar jatuh cinta dengan pariwisata? Padahal sebelumnya penuh keraguan, sarat tanda tanya, dan tak ada yang bisa menjawab? Betulkan “pariwisata” penyelamat Sumbar dari problem ekonomi?

Pertama, melihat prospek ke depan, membandingkan portofolio bisnis pariwisata dengan sektor lain, dan meyakini proyeksi bidang pariwisata yang akan semakin melejit. “Lihat oil and gas, tahun 2013: USD 32,6M. Tahun 2014: USD 30M, tahun 2015: USD 18,9M. Lihat juga batubara atau coal, 2013: USD 24M, tahun 2014: USD 20, tahun 2015: USD 16M. Bandingkan dengan pariwisata, tahun 2013: USD 10M, tahun 2014: USD 11 M dan 2015: USD 11,6M. Hanya pariwisata yang trend nya naik,” kata Arief Yanya.

Pria berdarah Banyuwangi-Banten ini pun membuatkan contoh yang konkret, bahwa proyeksi itu lebih penting dari performance. Kalau memilih mantu, mau seorang satpam yang bergani 5 juta, punya tabungan 80 juta? Atau mahasiswa Teknik Elektro ITB, yang setiap akhir bulan sudah mulai ngebon? “Kalau berpikir proyeksi, pasti ambil mahasiswa ITB! karena ke depan pendapatannya bisa jauh lebih besar dibandingkan seorang satpam.

Arief juga menjelaskan soal Gelombang Revolusi karya Alvin Toffler. Level pertama revolusi pertanian atau agriculture, lalu level berikutnya masuk ke revolusi industri atau manufacturing. Terakhir level revolusi teknologi informasi, yang terjadi sekarang ini. “Kita sudah akan meninggalkan revolusi TI, dan masuk ke cultural industry atau creative industry. Pariwisata itu industri di level empat itu, industri yang akan hidup dan berkembang di masa depan,” ujar Arief Yahya yang pakar membuat portofolio bisnis itu.

Dari peta itu, apakah Sumber masih akan memilih portofolio bisnis di pertanian dan perikanan? Memformat rakyatnya menjadi petani dan nelayan? Yang sudah pasti akan menempati posisi paling bawah? “Pariwisata adalah cara yang paling cepat, mudah dan murah untuk memajukan masyarakat,” kata Arief yang mengingatkan para CEO agar jangan salah menetapkan arah kebijakan.

Sekali salah memilih portofolio bisnis, dosanya lama ditanggung oleh masuarakat dan akan menjadi beban yang tak mudah menyelesaikannya. “Saya selalu menggunakan data dan angka. Jadi kalau mau berdebat silakan gunakan data yang lebih valid. Saya juga selalu menggunakan global standart, World Economic Forum, World Tour and Travel Competitiveness Index, UN-WTO. Dan saya selalu benchmark, membandingkan dengan pesaing, membandingkan dengan kisah sukses di tempat lain.” Katanya. (gr)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here