Suherlinda
Suherlinda

Oleh: Suherlinda

[dropcap color=”#888″ type=”square”]B[/dropcap]erawal dari pengalaman yang tak seberapa. aku memberanikan diri untuk mengikuti sebuah wadah kepenulisan, yang siap menampungku tuk menjadi penulis hebat dan handal. aku sadar banyak liku-liku kehidupanku yang sulit terlampaui, tuk menciptakan sebuah karya besar. aku mengalami jatuh bangun dalam berkarya. namun semangatku tak henti-hentinya menyerah. ini semua demi harapanku sejak lama. kini aku berani menerobos dunia sastra.”

Sebelumnya aku ingin mengucapkan terima kasih kepada Allah SWT, yang telah memberikan aku kesehatan dan keselamatan, hingga aku bisa menciptakan sebuah antalogi puisi yang berjudul “SELEMBAR DAUN HIJAU”. Dan aku pun ingin berterima kasih kepada kedua orang tuaku yaitu Almarhum papa Suriono Bin Waris dan Mama Yuni Andriyani beserta Adikku Dicky Mulya. Mereka selalu memberi semangat yang tak henti-hentinya untuk pembuatan antalogi puisiku. Banyak rintangan dan hambatan dalam pembuatan buku ini selama sebulan terakhir. Namun, karena izin Allah buku ini akan siap di terbitkan. Ini adalah impian dan cita-citaku sejak lama. Aku sadar, bahwa aku masih memiliki banyak kekurangan dalam menulis puisi. Aku juga harus belajar terus menerus untuk menjadi penyair hebat sampai ke mancanegara, itu adalah salah satu impianku. Ketahuilah bahwa, proses yang membuatku seperti ini yang tak pernah menyerah dalam berkarya. Meskipun karya itu tak memiliki nilai berarti, tapi aku tetap menyimpannya dengan rapi. Namun, karena proseslah aku bisa menjadi seperti sekarang dan memberanikan diri untuk membuat Antalogi Puisi Tunggal. Aku berpengang teguh pada 3M yaitu menulis, menulis, dan menulis di mana pun aku berada. Karena dengan menulis aku mampu menuangkan semua ide-ide yang ada didalam benakku. Di mana pun aku berada aku tetap membawa buku catatan kosong dan pena untuk menulis puisi. Karena itu, bukan menjadi suatu hambatan untukku. Banyak penulis muda yang memiliki bakat yang luar biasa, tapi mereka enggan dalam menyalurkan hobinya di bidang sastra, karena kurangnya motivasi pada diri mereka.

Dalam Antalogi puisi yang aku buat, aku sadar masih banyak yang harus di perbaiki dan di coret-coret ulang kembali kata-katanya atau diksinya. Karena puisi yang aku buat belumlah sempurna tanpa koreksi kalian semua. Aku butuh komentar tentang puisiku ini. Biar aku bisa menjadi seorang penyair yang hebat dan tak mengulangi kesalahanku yang sekian kalinya. Mungkin banyak puisiku yang belum kawin kata-katanya atau masih sekadar biasa saja maknanya. Puisi yang ada di Antalogiku ini hampir separuh puisinya di muat di media massa yaitu Koran Harian Analisa, Harian Medan Bisnis, dan Harian Waspada. Tapi, tanpa komentar kalian semua, puisiku tidak memiliki nilai apa-apa, biasa saja, ataupun hambar yang kurang garam. Aku tak ingin di cap sebagai penulis yang takut karyanya untuk di komentari. Maka dari itu aku butuh komentar kalian semua tentang puisiku ini.

Kepada wadah kepenulisanku yaitu KOMPAK (KOMUNITAS PENULIS ANAK KAMPUS) yang hingga saat ini menerimaku sebagai penulis muda yang belum banyak mengetahui dunia sastra ataupun masih banyak belajar lagi. Aku ingin berterima kasih kepada kalian semua yang telah memberi semangat kepadaku, sehingga aku bisa menjadi penulis sampai sekarang ini. Yang pertama kuucapkan terima kasih kepada Pembina KOMPAK yaitu Abangda Afrion yang tak henti-hentinya menyuruhku untuk terus menulis, membuat puisi, dan terus berkarya. Abangda Afrion juga banyak berjasa dalam karyaku dan selalu memberi nasihat yang luar biasa untuk membangun semangatku dalam berkarya sastra. Kemudian aku juga ingin berterima kasih kepada keluarga KOMPAK yaitu Abangda Rudi Saragih, Abangda Dani Sukma AS, Kakanda Ria Ristiana Dewi, Kakanda Febri Mira Rizki, Kakanda Ratna Sari Mandefa, Kakanda Winda Prihartini, Nia Lestari, dan Farida Sundari yang tak pernah lelah mengajariku dalam berkarya sastra. Buat kekasih hatiku yaitu Abangda Hardi Prayetno terima kasih juga atas semangatnya dan dukungannya selama ini, tanpa semangatmu aku tak akan mampu menyelesaikan buku ini. Kepada Bapak Yulhasni (Dosen Sastra Indonesia FKIP-UMSU), Bapak Furgon Bunyamin Husein (Pemimpin Umum Radar Indonesia News www.radar-indo.com), dan Abangda M. Raudah Jambak (Direktur Komunitas Home Poetry) terima kasih telah berkenan memberi komentarnya tentang puisi saya ini.

Aku berharap dengan adanya buku antalogi puisiku ini yang berjudul “SELEMBAR DAUN HIJAU”. Dapat di terima baik oleh masyarakat banyak dan di nikmati karya-karyaku oleh mereka. Ini adalah suatu kehormatan untukku bisa membuat antalogi puisi yang berguna bagi nusa dan bangsa. Aku percaya Tuhan selalu ada bersamaku dalam setiap langkah kakiku. Aku ingin memberi semangat dan motivasi kepada pembaca bukuku, janganlah sampai kalian menyerah dalam berkarya. Teruskan perjuangan kalian sampai kemenangan di depan mata. Hingga kesuksesan dapat kalian raih dengan mudahnya.

Jauh sudah kumelangkahkan kaki untuk mencari jati diri, berpengang teguh pada bilahi. dengan kisah hidup yang penuh arti. kutitipkan impian dan cita-citaku di selembar daun hijau ini, tuk mewujudkan kebahagiaan hati, tanpa tersadari banyak liku-liku kehidupan menerpa diri. hingga kubertahan dalam mimpi. tuk menciptakan sebuah karya bakti. sempat kulemah tak berarti. dalam bait-bait kata terakhir. namun semangatku tak jua berhenti sampai di sini. karena penyemangat jiwa telah hadir bersama mimpi. akhirnya aku pun membuktikan pada diri, bahwa aku sebagai penulis pemula, bisa menciptakan sebuah karya yang maha indah. (gardo)

 

TINGGALKAN KOMENTAR