Ilustrasi logo SPS (ist)

STUDIO Pertunjukan Sastra (SPS) bekerjasama dengan Taman Budaya Yogyakarta (TBY) menggelar acara HARI BERSASTRA YOGYA, memaknai 15 tahun perjalanan Studio Pertunjukan Sastra (SPS) dan 10 gelaran Bincang-bincang Sastra (BBS).

Ilustrasi logo SPS (ist)
Ilustrasi logo SPS (ist)

Acara ini digelar pada Sabtu, (31/10/2015) di TAMAN BUDAYA YOGYAKARTA pukul 09.00- 23.00 WIB.

Dalam acara tersebut digelar acara satu hari membincangkan sastra Yogyakarta masa yang telah lalu dan masa yang akan datang. Dimulai pukul 09.00 di Ruang Kaca TBY, diselenggarakan Bincang-bincang Sastra dengan tema “Kenapa Sastra Dipanggungkan?” Dalam kesempatan ini SPS menghadirkan pembicara Hamdy Salad dan Hasta Indriyana, dipandu oleh Shohifur Ridho Ilahi.

Malam harinya, dimulai pukul 19.00 akan digelar acara “Pergelaran Sastra Karya Leluhur” yang akan menampilkan perunjukan Musik Puisi oleh Sanggar Pamong, Pembacaan Drama naskah “Sang Pelacur atawa Malam Penantian” karya Pedro Sudjono (alm.) oleh Sanggar 28 Terkam, dan Pembacaan Cerpen “Di Sebuah Perbatasan” karya A. Adjib Hamzah (alm.) oleh Roci Marciano. Selesai pergelaran sastra, akan digelar acara Bincang-bincang Sastra “Peluncuran Buku Antologi Karya Leluhur Sastra Indonesia II, Astana Kastawa” yang diterbitkan atas kerja sama antara SPS dengan Balai Bahasa DIY dengan pembicara Dr. Tirto Suwondo (Kepala Balai Bahasa DIY), Sri Wintala Achmad (Sastrawan), dan Azam Sauki Adam (Putra alm. A. Adjib Hamzah) dipandu oleh Sukandar.

Dalam memaknai perjalanan 15 tahun SPS ini, akan diputar kesaksian-kesaksian sejumlah tokoh sastra di Yogyakarta mengenai peran SPS selama ini dalam tumbuh kembang sastra di Yogyakarta. SPS didirikan Hari Leo AER (alm.) tahun 2000. Dan sepeninggal pendirinya di tahun 2013, SPS dengan segala kerendahan hatinya mencoba terus melanjutkan semangat yang telah ditanamkan Hari Leo. Adalah Mustofa W. Hasyim yang kemudian mau meluangkan waktunya mendamping sejumlah penggiat sastra di Yogyakarta, seperti Sukandar, Tubagus Nikmatulloh, Agus Sandiko, Muzain, Riska N.S., Murnita Dian Kartini, Fitri Merawati, dan Latief S. Nugraha di SPS.

SPS selalu mencoba belajar dari siapa pun dan apa pun. Hal ini sebagai wujud rasa syukur SPS atas perjalanan yang telah ditempuh hingga saat ini. Acara BBS yang digulirkan sejak tahun 2005 di Pendapa Asrdafi hingga berpindah ke TBY dan sesekali mampir di tempat-tempat lain oleh Studio Pertunjukan Sastra secara rutin di minggu keempat setiap bulan, tidak terasa pada tahun 2015 ini sudah mencapai putarannya selama lebih-kurang 10 tahun. Telah banyak sastrawan dari Yogyakarta maupun dari daerah lainnya yang mampir bertegur sapa dan berbincang bersama menyoal sastra dan budaya di acara tersebut.

Menandai usia yang semakin bertambah, SPS juga mencoba merenung, merefleksi diri dengan menghadirkan buku antologi karya leluhur sastrawan Indonesia yang ke 2 berjudul Astana Kastawa. Buku ini merupakan buku kelanjutan atas buku sebelumnya dengan judul sama yang diterbitkan SPS tahun 2014. Kali ini SPS bekerja sama dengan Balai bahasa Yogyakarta mencoba mengumpulkan kembali nama-nama yang tercecer dan terlewat dari buku Astana Kasatawa sebelumnya. Sejumlah sastrawan leluhur yang terhimpun dalam buku kedua ini adalah A. Adjib Hamzah, Andre Hardjana, Badjuri Doellah Joesro,Bambang Indra Basuki, Catur Stanis, Deded Er Moerad, Dharmadji Sosropuro, Djajanto Supra, Dwiarti Mardjono, Edhy Lyrisacra, Hardjana H.P., Harijadi S. Hartowardojo, Herman Pratikto, Iskasiah Sumarto, Jussac M.R., Kuswahyo S.S. Rahardjo, M. Nurgani Asyik, Mahatmanto, Mayon Sutrisno, Munawar Syamsuddin, Nyoman Anarti Panoshada, Pedro Sudjono, Sri Hartati, Sujarwanto, Syu’bah Asa, Veven Sp. Wardhana, Wedha Asmara, dan Wid Kusuma.

Semoga karya-karya yang termaktub dapat menjadi jendela kecil, pengingat dan penanda bahwa banyak sastrawan Yogyakarta yang telah menorehkan prestasi bagi tumbuh-kembang sastra di Indonesia. Hal tersebut tiada lain tujuannya adalah sebagai penggugah semangat bagi generasi selanjutnya untuk terus berkarya. (Latief S. Nugraha/gr)

TINGGALKAN KOMENTAR