SUATU pagi disebuah desa yang damai tampak para petani seperti hari-hari sebelumnya mulai bergegas menuju pengidupannya. Hamparan sawah, pegunungan biru, berselimut kabut dikejauhan mengiringi mereka bekerja menggarap sawah. Ada yang mencangkul, menyabit rumput, membersihkan tegalan, menebar benih padi, semua terasa aman tenteram “gemah ripah loh jinawi”.

pelajar smu 74 jakarta

Suatu saat, ketenangan mereka terusik oleh kehadiran para penjajah yang membawa tahanan pribumi. Semua ketakutan, berusaha mencari perlindungan dibawah todongan senjata. Tak ada yang berani melawan, apalagi membebaskan para tawanan, suasana berubah mencekam.

Dari kejauhan terdengar teriakan-teriakan. Rupanya para pejuang pembebasan tahanan yang dibawa. Para petani mencari perlindungan, bergabung dengan para pejuang sampai akhirnya terjadilah bentrokan. Banyak korban baik di pihak pejuang, petani, maupun penjajah. Tapi para pejuang berhasil memukul mundur para penjajah. Tahanan dibebaskan, petani dan pejuang menolong para korban yang terluka tembak. Terasa kesedihan.

Ternyata penjajah bukannya kalah, tapi kembali membawa pasukan yang lebih banyak lagi. Peperangan sengit pun terjadi. Dari sekumpulan para pejuang, tampak seorang Ibu dan pemuda mencari perlindungan. Sang Ibu memberi semangat pada anaknya agar terus berjuang melawan para penjajah.

Demikianlah penggalan narasi drama kolosal perjuangan tentang “patung pak tani” karya/sutradara Rik A Sakri dengan art/property Pauzi/Aziz yang dipentaskan pada Apel HUT RI ke 70 oleh siswa/I SMU 74 binaan Kodim dan Dewan Guru SMU 74 Jakarta Selatan, di lapangan Kantor Walikota Administrasi Jakarta Selatan, Jl. Prapanca Raya No. 9, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (17/8/2015).

Menurut Rik A Sakri bahwa pementasan ini adalah atas prakarsa Kodim dan Dewan Guru SMA 74 Jakarta Selatan yang merupakan salah satu “menjalankan” pesan para pendahulu kita adalah untuk menjaga “ibu pertiwi” agar jangan sampai kita terjajah lagi.

“Maksudnya kita harus punya rasa nasionalisme yang tinggi sebagai bangsa Indonesia,” jelasnya.

Seperti misalnya kita merawat dan memelihara kelestarian peninggalan-peninggalan para pejuang. Dengan demikian kita sudah berbuat sesuatu bagi negeri ini. Jangan berpikir apa yang kita dapat dari negeri ini, tapi apa yang bisa kita berikan untuk negeri ini.

“Kalau korupsi itu kebalikannya, justru itu mementingkan diri sendiri, tidak ada kebersamaan, tidak ada rasa nasionalisme,” ungkapnya. (ziz)

TINGGALKAN KOMENTAR