Foto: Situs kuno petirtaan atau pemandian suci era Mpu Sindok. (ist)

MALANG – Penataan di lingkungan situs kuno petirtaan atau pemandian suci pada masa Kerajaan Medang yang dipimpin oleh Mpu Sindok, sekitar abad ke-10 ditemukan di Dusun Nanasan, Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang pada Senin (24/4/2017) lalu dilakukan warga secara swadaya dan gotong royong.

Hal itu dikatakan penjaga kawasan situs kuno petirtaan atau pemandian suci, Yazin (25).

“Saat ini warga secara gotong royong membenarin tempat ini. Tujuannya ya, supaya enak ketika pengunjung datang,” kata anak muda yang setiap harinya memberisihkan tempat kuno ini, Sabtu (22/7/2017).

Yazin mengatakan, sejak ditemukannya tempat kuno ini sedikitnya 50 orang per hari datang untuk menyaksikan secara langsung.

“Kalau lagi rame bisa mencapai 100 orang mas per hari. Pengunjung datang dari kota Malang, luar kota dan ada juga dari luar provinsi,” ucap Yazin yang berdomisili hanya 100 meter dari ditemukannya tempat situs tersebut.

Ia mengakui, kedatang pelancong dengan tujuan yang bermacam-macam. Mulai hanya ingin tahu, atau melihat-lihat saja, sampai yang berdoa di tempat peninggalan leluhur ini.

PENINGGALAN ERA MPU SINDOK

Arkeolog Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono yang datang melihat langsung ke lokasi penemuan situs pada Rabu (26/4/2017) lalu memperkirakannya dengan melihat asal kata dari nama desa tempat ditemukannya situs itu. Yaitu ngawonggo yang merupakan kata lain dari kaswangga.

Kata kaswangga disebut dalam pancakahyangan Prasasti Wurandungan atau Kanjuruhan B yang dikeluarkan pada Rabu wage 7 Nopember 944 masehi atau pada abad ke-10 masehi saat Mpu Sindok memimpin Kerajaan Medang.

“Ngawonggo dari kaswangga. Nama kaswangga disebut dalam Prasasti Wulandungan atau Kanjuruhan B medio abad ke-10 masehi,” katanya.

Dwi memperkirakan ada tiga blok atau kolam pemandian yang saling berhubungan di lokasi itu. Sementara setiap pemandian memiliki pancuran air masing – masing. Namun untuk memastikan itu perlu dilakukan ekskavasi karena posisi kolam sudah tertutup tanah.

“Bentuknya (kolam) tidak kotak persis. Melainkan mengikuti bentuk batu itu,” katanya.

Menurut dia, pada zaman dulu, petirtaan atau pemandian memiliki manfaat ganda. Selain untuk kebutuhan air bersih penduduk, pemandian juga menjadi lokasi religius. Oleh karenanya, pada situs itu ditemukan pahatan sembilan arca dan tulisan aksara jawa.

“Ini bukan petirtaan biasa. Ini petirtaan suci. Sehingga simbol pahatannya menunjukkan simbol kesakralan,” terangnya.

Tidak hanya itu, Dwi juga memperkirakan bahwa di sekitar lokasi itu merupakan bekas pemukiman penduduk. Hal itu bisa dilihat dari temuan-temuan situs purbakala oleh sejumlah warga setempat.

“Di sini juga kita temukan jejak pemukiman kuno,” katanya.

Meski demikian, Dwi menyebutkan bahwa temuan situs itu masih butuh penelitian lebih lanjut. Bisa jadi, situs itu usianya lebih muda. Yakni ada sejak masa Kerajaan Singosari atau Majapahit. Namun, Dwi memastikan bahwa keberadaan situs itu lintas masa. (yk/gr)

TINGGALKAN KOMENTAR