Ilustrasi Foto Gua Pawon (ist)

TERANCAM hanur dan punah, itulah kondisi situs Sejarah Gua Pawon, kawasan karst Citatah, Desa Gunung Masigit, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, saat ini. Hal itu lanatarn maraknya penambangan kapur.

Ilustrasi Foto Gua Pawon (ist)
Ilustrasi Foto Gua Pawon (ist)

Kondisi memprihatinkana itu datang dari Peneliti Cekungan Bandung yang juga Ketua Masyarakat Geografi Indonesia, T Bachtiar.

“Setidaknya beberapa gua di kawasan Karst Citatah dalam kondisi kritis. Gua itu ada di Pasir Bancana, Pasir Masigit, dan Gunung Hawu,” kata Bachtiar di Jakarta, Senin (2/11/2015).

Bachtiar menyampaikan, bahwa ada gua di kawasan itu yang bernasib tragis seperti Gua Bancana yang berada di Pasir Bancana, karena pada 2014 keberadaannya tidak dapat ditemukan lagi akibat pertambangan kapur. Saat ini, gua tersebut hanya bisa dilihat melalui dokumentasi seperti foto dan peta saja.

Semestinya, lanjut Bachtiar, keberadaan kawasan karst tersebut dipertahankan dan area yang sudah masuk zona lindung itu diperluas. “Citatah setidaknya dapat dijadikan laboratorium atau kampus lapangan,” katanya.

Situs Gua Pawon sudah dijadikan kawasan cagar lindung arkeologi atau kepurbakalaan setelah ditemukannya kerangka manusia purba. Penemuan kerangka manusia purba itu pada 2009, selanjutnya ditemukan fragmen tulang kaki manusia dengan panjang antara 20 sampai 30 sentimeter.

MATA AIR SEMAKIN SULIT

Peneliti dan pemerhati karst Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB), Budi Brahmantyo menyatakan mata air dan sungai di kawasan karst Citatah, Kabupaten Bandung Barat, semakin memprihatinkan akibat pertambangan kapur. “Dari penelitian saat ini tinggal tersisa sedikit mata air dan sungai di kawasan karst Citatah,” kata pengajar di Departemen Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.

Kawasan karst menjelaskan, merupakan bentang alam di batuan mudah larut seperti batu gamping. Proses memakan waktu puluhan ribu tahun. Karst memiliki jaringan gua sebagai pipa air alami yang menghubungkan zona resapan, zona simpanan dan mata air yang penting bagi masyarakat di kawasan itu.

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cahyo Rahmadi, mengatakan  pertambangan kapur yang ada di Citatah berpotensi memutus distribusi di kawasan karst tersebut. “Penambangan di karst berpotensi memutus fungsi karst sebagai pendistribusi air melalui gua. Jika distribusi air terputus menyebabkan mata air hilang dan pemulihan seperti sediakala sangat sulit,” kata Cahyo. (gr)

TINGGALKAN KOMENTAR