Foto: Sisingamangaraja XII, Tongtang I Tano Batak. (Suci Intan Maulia)

PADANGPANJANG – Garapan Opera Batak yang berjudul Sisingamangaraja XII, Tongtang I Tano Batak sudah siap untuk dipertunjukkan ke negeri jiran, Malaysia.

Tim produksi telah berlatih secara intens sejak pertengahan Juli 2018 di lingkungan kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, Sumatera Barat. Hingga kemaren malam (19/09) semua personil tim dari elemen musik, tari, dan lakon telah lengkap bergabung. Termasuk Thompson Hs dari Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) Siantar.

Direktur PLOt itu diminta melengkapi kerjasama sebagai salah salah satu pemeran tokoh penting terdekat Sisingamangaraja. Sedangkan pemeran tokoh Guru Somalaing sekaligus diperankan Dr. Sulaiman Juned, M.Sn, kolaborator naskah dan mitra kerja sutradara Enrico Alamo, S.Sn untuk program hibah Kemenristek RI tahap pertama ini.

Menurut Enrico Alamo, M.Sn program akan berlangsung sampai tiga tahap. Namun tahap pertama ini harus menentukan untuk tahap lanjutan. Baik para penari, pemusik, aktor, dan petugas produksi bekerja keras dalam proses latihan serta di samping melaksanakan kesibukan harian.

Tim produksi. Dari 22 person di tim produksi ada yang melaksanakan tugas harian sebagai mahasiswa dan dosen serta alumnus. Pemeran Sisingamangara XII dilakukan oleh seorang mahasiswa jurusan teater dengan panggilan Icah.

Demikian dengan Patuan Nagari, Patuan Anggi, Boru Sagala, Boru Lopian dan 7 orang penari dengan lima koreografi khusus untuk garapan yang sekaligus memberikan gambaran visual penyiksaan Belanda untuk penduduk serta pertentangan pada masa gerilya Sisingamangaraja XII. Para pemusik didominasi oleh dosen dari jurusan karawitan dengan salah satunya berperan sebagai tokoh Sarbut Tampubolon.

Dalam proses latihan kemaren perkembangan Opera Batak setelah berhasil direvitalisasi memasuki tahap keterbukaan terhadap modifikasi, inovasi, dan tafsir terhadap epos Sisingamangaraja XII.

Tim produksi akan berangkat ke Malaysia pada 23 September sampai 27 September 2018 serta akan tampil di Universitas Malaya Kualalumpur dan Universitas Mara, Pahang. Semua tim berlatar etnik yang berbeda-beda; Batak, Aceh, Minang, Jawa, Bali, Melayu, dan lain-lain yang telag memahami Opera Batak memiliki potensi diplomatik untuk masa depan.

Namun gerak diplomatik kali ini untuk Wilayah Asia dilakukan dari Padangpanjang, Sumatera Barat. (Thompson Hs/gr)

TINGGALKAN KOMENTAR