MEDAN – Nama KTP nya, Burhanuddin Syarief. Lahir di Tanjung Pura, 23 November 1953. Itu artinya November tahun ini, ayah dua anak ini kini berusia 65 tahun. Namun Burhan Folka, begitu ia dikenal, masih tampak lebih muda dari usia sebenarnya.

Burhan adalah seorang aktor panggung teater. Dia bergabung di Teater Nasional Medan (Tena), bersama Buyung Bizard, Yan Amarni dan Wan Hidayati. Pertama kali masuk teater 1975. Waktu itu Burhan muda diajak Adi Pala, senior di Teater Nasional yang melihat potensi lelaki yang kini punya 4 cucu.

Semula Burhan diajak untuk melihat lihat grup teater yabg dipimpin Burhan Piliang itu. Tapi saat melihat lihat dirinya langsung ditarik ikut latihan dasar. Memang berbakat, Burhan tak pernah absen latihan hingga dia dibentuk menjadi aktor Tena.

Pengalaman pertama naik panggung, Burhan mengaku bermain pada garapan, “Senyum” Karya Zakaria M Passe di TIM Jakarta tahun 1976. Kata Burhan dirinya digodog latihan dasar selama satu tahun.

Sejak itu, dirinya terus terlibat dalam semua pementasan Tena. Beberapa garapan yang paling membuatnya terkesan adalah, Nafsu di Bawah Pohon Elm, Sutradara Buoy Hardjo dan Kandida Wanita Jelita Sutradara D Rifai Harahap.

Burhan juga mengaku senang berperan dengan naskah-naskah luar. Baginya naskah-naskah karya pengarang dalam negeri juga cukup bagus seperti Arifin C Noor, namun naskah luar, menantang dirinya untuk mengasah acting yang lebih sulit.

Sebagai seorang aktor, Burhan mengaku belum tertantang kalau belum beracting monolog. Dalam monolog, ada tantangan tersendiri, lantaran tidak ada lawan main. Acting sendiri itu, jauh lebih sulit dan membentuk kepribadian kita menjadi lebih berani dan percaya diri.

Monolog pertamanya adalah Kasir Kita, karya Arifin C Noor. Monolog ini langsung 7 kali di pentaskan sejak tahun 1979. Tahun 2002, main di pantas Monolog di TIM. Waktu itu Burhan tampil dengan naskah Monolog karya Afrion.

Tahun 2005 sampai 2018 Burhan tidak aktif. Dia lebih memilih hidup di masjid dan menjadi nazir. Burhan berbahagia bersama 4 cucu yang disayanginya dari seorang istri setia bernama Izwary Simbolon.

Kini Burhan Syarief akan naik panggung lagi. Diusia yang terbilang tidak muda lagi ini, Burhan merasa harus memeriahkan panggung teater di Kota Medan ini lagi. Kali ini Burhan akan hadir dengan 2 naskah Monolig sekaligus.

Pada September di bawah bendera Bengkel Monolog asuhan Porman Wilson Burhan tampil dengan naskah Monolog, Bahayanya Tembakau Karya Anton Chekov dan November, Nyayian Angsa juga karya Anton Chekov.

“Beberapa Bulan yg lalu aku diundang untuk menyaksikan pementasan Rapel Pansiun naskah Andi MS. Waktu nonton pementasan itulah, rasa rindu dan kepingin mentas lagi. Akhirnya aku putuskan untuk naik panggung  di penghujung tahun ini. Insya Allah,” ujar Lelaki ganteng keturunan Arab ini. (aba/gr)

TINGGALKAN KOMENTAR