rendra
Rendra Foto: ist

 

Waktu:
28 -30 Agustus 2014
Tempat:
Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki
Jl Cikini 73 Jakarta Pusat

Peluncuran Buku:
28 Agustus 2014
19.30 – 23.00 WIB
Pertunjukan “PERAMPOK” karya WS Rendra
Sutradara Edi Haryono
Teater Kewajaran Kedua

Seminar: 1
29 Agustus 2014
Pukul 13.00 s.d. 18.00
Narasumber:
1. Bakdi Soemanto
2. Benny Yohanes
Moderator: Bambang Prihadie

Seminar: 2
30 Agustus 2014
13.00 – 18.00 WIB
Narasumber:
1. Radhar Panca Dahana
2. Tommy F. Awuy
3. Maxwell Lane
Moderator: Madin Tyasawan

Seminar yang mengharapkan konsolidasi “etik” (keilmuan) Teater Indonesia menuju masa depan, karena tidak banyak pemikiran dan capaian estetika teater Indonesia yang tercatat dan diteliti secara ilmiah, serta tersosialisasi secara merata ke seluruh Indonesia. Di sisi lain karena dokumentasi dan pengarsipan yang kurang baik di berbagai kalangan. Juga menyangkut kerja penelitian dan sosialisasi yang tidak mudah untuk teater di negeri ini. Hal itu membuat seminar seperti ini dibutuhkan, sampai pada potensi “urgensi”, karena satu persatu teaterawan besar bangsa ini telah berpulang kepada Sang Pemilik Semesta.

“Menyitir Rendra; Teater Modern di Indonesia berbeda dengan Teater Modern di Barat. Teater Modern Indonesia ditandai oleh adanya naskah (script), sebab Teater Tradisional dan konvensional di Indonesia belum membicarakan kehidupan modern yang diharapkan oleh masyarakat untuk menjawab pertumbuhan hidup.

Oleh karena itu, pembicaraan tersebut hanya bisa diberikan oleh Teater Modern; misalnya masalah demokratisasi, emansipasi dan kemanusiaan. Dan hanya bisa dicapai oleh kreatifitas teks (naskah), tidak bisa dihasilkan oleh dialog yang improvisatoris, seperti yang dilakukan Teater Tradisional dan Konvensional,” kata panita Edi Haryono.

Rendra menggali seni teater di Indonesia sejak usia muda. Hasil kerja kerasnya bersama Bengkel Teater Rendra sejak 1968 s.d. 2005 telah dibukukan dan dianggap oleh berbagai kalangan sebagai tonggak Teater Modern Indonesia. Seminar yang bertujuan menjelaskan lebih rinci perjalanan dan capaian kreatif Bengkel Teater Rendra, sebagai motivasi regenerasi keilmuan berdasar kajian ilmiah yang memadai. Semoga kepesertaan yang mengundang para penggiat teater se Indonesia dapat diwujudkan.

LIMA TAHUN MENGENANG RENDRA

Mengenang lima tahun Rendra berpulang, Burung Merak Press berkerjasama dengan Pusat Kesenian Jakarta – Taman Ismail Marzuki dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan juga menyelenggarakan seminar tersebut sekaligus meluncurkan buku “Menonton Bengkel Teater Rendra” yang disusun Edi Haryono dan diterbitkan oleh Burung Merak Press, atas bantuan sponsor Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam satu rangkaian kegiatan.

Buku yang menuliskan tanggapan publik dan tokoh di media massa tentang sepak terjang capaian Bengkel Teater Rendra sejak “Bip-Bop” pada tahun 1968 sampai “Sobrat” pada tahun 2005, mengundang daya tarik tersendiri. Hal itu semacam mau membuktikan bahwa Teater tidak saja di ukur dari sudut pandang para pelaku dan penciptanya. Tapi bagaimana tanggapan masyarakat di luar teater menilai untuk semacam bentuk penerimaan yang mempertimbangkan capaian kreatif tersebut. Atau teater yang mampu memotivasi pemikir diluar grup yang membahas karya teater secara serius dan mandiri.

BUKU

Buku tersebut juga memberikan kabar bahwa, Teater Indonesia pada masa-masa akhir 60-an, memiliki budaya kritik yang “hidup” di Media Massa. Ada kolom surat pembaca yang memuat pro dan kontra seputar karya teater. Demikian masa-masa strategis Teater Indonesia yang mampu melahirkan teaterawan-teaterawan terbaik di negeri ini.

buku bengkel teater
Buku Bengkel Teater Foto: dok. panpel/ foto deds

 

Ada rasa syukur atas upaya pengumpulan data dari kemampuan pengarsipan yang cukup, sehingga harapan keilmuan yang ilmiah dimana Teater Indonesia bisa mengakarkan kakinya dengan kokoh dapat terwujud. Hal itu mendasari langkah regenerasi Te ater Indonesia bersandar pada tatanan nilai obyektif yang memadai, untuk menggapai masa depan yang lebih baik lagi. (deds/gardo)

TINGGALKAN KOMENTAR