saut

LEWAT banyak pintu, Indonesia bisa menjadi satu. Salah satu di antaranya adalah melalui lunturnya fanatisme primordial. Orang semakin terpancing untuk menanggalkan ciri khas tradisi suku asalnya agar lebih mudah memasuki masyarakat baru yang akar tradisinya nyaris hilang. Terutama orang-orang urban.

“Urusan adat begitu saya sudah nggak tahu. Begitu, atau senada dengan itu, seringkali terlontar dengan ringan dan bangga dari mulut generasi muda. Lebih bangga lagi jika teman sekampungnya menyeletuk, ‘Hai, sudah tak tampak lagi nama suku-mu,” kata novelis Saut Poltak Tambunan, Jumat (20/6).

Akibatnya, kata Saut, banyak orang berusaha supaya tak tampak lagi suku asalnya. Namanya dicomot dari film-sinetron, marganya dihilangkan atau disingkat, gaya bicara bahkan gaya hidupnya pun berubah. Sentuhan adat dan kearifan lokal lainnya semakin jauh ditinggalkan. Dianggap anakronis. Di bidang hukum, banyak perkara yang melibatkan pranata hukum, padahal bisa diselesaikan pada ranah kearifan lokal.

saut poltak tambunan-2

Terkait itu, Saut Poltak Tambunan, atau SPT, pengarang yang sudah 40 tahun berkiprah di dunia sastra, gelisah dengan kondisi ini. Bahkan ditengarai pula satu persatu bahasa daerah akan punah dari bumi Nusantara Ini. SPT dalam 3 tahun belakangan bergiat menggegas literasi dalam bahasa darah Batak (Toba). Kumcer Mangongkal Holi, novel Mandera na Metmet, Si TUMOING Manggorga Ari Sogot dan Si TUMOING Pasiding Holang Padimpos Holong, adalah empat karyanya berbahasa Batak. Ditambah dengan kumpulan puisi MASIH Meski Bukan yang Dulu, sebagian di antaranya berbahasa Batak.

Bekerja sama dengan Anjungan Sumatra Utara TMII, Sabtu, 28 Juni 2014 pukul 14.00-17.00, penerbit Selasar Pena Talenta akan meluncurkan buku SPT yang terbaru, ‘Si TUMOING Pasiding Holang Paimpos Holong’ dan kumpulan puisi MASIH Meski Bukan yang Dulu. Dalam acara akan diadakan diskusi ‘Sastra dan Kearifan Lokal dalam Keberagaman Etnik di Indonesia.’ Hadir pembicara dari berbagai suku, di antaranya Soekirman – Bupati Serdang Bedagai, Jansen Sinamo – Motivator dan Guru Etos Nasional, Khrisna Pabichara – sastrawan asal Makassar, dengan moderator Ida Manur Simanjuntak.

saut poltak tambunan-1

Musik tradisi uning-uningan (Martahan) dan tortor (Adryani) akan melengkapi pentas sastra ini, bersama pembacaan puisi dan musikalisasi. Trie ‘Iie’ Utami yang populer di pentas musik, kali ini akan tampil di pentas sastra. Juga tampil Rita Matu Moda, Dea Malyda, Djodi Yudono, Marina Novianti, Debby Tuwo, serta dua penyanyi cilik berbakat, Jobel Hutasoit dan Denis Simanjuntak. Yan Harahap pelukis eksotik nuansa Batak serta Febrantonius yang melukis dengan bahan jerami, ikut meramaikan dengan pameran lukisan. (gardo)

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR