by

Sastrawan Saut Poltak Tambunan Tampilkan Sastra Batak Sambut Hari Bahasa Ibu Internasional di Anjungan Sumut TMII

PADA 21 Februari 1952, polisi menembaki para mahasiswa yang sedang berdemonstrasi di Universitas Dhaka, Bangladesh. Para mahasiswa itu menuntut diakuinya bahasa ibu mereka, bahasa Bengali, yang direncanakan akan dihapus di universitas itu, diganti dengan bahasa yang banyak dipakai oleh para petinggi pada saat itu.

Foto ilustrasi: Sastra Batak karya Saut Poltak Tambunan. (ist)
Foto ilustrasi: Sastra Batak karya Saut Poltak Tambunan. (ist)

Hal yang sama – dalam berbagai bentuk – terulang kembali di berbagai penjuru dunia dan sepanjang sejarah, tidak hanya di Bangladesh, tetapi juga, contohnya, di Belanda, pada 29 September 2015 parlemen mengesahkan rencana “penghapusan besar-besaran” bahasa Belanda di sekolah dasar, diganti dengan bahasa Inggris “yang lebih disukai”.

example banner

Kejadian di Bangladesh maupun di Belanda berada dalam logika yang sama: “Aku adalah yang terkuat, diam dan tunduk padaku. Jika kamu ingin bicara, bicaralah dengan bahasaku”. Bertentangan dengan apa yang dikatakan para linguis. Ken Hale, menyatakan: “Ketika suatu bahasa punah, kita kehilangan kekayaan intelektual yang besar, seolah-olah seseorang telah mengebom museum Louvre”.

Di samping ketidaksetaraan sosial yang terjadi ketika bahasa ibu seseorang tidak dihargai, perlu diketahui bahwa faktanya keanekaragaman bahasa dan budaya tidak dapat dipisahkan, saling terhubung, dan saling bergantung satu sama lain. Hilangnya keragaman bahasa membuat hilangnya kearifan lokal yang pada dasarnya diperlukan demi keanekaragaman hayati yang berkelanjutan bagi kehidupan.

Maka pada 17 November 1999, UNESCO menetapkan 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Pada 2007, Majelis Umum PBB juga menyerukan untuk “mempromosikan pelestarian dan perlindungan terhadap semua bahasa yang digunakan oleh orang-orang di dunia”, dan di waktu yang sama, ditetapkanlah tahun 2008 sebagai Tahun Bahasa Internasional.

Anjungan Sumatera Utara TMII sebagai ruang budaya dengan bangga dan bahagia bekerjasama dengan Selasar Pena, Saut Poltak Tambunan, Rose Lumbantoruan, dan para aktivis pencinta bahasa ibu menyelenggarakan peringatan Hari Ibu Internasional, yang ditandai dengan peluncuran dua buku sastra berbahasa Batak, serta penampilan kesenian tradisi. Acara digelar di Ruma Gorga, Anjungan Sumatera Utara TMII, Minggu, 28 Pebruari 2016, mulai pukul 13.30. (ajsu/gr)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed