Foto: Seminar Kesusastraan di Bogor. (ist)

BOGOR – Membudayakan sastra di kalangan generasi muda itu sangat penting, sebab untuk pelestarian sastra lokal. Hal itulah yang dilakukan para penyair dan budayawan Bogor, Jawa Barat, menggelar ‘Seminar Kesusastraan’ dalam rangka embudayakan sastra.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor Shahlan Rasyidi mengatakan bahwa seminar dan lomba puisi itu sebagai upaya melestarikan sastra di kalangan generasi muda.

“Sastra Indonesia saat ini sudah makin berkurang minatnya, bahkan ada guru yang tidak paham sastra,” kata Shahlan dalam seminar kesusastraan diikuti guru dan pelajar dari jenjang SMP dan SMA se-Bogor Raya (kota dan kabupaten) berlangsung di Aula Dinas Pendidikan Kota Bogor, Sabtu, (22/10/2017).

Sahlan mengatakan, pentingnya sastra bagi generasi muda karena dengan sastra masyarakat dan generasi muda dapat memahami tentang puisi dan literasi.

“Disbudpar mendukung upaya untuk terus memupuk anak muda mencintai sastra Indonesia,” kata Shahlan.

Seminar Kesusastraan menghadirkan tiga narasumber, yakni Ahmadun Yosi Hervanda seorang penyair, kolumnis, dan jurnalis, Mustafa Ismail seorang wartawan Tempo yang juga penyair dan seniman, serta Ace Sumanta budayawan sekaligus Ketua Yayasan Satya Cinta Indonesia.

Mustafa Ismail menilai tingkat literasi bangsa Indonesia paling rendah daripada Vietnam dan juga Malaysia. Posisi Indonesia ada di peringkat 60 dari 62 negara. Rata-rata jumlah penulisan puisi Indonesia hanya 1.000 judul per tahun, sedangkan jumlah penyair mencapai 2.000 orang.

“Anak muda Indonesia tidak dekat degan puisi karena sulit dipahami dan tidak populer. Banyak penyair tidak membaca, tidak ada gairah membaca,” katanya.

Sementara itu, Ace Sumanta memandang perlu ada strategis sistem pembelajaran kesusastraan, pentingnya guru menggerakkan literasi kepada murid-muridnya.

“Literasi itu bagaiamana melacak sejarah kita,” katanya.

Ace mengatakan bahwa seminar dan lomba puisi yang digelar sejumlah penyair dan budayawan Bogor dalam rangka memperingatai Hari Puisi Indonesia dan Bulan Bahasa. Seminar juga ditandai dengan peluncuran buku antologi puisi berjudul Buitenzorg.

“Acara ini sebagai wujud memotivasi generasi muda agar banyak beprestasi, meningkatkan karakter dan kebangsaan karena melalui sastra menggunggah rasa,” katanya.

Ace menambahkan bahwa sastra yang makin menurun karena beberapa faktor, di antaranya persoalan kurikulum dan dukungan pemerintah yang merosot.

“Penyair dan sastrawan bergerak memajukan sastra Indonesia karena bangsa ini dibangun karena sastra, teks Pancasila, dan Sumpah Pemuda adalah puisi sastra,” kata Ace. (***/gardo)

TINGGALKAN KOMENTAR