Catatan Rizaldi Siagian

Revitalisasi Ronggeng Melayu Deli terus digelar di TMII. Kegiatan ini dilakukan oleh komunitas seniman/seniwati, para penggemar ronggeng Melayu Deli, peminat sastra (khususnya pantun Melayu), dan mereka yang mendedikasikan hidupnya untuk tari-tarian Melayu Sumatra Timur.

Meskipun kesenian ini disebut sebagai kesenian Melayu, tetapi para pelakunya (pencipta lagu, pemusik, dan penonton) tidak eksklusif hanya orang Melayu saja, tetapi berasal dari multi-etnis yang bergaul dan berinteraksi di tanah Deli sejak jaman koeli kontrak dulu. Ada orang Mandailing, Karo, Toba, India, China, Jawa, Betawi, Sunda, bahkan keturunan Benggali.

Kekayaan tradisi musikal, ungkapan-ungkapan dalam pantun, gerakan tari yang berkembang dalam ronggeng adalah “kontribusi” multi-kultur yang melatari perjalanan sejarah ronggeng sebagai kesenian rakyat. Oleh sebab itu ronggeng Melayu Deli, berdasarkan sejarah dan para pendukungnya, adalah kesenian yang tidak dimilik secara eksklusif oleh sebuah kelompok etnis saja, tetapi “milik” siapa saja yang menggunakan bahasa Melayu sebagai alat komunikasinya.

Kalau anda anak Medan dan ingin berkontribusi untuk melestarikan dan mengembangkan kesenian cerdas dan perekat rasa persatuan ini, silahkan ikutan di TMII, atau bisa juga membuat panggung gaul sendiri. Panggung-panggung gaul kekeluargaan seperti ini juga bagian dari tujuan ideal dari revitaslisasi ini: menjadi seni yang cerdas, segar, asyik, dan sangat menghibur keluarga dan sahabat-sahabat yang diundang. (gr)

TINGGALKAN KOMENTAR