Salah seorang anggota pewaris keluarga tabut Bengkulu sedang melakukan ritual di makam Syekh Burhanuddin Imam Senggolo (didi yoyong)

JELANG memasuki tahun baru Islam 1 muharam tahun 2015, keluarga pewaris budaya “tabut” Bengkulu menggelar doa bersama atau berzikir dan memanjatkan doa kepada leluhur di makam Syekh Burhanuddin atau biasa disebut Imam Senggolo.

 Salah seorang anggota pewaris keluarga tabut Bengkulu sedang melakukan ritual di makam Syekh Burhanuddin Imam Senggolo (didi yoyong)

Salah seorang anggota pewaris keluarga tabut Bengkulu sedang melakukan ritual di makam Syekh Burhanuddin Imam Senggolo (didi yoyong)

Ritual yang digelar di komplek pemakaman Karabela Kelurahan Padang Jati itu dipimpin tetua tabut Imam Syiafril Syahbuddin diikuti oleh 17 kelompok keluarga pewaris budaya tabut dan beberapa kerabat dan simpatisan dari berbagai daerah yang sengaja datang ke Kota Bengkulu.

Menurut Syiafril, Syekh Burhanuddin Imam Senggolo adalah penerus syiarh Islam dari pendahulunya Maulana Ikhsad yang merupakan keturunan Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib keturunan langsung Nabi Muhammad S.A.W.

Syekh Burhanuddin adalah ulama bangsa arab yang kedatangannya ke Indonesia masuk melalui Aceh tahun 1400 Masehi. Karena menganut Mazhab Syi’ah, Syekh Burhanuddin lalu pindah ke Minangkabau tepatnya di Pariaman terus ke Payakumbuh, Pasaman lalu ke Kuntu Kampar sebelum akhirnya tinggal di Bengkulu untuk meneruskan ajaran Islam dengan kebudayaan tabut.

“Syekh Burhanuddin Imam Senggolo wafat pada tanggal 12 April 1427 Masehi dimakamkan di Pemakaman Karabela Padang Jati,” ujar Syiafril di Bengkulu .

Dalam ritual berzikir itu, berbagai peralatan atau biasa disebut Serkai terdiri atas penutup tangan, rangkaian bunga melur, daun selasih, air cendana, air selasih, daun sirih 7 kerucut, gula aren dan tempat seni perasapan atau dupa disiapkan bersama dengan bubur warna merah dan putih sebagai perlambang setawar sedingin memasuki prosesi adat budaya tabut selama 13 hari di bulan Muharram.

Selain berdoa, prosesi ini juga mengadakat Pekat atau bermusyawarah, sajian makanan berupa sejambar nasi kuning panggang ayam, bubur merah putih, kue apam putih dan apam kuning, roti sebrat, gulai Dhal, susu sapi murni, kopi pahit serta air selasih dan cendana menjadi menu hidangan musyawarah.

“Setelah kata sepakat didapat, baru kami keluarga pewaris keturunan tabut bisa melaksanakan prosesi ritual yang berjalan selama 13 hari hingga nanti tanggal 10 muharam dilakukan arak arakan bangunan tabut tebuang di lokasi makam Syekh Burhanuddin ini juga,” pungkas Syiafril. (didi yoyong)

TINGGALKAN KOMENTAR