Foto ilustrasi: Lembah Harau (ist)

Oleh Kirana Kejora

Legenda Harimau Harau

ADA lagi sebuah cerita legenda yang cukup fenomenal, tentang harimau Lembah Harau yang sebenarnya tidak mengganggu masyarakat, disebut dengan inyiak. Di masyarakat Minang sendiri, harimau adalah binatang magis yang dihormati.

Foto ilustrasi: Lembah Harau (ist)
Foto ilustrasi: Lembah Harau (ist)

Di sebuah goa Lembah Harau bersemayam seorang pendekar yang menguasai silat harimau dan setelah melakukan pertapaan panjang, sang pendekar kemudian berubah menjadi harimau jadi-jadian. Inyiak ini kemudian menguasai daerah Harau, bahkan sampai menguasai daerah Gunung Merapi dan Gunung Singgalang.

Ada mitos, jika seseorang sudah diincar oleh inyiak karena telah berbuat salah, maka dia bisa dibawa ke kaum bunian atau kaum halus dan tak bisa pulang.

Ini kisah seorang teman yang pernah mengalami kejadian magis bertemu dengan inyiak saat melakukan pendakian ke Gunung Singgalang sebelum meletus, sekitar tahun 2005.

Saat itu dia bersama empat orang teman berjalan mendaki gunung, mereka berpapasan dengan seorang nenek yang wajahnya agak aneh.  Salah satu temannya usil, sambil mengucapkan, “Ondeh, ndak ba banda nyo.” Artinya, tak ada belahan di atas bibir.

Spontan si nenek menoleh, menatap tajam ke temannya, lalu berkata pelan,“Elok-elok se di jalan yo Nak.” Artinya, hati-hati di jalan Nak.  Tanpa rasa curiga, mereka lalu melanjutkan perjalanan, semua nampak baik-baik saja. Karena hari telah larut malam, begitu hening, senyap sekali mengiringi langkah mereka selama perjalanan.

Antara sadar dan tidak, teman saya melihat ke arah cahaya senter yang dipegangnya, nampak ada yang bergerak di rimbunan pohon di samping kiri belakangnya, ia mulai cemas, berpikir tentang inyiak. Karena jika ada yang mengikuti para pendaki di hutan, kalau bukan harimau, berarti inyiak.

Ia lalu mengajak semua berjalan cepat sambil melempar ikan bilih yang selalu ia bawa di setiap pendakian. Sampai langkahnya mencapai batu cadas, ia merasa aman, karena tidak ada yang mengikuti mereka lagi. Ia mengajak teman-temannya untuk segera mendirikan tenda sambil menyalakn api unggun.

Lalu ia melempar pandang ke sekeliling, dan kaget sekali saat melihat sebuah kilatam bola mengarah ke mereka dari semak belukar. Segera ia menarik teman-temannya masuk ke dalam tenda.

Foto: Tangga terakhir puncak Bukit Akar Berayun (koleksi Kirana Kejora)
Foto: Tangga terakhir puncak Bukit Akar Berayun (koleksi Kirana Kejora)

Begitu masuk tenda, mereka semua melihat ada bayangan seperti harimau besar dari bias cahaya api unggun, yang tiba-tiba mati. Suasana mencekam, semua tercekat diam. Seperti ada yang berjalan keliling tenda, seperti menggesekan badan di tenda.

Teman saya lalu meminta temannya yang tadi seolah mengejek si nenek untuk memohon maaf, dan mengajak semuanya berdoa. Segera temannya meminta maaf sebesar-besarnya. Hening, mencekam sekali. Namun nyatanya memang benar, tak berapa lama, gesekan, suara-suara aneh itu pun menghilang, suasana terasa semakin tenang.

Kata orang, harimau memiliki sifat balas dendam yang sangat besar, terlebih kepada orang yang menyakitinya. Meski hanya bersifat celetukan spontan, namun nyatanya ia tak terima. Walahualam.

Baiknya memang, di mana pun bumi berpijak, di situ langit dijunjung. Hargai, hormatilah pada sesama, jangan melecehkan seseorang yang kita anggap tak sempurna. Saya cukup merinding mendengar cerita teman saya ini. Lalu saya jadi ingat dengan syair Minang yang sering saya dengar.

“Tatkalo janji ka dikarang, baso kito indak buliah nyanyo-banyanyo. Utang bareh baia jo bareh, utang darah baia jo darah”

Syair itu artinya, saat janji akan dibuat bahwa kita tidak boleh saling menganiaya, utang beras dibayar beras, utang darah dibayar darah.

Semakin berdiri bulu kuduk saya menangkap semua hikmah perjalanan spiritual teman saya yang bisa menjadi pelajaran berharga bagi semua orang. Lembah Harau penuh cerita, bukan dongeng semata, namun ia memiliki pesan yang sangat luar biasa besar.

SEBUAH PENGENDAPAN

Lembah Harau adalah sebuah surga kecil yang akan terus menyulut rindu bagi siapapun yang pernah ke sana. Mengunjunginya adalah sebuah kebahagiaan yang menumbuhkan rasa haru, menyerbu kalbu.

Ia menyimpan nyanyian merdu alam dengan sejarah dan legendanya. Cintailah ia seperti kita mencintai-Nya sepenuh sungguh, utuh.  Jangan kotori ia dengan gunungan sampah, sebab ia adalah karpet raksasa penuh lukisan cantik Sang Kuasa yang begitu mudah bisa kita nikmati. Tak layak jika kita menyakiti dengan ketidakpedulian kita akan keindahan yang MAHA.

“Alam takambang jadi guru” filosofi Minangkabau yang maknanya, bergurulah pada alam yang telah terbentang sangat luas, dari alamlah kita bisa belajar dan mendapatkan ilmu.

Tuhan memang telah menciptakan banyak guru berupa alam. Siapa pun yang Dia tunjuk sebagai guru, bagi saya, di mana pun kita bisa menundukkan kepala bertanya, lalu mengambil hikmah dari semua yang telah kita lihat, dengar, jalani, dan rasa, ialah guru kita, siapa pun ia.

Lembah Harau bukan hanya bumi saujana, namun juga senja renjana. Ia pengundang dan penyimpan rindu tanpa tepi bagi semua para pecinta bumi, yang memiliki rasa peduli untuk tetap setia menjadi penjaga alam negeri ini. (TAMAT/key/gr).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here