Foto: Ikan kramat di Gua Ngerong, Tuban. (ist)

TUBAN – Jangan cepat tergoda ingin memancing atau menjala jika melihat ribuan ikan yang ada di sepanjang sunagi yang ada di Goa Ngerong, Tuban, Jawa Timur. Jika anda melanggar pantangan itu, alamat pelakunya akan kena musibah.

Itulah kramat yang dimiliki oleh Gua Ngerong. Meski akan membuat pelancong akan terpesona dengan daya tarik tersendiri, namun jangan coba-coba melanggar peraturan yang sudah baku. Meski begitu, Gua Ngerong tetap menjadi primadona para wisatawan lokal Tuban, Jawa Timur.

Foto: Gua Ngerong Tuban. (ist)

Akses yang mudah dan strategis menuju lokasi, yakni yang terletak ditepi jalan raya Desa Rengel, Kecamatan Rengel membuat wisata ini banyak dikunjungi wisatawan yang kebetulan melintas atau memang sengaja bertujuan berwisata ke goa Ngerong.

Dibalik boomingnya nama Goa Ngerong ada sedikit cerita menarik. Saat Tim Liputan memasuki pintu masuk wisata goa, selain terlihat para pedagang menjajakan berbagai macam jajanan, aksesoris dan penjual yang khas gua ngerong yakni Klenteng (biji kapas randu), pengunjung langsung mencium aroma khas kotoran kelelawar.

Goa yang sudah lama dikenal warga Tuban ini identik dengan kelelawar. Gua yang dipenuhi ribuan kelelawar dan sungai dipenuhi dengan ribuan ikan. Selain itu tak kalah menariknya Bulus putih (penyu putih) yang memang munculnya tidak setiap hari, sehingga membuat wisatawan tertarik untuk berkunjung. Berharap ingin melihat bulus putih atau hanya sekedar ingin bermain air ditengah segarnya air sungai yang keluar dari mulut gua Ngerong.

Seperti yang dituturkan Sukirno pengunjung asal Bojonegoro bersama keluarganya berwisata di goa ngerong. Saat hari libur dia sering memanjakan keluarganya dengan berenang dan memberi makan ikan dengan klenteng.

“Disini unik Mas, ada ribuan ikan, katanya menurut warga sekitar ikan – ikan ini dijaga danyang ngerong mitosnya,” ucapnya sembari menabur klenteng di sungai.

Keberadaan ikan yang hilir mudik di sungai tentu menggoda niat untuk mengambil baik dengan cara memancing atau menjala. Akan tetapi hal itu tidak berlaku di Gua Ngerong. Tak ada seorang pun yang berani mengusik, karena keberadaan ribuan ikan itu dikeramatkan oleh warga setempat.

Konon katanya apabila ada yang berani melanggar pantangan, diyakini orang itu akan mendapat musibah. Minimal ia akan didatangi penunggu sungai, meminta supaya ikan tersebut dikembalikan ke sungai.

Mungkin ini hanya sebatas mitos saja, namun apabila ditilik secara ilmiah, mitos tersebut juga dapat dijelaskan secara rasional. Makanan utama ikan adalah kotoran kelelawar yang banyak mengandung zat NH3, sedangkan amonia sangat berbahaya jika masuk ke dalam tubuh.

Jadi, sangat logis bila ada orang yang memakan ikan dari sungai ini akan berujung pada kematian. Dilain sisi, mitos ini memiliki sisi baik, menjadi pagar betis alami yang melindungi kelestarian ikan dan bulus putih dari tangkapan manusia. (fr/gr)

TINGGALKAN KOMENTAR