Sederetan seni dan budaya tradisional dari berbagai puak yang ada di Sumatera Utara dari pagi hingga malam akan tampil di Anjungan Sumatera Utara, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada Sabtu (29/3/2014). Acara yang bertajuk ‘Rajutan Kasih untuk Pengungsi Sinabung’, akan mengelar ‘Sikambang’ dari Pesisir Sibolga, ada sepuluh ‘Penari Cawan’ dari dataran Toba, gondang Batak, ‘Onang-onang’ dari Mandailing Raya, ‘Dedeng’ dari Simalungun, Melayu, Pak-pak, ada ‘Parkolong-kolong’ dan musik ‘Keteng-keteng’.

rajut kasih gunung sinabung

Aroma budaya khas Sumatera Utara yang dikenal multi etnis itu, tidak saja jadi suguhan yang berbeda dari kegiatan yang pernah ada, tapi juga menjadi pengerat solidaritas untuk peduli dengan erupsi Gunung Sinabung.

Balutan budaya Sumatera Utara yang begitu kental, akan menggoda pengunjung untuk terkenang dengan kampung halamannya, tidak saja bagi masyarakat Tanah Karo yang mengalami musibah erupsi Gunung Sinabung, tapi juga masyarakat etnis lainnya yang mendiami daratan tinggi maupun pesisir pantai, untuk ikut kembali membangun Tanah Karo pasca erupsi.

karo

Dibagian lain akan tampil juga biduan-biduan seperti Tio Fanta Pinem, Santa Hoki, Agustina Pelawi dan tak ketinggalan Rudang Mayang.

Tidak berhenti situ, para relawan yang menantang lahar dan hujan vulkanik di Sinabung akan menyampaikan kesaksiannya. Lengkap dengan video dari tepi kawah Sinabung. Bahkan ada juga oleh-oleh debu Sinabung.

Dari barisan kesenian modren, tampil juga pertunjukan teater dan lukisan ‘happening art’. Termasuk puisi, uis dan cipera. Bukan masyarakat Sumatera Utara kalau tidak “gila” makan, untuk itu panitia pun menyiapkan menu makan khas yakni, lontong dan mie rebus Medan. Sebagai penyegar dahaga ada jus markisa, jeruk Brastagi dan macam-macam menu yang menggoda.

panitia sinabung
Panitia Tim ‘Rajutan Kasih untuk Pengungsi Sinabung’ sedang pertemuan

“Kehadiran Tuan dan Puan menjadi kebersamaan. Doa dan empati menjadi perekat hati. Berbagi adalah penanda peduli. Merayakan martabat manusiawi. Merajut cinta bagi sesama. Yang sepi. Yang luka. Yang duka. Yang berumah di antara deru dan debu. Yang tidur dengan mimpi yang tak berwarna,” kata Pimpinan Anjungan Sumut TMII, Tatan Daniel, Minggu (23/2/2013).

Secara tegas, Tatan Daniel mengatakan, bahwa ‘Rajutan Kasih untuk Pengungsi Sinabung’, disajikan tidak semata untuk masyarakat Sumatera Utarak tok, tapi untuk semua masyarakat umum yang cinta budaya nusantara termasuk peduli dengan eupsi Gunung Sinabung.

“Sajian budaya ‘Rajutan Kasih untuk Pengungsi Sinabung’ ini untuk masyarakat ini Indonesia. Sekalian mengenal budaya, tak salah kita berbagi rasa kepada korban erupsi Gunung Sinabung,” tutupnya. (gardo)

TINGGALKAN KOMENTAR