Puisi-Puisi karya Ayub Badrin punya gaya dan ciri khas sendiri. Seniman kota Medan yang satu ini menggoreskan puisinya di media apa saja. Dibawah ini buah karyanya.

Biografi Sepi

sudah lama tak ada puisi di sini
yang lahir dari kotornya rumah tua
hidup hanya melulu perputaran roda
berbalik dari titik ke titik
ingin kusinggahi lagi rumah Mu
berziarah mengunjungi jasad
ku
sendiri
mengucap salam pada kanan dan kiri
lalu aku hilang dalam ketenangan abadi
wahai
siapakah engkau
yang bersemayam dalam ruh
gelisah terkotori
bisakah kita bicara
jika aku ingin kembali
bersajak
karena aku
ada….
ya Allah
ajarkan aku bersyukur
seperti syukurnya bumi pada air
ya Allah
ajarkan aku bersabar
seperti sabarnya matahari pada bumi
ya Allah ajarkan aku bersujud
seperti sujudnya gunung gunung
alhamdulillah…

Arsitektur Sepi

Kita harus kembali ragu
Pada kepala kita
Yang mirip kipas angin Seperti roy dan mamex
Yang mencari rahim ibu mereka Dari jejak kakinya sendiri

Kita adalah kata dan tubuh, katanya

Setiap hari menggunakan babi
Untuk memaki
Diri kita sendiri
Maka
Pulanglah ke rumah
Meski tak punya pintu
Untuk masuk
Kemudian
Tiang listrik di pukul orang
Gelombang suaranya memacah malam
Ada kabar yang dia sampaikan
Hingga ke dalam kamar mandi
Yang sedang menonton televisi
Koran pagi tergeletak tak berdaya
Secangkir kopi panas menggigil kedinginan
Nasibnya seperti telepon yang suka mengabarkan duka cita
Ah awak ini apalah
Cuma daging dan tulang
Tapi seperti Mardiko, nekat petentang petenteng mencari makna namanya sendiri
Mending kita tutup saja pintu itu

Tanjung Mulia, 21 Nov 20118

Ada Musuh Dalam Rumah

Tahukah kamu tentang musuh?
Dia ada dalam rumah kamu.
Bersembunyi di balik selimut mu
Dia bisa membekap mulut dan hidung mu
Dia bisa menaruh racun dalam mimpi mu
Dia menyelinap dan merusak sepi mu
Lalu pergi meninggalkan beberapa tusukan
Ya tusukan
Tepat di jantung mu

Tahukah kamu tentang musuh?
Dia boleh bernama istri
Dia boleh bernama teman
Dia boleh bernama ayah
Dia boleh bernama ustadz
Dia boleh bernama politikus
Dia boleh bernama uang
Dia boleh bernama kekasih

Kini musuh bernama hoax
Mengirim benci di mata mu
Mengirim garang di otak mu
Mengirim resah di hati mu
Mengirim degup di jantung mu
Mengirim air mata di tangis mu

Mari menarikan waktu kawan
Agar sepi ini bisa menghibur mu
Menjadi aliran sungai sungai
Hidup yang tentram lohjinawi
Padi sudah hampir menguning
Mari petik dengan lagu angin
Hidup pun kembali ceria
Matahari telah terjaga

Di antara tembok tembok kota
Kita toreh kenangan
Bahwa kau dan aku adalah saudara
Bukan musuh
Dan hidup harus diperjuangakan.

Medan, 16 November 2018

Puisi Cinta

Ingin ku peluk senja
Itu adalah kau
Dalam pusaran waktu yang kering
Ini adalah cinta
Bukan sembarang rasa
Bisakah kita saling rindu
Kekasih
Berenanglah di danau hati ku
Berenanglah sesuka mu
Seperti angsa angsa putih itu
Nanti pada dermaga tambatkan perahu cinta
Maka akan ku ucapkan salam
Aku sayang padamu

Medan, 2018

Ayub Badrin (ist)

Hujan Terik

Saat aku membaca tentang hujan, aku masih di kamar mandi. Saat itu hujan bukan lagi cerita tentang sepatu, tetapi telah menjadi kasur dan
bantal, sabun mandi dan odol gigi.

Lalu kemana perginya gerimis dan buliran air yang beranak pinak dalam jerangan secangkir kopi pagi?

Ah begitu sulit untuk melupakan kisah tentang rambut yang basah, sebab hujan tak ingin pulang
Awan telah berkeluh kesah, mereka ingkar janji, hoax di mana mana

Aku belum paham tentang hujan tadi malam. Mengapa aromanya begitu puitis, tetapi Matahari tak menyapa pagi, dan Bulan kedinginan.

Ini negeri milik siapa? Ada orang membakar hujan. Ada orang berteriak pada sepi. Ada orang mengawini malam. Ada orang menipu resahnya sendiri.

Kami ini hujan yang kemarin. Belum lagi kering kepala kami, mengapa terus ada amuk di mata mu, mengapa tak ada hujan??

Medan, 23 Oktober 2018

Si Jalang Chairil

Medan mengasah Mu menjadi pisau
Lalu meluncurlah
Membelah samudra jagad raya
Menuju Batavia

Kemudian lesap menjadi Jalang
Peluru dan banyaknya seribu kali
Tak pernah takut mati
ingin hidup seribu tahun lagi

Ooo, Chairil Anwar
Beta PAtih Raja Wane
Yang dijaga datu datu cuma satu
Kamu jaga kamu punya nama

Melangkah sesuka hati
Di anatara Hb Jasin dan Soetarji
Ayo Bung!!!
Dengan mudah dia berseru

Ooo, Chairil Anwar
Binatang Jalang
Jalang dari kumpulan terbuang
Hidupmu penuh kebebasan

Sebentar di tempat pelacuran
Sebentar di kantor-kantor koran
Besok menulis puisi
Lusa dicaci maki Basoeki

Keluar masuk rumah murcikari
Tak membuat namamu mati
Dan kau lebih tak perduli
Mampus Kau, dikoyak-koyak sepi, katamu

Ku kenang engkau wahai Chairil
Muda tak kenal takut
Padahal di rumah penuh remah roti
Engkau pilih menimang mati

Pak Chairil aku berdiri di sini
Mengenang mu dari jalan-jalan di kota ini
Yang bagi mu tak bernyali
Tak bisa mengerti diri

Kini kota ini menjadi kota yang tak pernah mengerti
Mengapa Charil Anwar harusnya diperingati
Mengapa daerah lain lebih perduli
Padahal engkau pemuda kota ini.

Kini Kota ini juga tak peduli seni
Anggaran disunat sesuka hati
Jika engkau ada Pak Chairil
Pastilah engkau peduli
Setidaknya memaki dengan puisi

Aku berdoa untuk mu Chairil
yang memilih hidup bergelimang derita
Jadilah Ahli Sorga
Jadilah ahli sorga
meski zikirmu bukan di masjid-masjid
Insya Allah.

Medan, 16 April 2018

Nyayian Kosong

langit masih saja merah saga…
seperti jiwaku yang kering
terbakar kebodohan sendiri
seandainya gesekan daun bambu menjadi nyanyian
biarlah ku tarikan waktu
menjadi serampang dua belas atau
mak inang pulau kampai…
tapi siapa jadi peduli
meski berkarat bagai besi tua
tetap saja berkata
“aku tak bisa…”
huh…!!

Medan, 2015

Kotaku yang Lusuh

Aku kehilangan mood
Tentang puisi
Kotaku yang lusuh
dan tubuh tanpa dada
Lupa kembali pulang
Burung perenjak besi tua
Tumpukan yang tak pernah sampah
Kurun waktu sejengkal
Menikung gelapnya hiruk pikuk
Pada jalan jalan kita setubuhi
Hingga basah kuyup
Karena bulan kerap kesiangan
Tiang listrik yang jam dinding
Orang memukul 3 kali
Sonder bertanya pada tuhan
Lalu pergi begitu saja
Puisi ku pun sepi
Seperti malinkundang menetek di tetek ibunya
Ah….
Puisiku pun sepi…

Medan, 20017

Sudahlah Pak!

Pesta akan datang
Gemuruh genderang sudah ditabuh
Suaranya bising
Lantaran tak bernada

Semua rakyat nyaris tutup telinga
Mereka jadi tuli dan
tak lagi mengerti
mana puisi dan mana lagu pada mu negeri

Semua rakyat nyaris buta
Tak tau membedakan
Mana kuning, mana hijau, mana biru
mana merah dan mana ungu…

Suara para Caleg itu parau
Mereka teriakkan janji
Yang rakyat tak bisa mengerti
lantaran bahasanya kacau
Seperti orang lagi mengigau

Sudahlah Pak!
Jangan teriak lagi
Rakyat sudah tau
Kalian cuma basa basi

Sebab jika terpilih nanti
Mata kalian buta
Telinga kalian tuli
Yang ada cuma keinginan untuk korupsi
Sudahlah Pak!

Tugu Luka di Palu Donggala

Aku terbujur Kaku
Dihimpit kayu dan batu
Sakit sudah tak ku tahu
Aku pergi berlayar bersama Sunami dan Lindu

Begitu cepat terjadinya
Kami tak sempat berlari
Tuan tak beri informasi
Tentang Gempa dan gulungan ombak

Aku seorang ibu beranak satu
Seperti sepoi aku menjadi kantuk tidurnya
Kala itupun aku sedang medongeng
Tentang negeri caci maki

Aku tergulung ombak
Setelah tertimbun runtuh
Anakku terlepas dari peluk
Jika dia selamat, tolong antar zenajah ku
Dan sambunglah ceritaku yang belum usai
Tentang negeri dengan kicau burung perenjak

Aku adalah Palu dan Donggala yang terkubur luka dan duka
Paling kalian cuma belasungkawa membawa kardus di jalan raya, meminta kepada mereka belas kasihan
Menjual tanah kami yang retak Menjual celana kami yang koyak
Menjual airmata kami yang membeku menjadi es

Menjual celana kami yang koyak
Menjual airmata kami yang membeku menjadi es

Ceritakan pada Cori anak ku Dia sudah tak butuh semua
Dia butuh hutan, dia butuh Bakau, dia butuh Mangrove Agar bumi tak retak Manahan sunami agar tak menerkam kami di sini.

Di tanah Donggala dan Palu

Biarlah kami terbujur kaku
Jadikanlah kami Tugu
Di sini kami telah mati Menjadi saksi, di negeri ini tak ada matahari.

Medan, 2 Oktober 2018

Arsitektur Sepi

Kita harus kembali ragu
Pada kepala kita
Yang mirip kipas angin
Seperti roy dan mamex
Yang mencari rahim ibu mereka
Dari jejak kakinya sendiri

Kita adalah kata dan tubuh, katanya

Setiap hari menggunakan babi
Untuk memaki
Diri kita sendiri
Maka
Pulanglah ke rumah
Meski tak punya pintu
Untuk masuk
Kemudian
Tiang listrik di pukul orang
Gelombang suaranya memacah malam
Ada kabar yang dia sampaikan
Hingga ke dalam kamar mandi
Yang sedang menonton televisi
Koran pagi tergeletak tak berdaya
Secangkir kopi panas menggigil kedinginan
Nasibnya seperti telepon yang suka mengabarkan duka cita
Ah awak ini apalah
Cuma daging dan tulang
Tapi seperti Mardiko, nekat petentang petenteng mencari makna namanya sendiri
Mending kita tutup saja pintu itu

Tanjung Mulia, 21 Nov 20118

Puisi Cinta

Ingin ku peluk senja
Itu adalah kau
Dalam pusaran waktu yang kering
Ini adalah cinta
Bukan sembarang rasa
Bisakah kita saling rindu
Kekasih
Berenanglah di danau hati ku
Berenanglah sesuka mu
Seperti angsa angsa putih itu
Nanti pada dermaga tambatkan perahu cinta
Maka akan ku ucapkan salam
Aku sayang padamu

Medan, 2018

Tentang Ayub Badrin

Ayub Badrin dikenal sebagai seniman teater di Kota Medan. Aktor kelahiran Medan, 25 Maret 1966 ini mengenal seni peran sejak masih SMP, ketika ia direkrut dari ratusan pelajar Se-kota Medan untuk dilatih main drama oleh Taman Budaya Medan asuhan D Rivai Harahap tahun 1980. Ketika itu Ayub masih duduk dibangku SMP Kelas II di SMP Neg. 12 Medan.

Bakat seni anak bungsu dari 9 bersaudara ini tumbuh darah seni mengalir dari ayahnya A. Djoremi, seorang aktor ketoprak di zaman penjajahan Belanda. Bakat seni Ayub sudah tumbuh sejak masih kanak-kanak. Sebelum mendengar dongeng dari neneknya Ayub tidak akan bisa terlelap.

“Banyak dongeng yang menarik diceritakan nenek sebelum tidur. Indah sekali waktu itu. Ada cerita Asal Muasal Kera, 3 Pendekar Budiman, dan beberapa cerita yang menarik. Sekarang dongeng jarang didogengkan. Anak-anak sudah menjadikan TV menjadi orang tua kedua mereka. Cukup memperihatinkan,” kata Ayub dengan tarikan nafas panjang.

Setelah ‘dipoles’ Darwis Rifai Harahap, cakrawala seni pun mulai terkuak pada sosok Ayub, apalagi sosok aktor murah senyum ini doyan ngobrol dengan para seniornya di Teater Imago maupun Teater Nasional Medan. Tak jarang Ayub pulang larut malam, bahkan pulang pagi untuk ngobrol kesenian dengan teman-teman teater di Taman Budaya Medan.

Bersama seniornya di Teater Nasional Medan, Ayub sering terlibat perbincangan “panas” tentang kesenian dengan seniornya. Seperti Yan Amarni Lubis, Burhan Volka, Kuntara DM, Buyung Bizard, Rusnani Lubis, Burhan Piliang, Varah Tampubolon, Buoy Hardjo dan tak ketinggalan guru yang membesarkan Ayub; D Rivai Harahap.

Ayub juga doyan menari. Untuk melatih ‘kelentikan’ tanggannya, sempat berlenggak-lenggok di Study Tari Patria. Bahkan bersama Syarial F sempat membuat Kelompok Tari. Dikancah teater Ayub sempat membawakan reportoar ‘Malas’, karya Nano Riantiarno, garapan sutradara MY Teddy Witarta, ‘Tok.Tik.Tok’ (Dibalik Palu Godam) Karya Ikranegara sutradara Burhan Piliang, ‘Serikat Kaca Mata Hitam’ Karya Saini KM garapan sutradara Hafis Taadi Teater Que Medan, ‘Jangan Katakan Aku Cantik’ Karya Yukio Mishima garapan Sutradara Buoy Hardjo.

Tahun 1990 Ayub hijrah ke Lombok Mataram, Nusa Tenggara Barat. Di kota Mataram Ayub bergabung dengan seniman lokal. Bahkan Ayub sempat menjadi ‘api’ dalam menggairahkan suasana teater di Kota Mataram bersama Teater Lho dan Bengkel Aktor Mataram (BAM). Terpilih sebagai pemain utama pada Naskah ‘Matinya Demung Sandubaya’ Karya Max Arifin garapan sutradara Kongso Sukoco tampil dalam Temu Teater di Solo Tahun 1993. Kemudian juga dipercayakan menjadi peran utama antagonis dalam naskah ‘Rampok’, saduran Idris Pulungan dipentaskan di Gedung Utama Taman Budaya Mataram (TBM) Lombok Barat.

Setelah empat tahun berada di Mataram, Ayub tahun 1994 kembali berkiprah di Medan. Motivasi Ayub ‘pulang kampung’ karena ibunya meninggal dunia. Setelah pulang Ayub tak kembali lagi ke Mataram untuk berkesenian. Ayub pun ‘berlabuh’ kembali di Taman Budaya Sumatera Utara. Selain menjadi aktor, Ayub menggeluti dunia jurnalistik selain menjadi penulis lepas di berbagai media cetak di Medan.

Banyak Cerpen, Cerita Anak, Dongeng, artikel budaya, profil seniman dan lain-lain yang ditulisnya di koran seperti, Analisa , Waspada, Bali Post, Riau Post dan Majalah Malaysia Pesona. Kini Ayub juga menulis puisi. “Membikin puisi aku pikir pekerjaan paling sulit,” kata Ayub. Dalam kreatifitas kesenian Ayub selalu gelisah. (gr)

Ayub Badrin saat baca puisi (ist)

TINGGALKAN KOMENTAR