JAKARTA – Setelah sukses mementaskan ‘Prita Istri Kita’ karya Arifin C Noer yang diperankan oleh Wan Hidayati, pada tahun 2017 lalu di Grand Aston City Hall, Medan. Kini Teater Nasional (TENA) Medan menampilkan kembali pukul 20.00 WIB di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, pada Sabtu (16/9/2017).

“Pementasan ‘Pria Istri Kita’ akan kental dengan warna Melayu-nya. Penampilannya akan bebedah dengan pempilan saat mentas di Medan,” kata sutradara Yan Amarni Lubis, Selasa (12/9/2017)

Tidak semata sebagai lakon teater, tapi juga sebagai percakapan sejarah, sebagai ekspresi gelisah, sebagai perayaan dengan bunga api warna biru, kuning, dan merah, sebagai tanda seru, sebagai jalan pulang ke rumah setelah sekian waktu menghilang, sebagai catatan yang ditulis tengah malam, ketika orang-orang tertidur, dan sebagian bermimpi buruk, sebagian mengingau, sebagian bermimpi basah.

Keindahan berlakon dengan rasa ‘lungun’ yang menggapai-gapai, yang ditunjukkan oleh Wan Hidayati, membuat saya tercekat di sudut jajaran kursi. Tersandar. Merinding di keremangan. Dengan pikiran yang terbakar, bersijingkat, berkelojotan, berlari-lari keluar masuk hotel yang dulu menjadi ruang seorang Wali mengurus kotanya.

Berlakon monolog tentulah mengeluarkan enerji yang tidak sedikit, jika dibanding berlakon dalam pementasan teater. Ternyata lama tak menginjakkan kaki di panggung teater, tak membuat Wan Hidayati lupa dengan dunia seni peran. Sebab, sebagai seorang pekerja yang begitu peduli dengan lingkungan membuatnya sehar-hari terbenam dengan urusan limbah dan lingkungan.

Bagi Ndoet, demikian sapaan akrab Wan Hidayati, melakoni monolog bukan kali pertama. Pada tahun 1980 dia pernah melakukan hal yang sama pada Pesta Monolog Medan ke-2, yang diprakarsai Bahman Signal dan kawan-kawan, dimana Dahri Uhum Nasution dan Darwis Rifai Harahap bertindak selaku mentor penyelenggaraan.

Selain itu di dunia akting pentas Ndoet pernah memperlihatkan kepiawaiannya bersama TENA lewat naskah ‘Sok’ saduran Taguan Hardjo dari karya Moliere, dan disutradarai Buoy Hardjo, di Taman Budaya Sumatera Utara (d/h Bina Budaya) pada tahun 1994. (gr)

TINGGALKAN KOMENTAR