Foto: Poyanto Penggiat Budaya Dayak . (gr)

Gapuranews.com – Banjarmasn, Kesenian dan budaya asli dari Kalimantan Tengah atau Suku asli dayak siang, Kota puruk cahu, Kabupaten Murung Raya, Barito utara, yang selalu dilestarikan oleh Sanggar Seni Bunga Terong. Pelestarian budaya leluhur tersebut, nampaknya sangat membutuhkan perhatian khusus dari Kementerian Pariwisata dan Kemendikbud serta Pemerintah Daerah.

Foto: Poyanto Penggiat Budaya Dayak . (gardo)

Kenyataan itulah harus dipikul Poyanto, seniman dan penggiat budaya tradisi dayak, untuk bisa melestarikan budaya leluhur. Ketika generasi muda meninggalkan budaya leluhur, sebaliknya Poyanto malah mencintainya dengan sepenuh hati.

Konsekwensinya, Puyanto yang berprofesi seorang guru SMP honorer ini pun harus mendidik murid tari dan membesarkan Sanggar Bunga Terong yang dipimpinannya. Karena belum adanya bantuan dan fasilitas yang membuat mereka harus dapat berjuang sendiri dalam melestarikan budaya Dayak.

“Kata kakek saya mengatakan, kalau saya ingin melestarikan budaya leluhur, jangan sesekali memikirkan uang. Tapi bekerjalah dengan tekun. Pesan orang tua ini yang membuat saya tetap bersemangat,” kata Poyanto kepada gapuranews.com usai diirinya tampil di acara Goes Pesona Nusantara di Banjarmasin, Sabtu (29/7/2017) lalu.

Tak ada usaha yang tak menuai hasil. Begitulah yang dirasakannya Poyanto. Meski seret dalam pendanaan, namun ada saja yang memanfaatkan jasanya. Salah satu yang sering menggunakan jasa Sanggar Bunda Terong yakni pengelola Bandara Udara Syamsudin Noor, Banjarmasin. Selain itu, Poyanto juga sering diajak tampil di luar Kalimantan Selatan. Bulan Juni lalu misalnya, ia sempat tampil di Ubud Bali.

“Jika ada tamu agung, ya saya diajak tampil. Alhamdulillah honornya bisa membangun sanggar buat anak-anak menari tari,” beber penggiat budaya jebolan Sekolah tinggi keguruan dan ilmu pendidikan (STKIP) PGRI Banjarmasin tahun 2014 ini.

Perlahan namun pasti, Sanggar seni Bunga terong menjadi pusat perhatian. Hal itu dikarenakan mampu mendidik dan melatih anak-anak yang masih berusia 8 sampai 15 tahun. Yang bikin decak kagum yakni, Poyanto mampu mendidik anak-anak usia 8-15 untuk bisa tampil dalam satu acara sekaligus mampu melestarikan kebudayaan leluhur.

“Waktu saya dapat honor acara di Bandara, dananya saya bikin sanggar untuk anak-anak berlatih. Saya berharap pemerintah sedikit peduli dengan pelestaraian budaya,” ucap Poyanto dengan tenang,

Poyanto sebagai pimpinan sanggar tari bunga terong, mengatakan bahwa kini jaman semakin modern dan teknologi pun semakin maju setiap harinya. Namun, jangan lupakan untuk tetap dapat melestarikan budaya dan identitas dari nenek moyang itu sendiri, karena setidaknya kita harus mengetahui sedikit tentang darimanakah asal usul kita itu berasal.

“Walaupun banyak pihak yang mengatakan bahwa mustahil anda dapat hidup tanpa memiliki uang. Namun saya yakin apabila mau bekerja keras dan ikhlas dalam menjalankan sesuatu, insyallah uang itu akan datang nantinya,” ujar pria kelahiran Banjarmasin, 14 Juni 1993.

“Mungkin saat ini kami memang belum diperhatikan dan difasilitasi oleh pemerintah, namun misi kami untuk tetap melestarikan budaya Dayak tidak pernah luntur. Buktinya kami masih sering mengikuti lomba dan acara festival budaya, bahkan belum lama ini kami berhasil juara di Tabalong Etnic Festival dan mendapatkan hadiah sebesar 4 juta rupiah yang kami gunakan untuk mendirikan sanggar di depan rumah agar anak-anak dapat memiliki tempat untuk berlatih setiap harinya,” tutup Poyanto.

Beberapa agenda telah menantinya, salah satunya memenuhi undangan dari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) ke Jakarta pada tanggal 4-8 september 2017. (Rayza Nirwan/gr)

TINGGALKAN KOMENTAR