Prosesi ritual mencuci benda benda pusaka (didi yoyong)

SEBANYAK 17 kelompok keluarga pewaris budaya Tabut Bengkulu, Sabtu (17/10/2015) atau tanggal 4 bulan Muharram menggelar prosesi ritual mencuci benda benda pusaka.

Berbagai benda terbuat dari logam berbentuk jari jari, lengan manusia, dan keris dimandikan dengan 3 macam air, diantaranya air berisi jeruk nipis, air putih bening dan air yang dicampur dengan kembang 7 rupa.

Prosesi ritual mencuci benda benda pusaka (didi yoyong)
Prosesi ritual mencuci benda benda pusaka (didi yoyong)

Prosesi diawali dengan berjalan kaki dari kediaman keluarga keturunan Syekh Burhanuddin atau Imam Senggolo di kawasan Pasar Melintang Kota Bengkulu menuju rumah batu atau gerga di kelurahan Berkas sejauh 3 kilometer. Sepanjang perjalanan puluhan anggota keluarga menggotong benda pusaka diiringi tabuhan musik dhol atau gendang besar.

Setibanya di rumah batu, ritual dengan membaca ayat ayat al quran diiringi doa an shalawat, para anggota keluarga berkumpul dan mulai melakukan pencucian benda pusaka. Setelah selesai, sesajian berupa nasi minyak atau nasi kebuli disajikan bersama nasi merah dikelilingi tebu hitam. Ratusan warga yang menyaksikan prosesi ini terlihat berebutan ingin mengambil air dan makanan sisa sesaji.

Marni Sumardi, warga sekitar mengatakan, sengaja datang ke lokasi ritual karena ingin mendapatkan berkah dari air sisa pencucian benda pusaka dan mencicipi makanan sesaji.

“Sengaja datang dan menunggu prosesi ini selesai karena ingin mengambil berkah dari air dan makanan sesaji,” ungkap Marni.

Ketua Kerukunan Tabut Bengkulu Syiafril Syahbuddin menyatakan, prosesi ini selalu dilakukan setiap tanggal 4 dan 5 muharram, tujuannya agar benda benda pusaka warisan nenek moyang mereka bisa terawat dan terjaga dengan baik.

Prosesi ritual mencuci benda benda pusaka (didi yoyong)
Prosesi ritual mencuci benda benda pusaka (didi yoyong)

“Semua yang kami bacakan itu ayat al quran dan tidak ada mantra khusus, jadi ini bukan syirik, tolong dipahami,” tegas Syiafril.

Para keturunan pewaris tabut Bengkulu melaksanakan prosesi ritual selama 13 hari menjelang dan awal hingga pertengahan bulan Muharram setiap tahun. Prosesi ini dimaksudkan untuk mengenang peperangan di Padang KArballa yang menewaskan salah seorang ulama Imam Ali Husein. (dyo)

teks foto: Para keturunan pewaris budaya Tabut Bengkulu menggekar prosesi ritual mencuci benda pusaka setiap tanggal 4 bulan muharram (didi yoyong)

TINGGALKAN KOMENTAR