Foto: Pertunjukan Teater berjudul 'Hari-Hari Yang Indah' . (ist)

‘Hari-Hari Yang Indah’ terinspirasi dari Happy Days karya Samuel Beckett yang ditulis ulang dan disutradarai oleh Citra Pratiwi

YOGYAKARTA – Pertunjukan Teater berjudul ‘Hari-Hari Yang Indah’ akan dilaksanakan  Jumat-Sabtu (25-26/2016), di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta,  Yogyakarta. Karya ini merupakan peraih Hibah Seni Kelola yang didukung oleh First State Investments, Citi serta Bakti Budaya Djarum Foundation.

Sebuah karya yang mengangkat tema tentang eksistensi, relasi, dan batas hidup yang hadir melalui sebuah cerita tentang satu-satunya pasangan yang berhasil bertahan hidup setelah bumi berada di ‘ujung waktu’ dan mengalami malapetaka besar. Nana dan Nigni dalam posisi badan setengah terkubur mencoba melewati saat dengan menciptakan rutinitas dengan cara semenarik mungkin. Di tengah gelombang perasaan yang datang dan pergi atas situasi dan waktu yang sudah tidak dapat diperhitungkan kembali oleh akal sehat. Nigni yang terperangkap lebih dalam memilih untuk lebih banyak diam sementara Nana terus mencoba mengajak Nigni untuk melewati waktu yang tersisa dengan kegembiraan.

Karya ini terinspirasi dari Happy Days karya Samuel Beckett yang ditulis ulang dan disutradarai oleh Citra Pratiwi. Karya teater ini mengajak penonton untuk memasuki ilusi tentang akhir waktu. Peristiwa hadir dalam kisah Nigni dan Nana yang mencoba memaknai apa itu waktu jika ia hadir untuk menciptakan momen yang bertujuan mencapai kebahagiaan. Karya teater berdurasi 60 menit ini hadir dalam bentuk duet dan menjadi sebuah karya yang menantang bagi pemeran wanita.

Dari rentang waktu lebih dari setengah abad setelah Beckett menyelesaikan naskah ini pada tahun 1961. Gagasan artistik untuk menghidupkan kembali teks naskah ‘Happy Days’ tentang ingatan berperan dalam bangunan kebahagiaan. Disini, Citra sebagai inisiator bersama tim menghadirkan gagasan artistik untuk mengembalikan teks-teks klasik sebagai bagian dari pergerakan seni kini. Berkolaborasi dengan seniman dari berbagai disiplin, secara bersama menciptakan karya ini dengan membawa konsep ingatan dalam konteks ruang dan waktu di Indonesia. Jika ‘ujung waktu’ terjadi suatu ketika di Indonesia, apa sajakah yang bernilai untuk diingat? (***/gr)

Tim Kreatif
Pemeran : Nunung Deni Puspitasari & Muhammad Khan
Penata Lampu : Dwi Novianto
Penata Musik : Thoriq Dwi Prayitno
Penata Artistik : Ruben Panginkayon & Eko Mei Wulan (Art Merdeka)
Imaji Video : Rapahel Donny (ResDept)
Manajer Panggung : Agustinus Dimas
Desain Image : Arfian Yustirianto
Pimpinan Produksi : Nesia P. Amaratih
Sutradara & Penulis Naskah : Citra Pratiwi
Produksi : Migrating Troop Performing Art Network

Reservasi: +6281946307124 (Nesia)

TINGGALKAN KOMENTAR