Koreografer:
Moh. Hariyanto
Penari:
Moh.Hariyanto
Lightingman:
Rizakh “grandong” Rahid
Pimpro:
Sekar Alit S.P
Artistik:
Hery Lentho
Tempat: 
Galeri Indonesia Kaya
Waktu:
25 Oktober 2014
[dropcap color=” 888” type=”square”]M[/dropcap]enari tak selamanya tertumpuh pada dua kali. Bisakah gerakan gemuali dari sekujur tubuh  dikatakan menari jika tidak tertumpuh pada kedua kaki. Sebab, tak ada menari tanpa  tertumpuh pada kaki.Koreografer Moh. Hariyanto yang akrab dengan nama Heri Ghulur ini menjawabnya dengan  tegas, bisa! “Ya. Tari yang barusan saya tampilkan sebuah tarian yang tidak tertumpuh pada  kaki,” kata Heri Ghulur usai menampilkan Pertunjukan Tari Ghulur karya Hari Ghulur, di  Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Sabtu malam (25/10).

Mederator Herlina Syarifudin mengatakan, bahawa karya tari Heri Ghulur terinspirasi  dari kesenian Topeng Ghulur di desa Larangan Barma, Sumenep, Madura.

Rangsangan visual dari kesenian itu mendorong Hari Ghulur (Moh. Hariyanto), lulusan S2  Penciptaan Seni di ISI Surakarta yang saat ini menjadi tenaga pengajar di STKW (Sekolah  Tinggi Kesenian Wilwatikta) Surabaya dan mendirikan studio tari Sawung Dance Studio di  Surabaya menciptakan tarian Ghulur. Pertunjukan Ghulur adalah sejenis dialog antara tubuh  dengan tanah. Dialog itu terejawantah dalam gerak bergulung-gulung. Dalam karya ini penari bergerak bergulung, melompat, dan juga merayap. Semua dilakukan tanpa adanya gerak atau  posisi berdiri.

Melalui karya ini, koreografer yang pernah mendapatkan hibah Seni Kelola 2013 dalam  kategori karya Inovatif lewat karyanya “Crossline” dan juga terpilih mengikuti kolaborasi  koreografer internasional Kaki Seni Art Exchange di Kuala Lumpur, Malaysia (2013) ini  hendak mengungkapkan bahwa tumpuan tubuh tidak selalu berada pada kaki. Seluruh anggota  tubuh yang lain dapat menjadi tumpuan.

TAMPIL LAGI

Pertunjukan Tari Ghulur karya Hari Ghulur juga akan tampil lagi pada The 12th Indonesian  Dance Festival 2014 yang kali ini bertema “EXPAND” akan digelar pada 4-8 November 2014 di Teater Jakarta TIM, Teater Kecil TIM, Gedung Kesenian Jakarta, Ruang C-FSP IKJ, Goethe  Haus dan Komunitas Salihara. Dengan berbagai ragam program diantaranya: Main Performances,  Master Classes, Showcase, Lab, Diskusi dan Special Program; Ibu dan Anak. Rangkaian  program tersebut akan diisi oleh para koreografer handal dari Indonesia, Singapore,  Jerman, China, Perancis, Belgia dan Jepang.

BIOGRAFI

Hari Ghulur atau Moh. Hariyanto lahir di Sampang, Madura 16 Oktober 1986. Ia belajar di  jurusan Sendratasik, FBS, Universitas Negeri Surabaya tahun 2010. Selanjutnya ia  melanjutkan studi S2 di Penciptaan Seni, ISI Surakarta dan selesai tahun 2013. Saat ini ia  adalah tenaga pengajar pada STKW (Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta) Surabaya dan  mendirikan studio tari Sawung Dance Studio di Surabaya. Moh. Harianto kerap menjadi penari banyak koreografer di antaranya Hery Lentho, Peni Puspito, Kuku (Taiwan) dan Carlos Gracia  Estevez (Spanyol). Pada World Dance Day 2012, ia menjadi salah satu penari dalam event  menari 24 jam di ISI Surakarta. Karyanya “Crossline” mendapatkan hibah Seni Kelola 2013  dalam kategori karya Inovatif. Ia juga terpilih mengikuti kolaborasi koreografer  internasional Kaki Seni Art Exchange di Kuala Lumpur, Malaysia (2013). (gr)

Teks gbr: Hari Ghulur (ist)

TINGGALKAN KOMENTAR