Fatin Hamama

Gara-gara dituduh ikut terlibat dalam pembuatan buku sastra yang bertajuk ’33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh,’ penyair dan juga seorang ibu rumah tangga bernama Fatin Hamama menjadi korban bully di jejaring media sosial. Bagi kalangan seniman buku sastra ’33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, itu masih kontraversi.

Akibatnya, Fatin pun diserang dengan berbagai tuduhan dan julukan keji yang sangat merugikan bukan saja pribadi dirinya, tapi juga harkat dan martabat kaum perempuan. Termasuk juga keluarganya.

Merasa terpojok dan terhina, peristiwa ini dilaporkan ke Polisi dan Komnas Perempuan dengan dugaan pecemaran nama baik. Fatin y ingin pembuat komentar pedas di akun Twiternya dicari dan diproses sesuai aturan berlaku.

“Terhadap tuduhan itu, kami melaporkan dua orang pelaku yang melakukan penghinaan, yakni Sutan Iwan Soekri Munaf dan Saut Situmorang,” kata pengacara Fatin, Wirman SH, di Jl. Latuharhari 4b Jakarta Pusat, Jumat (31/10).

Menurut Fatin Hamama, dirinya disebut bajingan, sampah sampai tuduhan Mucikari dan lonte. Rentetan ungkapan kata-kata yang jauh dari norma susila dan etika budaya negeri ini.

“Bahkan lebih dari itu sudah mengarah ke fitnah keji. Tragisnya, itu dilakukan oleh sesama pegiat sastra,” ungkap Fatin yang juga berprofesi sebagai Penyair itu.

Komnas Perempuan mendukung dan mendorong korban kekerasan di media sosial untuk melaporkan pelaku kekerasan ke polisi dan membawa penjahat media sosial ke pengadilan.

“Tindakan koban melaporkan ke polisi dan berlanjut ke pengadilan ini penting dilakukan untuk merncegah kasus-kasus serupa berulang lagi di masa depan,” kata Wilmar.

Komisioner Komnas Perempuan Neng Dara Affiah mengatakan akan menanggapi dan mindaklanjuti laporan Fatin Hamama.

“Kita akan tindaklanjuti apa yang disampaikan Ibu Fatin Hamama,” kata Neng Dara.

Marahnya Sutan Sokeri Munaf dan Saut Situmorang kepada Fatin Hamama lantaran diduga ikut dalam menerbitkan buku sastra ’33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh,’

Akibatnya, muncul penista kepada Fatin Hamama secara berulang-ulang di media sosial. “Yang siapa saja bisa membacanya atau mengkomentarinya. Semakin ramai jadinya. Sampai suami, anak dan keluarga saya jadi malu,” papar Fatin. (gr)

Teks foto: Fatin Hamama dan Pengacaranya di Komnas Perempuan (gr)

TINGGALKAN KOMENTAR