Foto ilustrasi: Ekstase Kemoceng karya Agus Susilo. (ist)

Diberangkatkan Dari Koserna Oleh Sejumlah Seniman

Oleh: Thompson Hs*

TEATER  Rumah Mata Pimpinan Agus Susilo akan mengadakan pertunjukan keliling ke 10 kota di Pulau Jawa dan Sumatera. Jadual pentas keliling itu akan berlangsung mulai 24 Februari sampai 21 April 2016. Program ini dilakukan terkait dengan ulang tahun ulang tahun ke -11 dari grup yang dulunya bermarkas di Binjai itu. Selama 11 tahun Rumah Mata sudah melakukan banyak kegiatan pertunjukan sejak dirikan tahun 2005 oleh empat orang, yakni: Agus Susilo, Yusra Lubis, Sri Wanna Sari, dan Cuy.

Foto ilustrasi: Ekstase Kemoceng karya Agus Susilo. (ist)
Foto ilustrasi: Ekstase Kemoceng karya Agus Susilo. (ist)

Rumah Mata sendiri merupakan metamorfosa dari Teater Lentera STKI-P (Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangun) Medan. Agus Susilo sendiri merupakan alumnus atau sarjana dari STKI-P Jurusan Jurnalistik 2011. Agus Susilo juga mengawali perhatiannya pada dunia kesenian sejak tahun 1997 melalui Teater A SMA Negeri 1 Binjai dan terlibat menjadi pekarya dalam sejumlah kegiatan. Kecenderungannya menulis puisi dan naskah drama selain tampil sebagai aktor dan sutradara.

Karya terakhir Agus Susilo terkait 11 tahun Rumah Mata adalah “Ekstase Kemoceng. Karya ini kelihatannya dikaitkan dengan karya yang sudah ada pada tahun 2014 yang berjudul MINUS SKOR: Harus Jadi Presiden. Pada 21 Januari 2016 lalu keterkaitan kedua judul tersebut dipentaskan dalan satu percobaan pertunjukan di Bale Marojahan Medan. Namun pada 20 Februari 2016 lalu Ekstase Kemoceng” berdiri sendiri sebagai satu judul penampilan di Rumah Dewi Budiati Teruna Said, Jalan Sembada V No. 23 Koserna Medan.

Ekstase Kemoceng terlihat dimainkan oleh dua orang tokoh yang hanya dinamai sebagai Laki dan Perempuan (diperankan oleh Agus Susil dan Hayyun Kamila Humaida) dengan satu pemain biola (Ajeng Srianingsih Prakoso) yang hadir terus di tengah-tengah permainan sekitar 30 menit.

Panggung Ekstase Kemoceng di Koserna adalah teras rumah yang sudah hadir dengan mozaiknya dan tiang serta pintu masuk ke rumah. Dua kursi dengan beberapa ransel terletak dekat pintu masuk, selain satu kursi penting sebagai simbol kekuasaan di antara dua tokoh itu. Simbol lainnya adalah balutan kain-kain bekas yang dijadikan tali-tali kekuasaan dan mengikat kedua tokoh dan pemain biola.

Tokoh Laki yang menggunakan kostum seperti orang hamil atau buncit membalut dirinya dengan tali- tali itu. Dalam posisi awalnya menduduki kursi kekuasaannya dia dapat berbicara sesukanya dengan ungkapan-ungkapan yang tidak mungkin bisa dimengerti. Ungkapan-ungkapan itu seperti onomatope dengan jejak bunyi yang ditiru dari bahasa-bahasa tertentu.

Memang sesekali bahasa verbal dalam bahasa Indonesia dialog si Laki muncul, terutama untuk menegaskan emosinya sebagai penguasa atas si Perempuan. Perempuan juga harus terlilit tali-tali itu dengan beban keterikatan lainnya. Dia harus menerima elemen-elemen kekuasaan itu yang tidak dimengerti itu lewat ungkapan-ungkapan, imaji-imaji kekerasan, hasrat seketika, dan melakukan upaya balas dendam demi keinginan-keinginan yang biasanya terlalu banyak dalam berhala kekuasaan. Perempuan itu berhasil duduk dan menguasai kursi di akhir permainan.

Ketiadaan cinta menjadi satu kesimpulan dalam pertunjukan Ekstase Kemocengâ. Kesimpulan itu tertangkap dari kesan tontonanya yang diulas sejumlah penonton seusai pertunjukan. Sejumlah penonton Ekstase Kemoceng di Koserna sengaja diundang dan dihadirkan untuk menanggapi pertunjukan itu sebelum diberangkatkan. Hadir di antaranya Jasa Teruna Said (Pimpinan Harian Waspada), Dewi Budiati (Aktivis Perempuan dan Lingkungan), Dr. Hidayati (Kepala Badan Lingkungan Hidup Sumut), Handono Hadi (perupa dan teaterawan), Farida Purba (Perupa), Irwansyah Harahap (Etnomusikolog), Yan Amarni Lubis (Teaterawan), Agung Suharyanto (penari dan dosen), fasilitator pertunjukan dari Sibolga, lain-lain. Handono Hadi menawarkan kesimpulan itu dengan masukan-masukan teknis artistik terkait dengan kehadiran pemain biola selama pertunjukan di atas panggung. Masukan-masukan lainnya menohok ke sekitar garapan dan aktor yang harus keluar dari pribadi yang memerankan.

Ada sejumlah catatan yang harus diperhatikan untuk mempersiapkan keberangkatan Ekstase Kemoceng, terutama dalam persoalan inter-relasi dan interaksi, sebagaimana dijelaskan Irwansyah Harahap. Namun menurut Agus Suharyanto, pertunjukan di Koserna sudah jauh lebih meningkat dibandingkan sebelumnya di Bale Marojahan.

Sejumlah masukan itu ditampung oleh Agus Susilo, selain masukan penting lainnya untuk dukungan keberangkatan tiga orang dari mereka menuju Jakarta pada 24 Februari 2016. Setelah di Jakarta, kemudian mereka akan tampil di Bandung, Lampung, Bengkulu, Aceh, dan kembali tampil di Medan serta Berastagi. Sasaran dan target pertunjukan Ekstase Kemoceng dalah akademisi, seniman, komunitas, aktivis perempuan, dan masyarakat umum karena isu yang diusung terkait dengan perempuan dan orang-orang pinggiran. Namun dalam pengantar besar pertunjukan keliling Rumah Mata itu Ekstase Kemoceng sedang ingin membaca Gagasan Revolusi Mental melalui versi atau bahasa teater itu sendiri.

Tiga orang dalam untuk pertunjukan keliling itu sudah siap berangkat. Ketiganya sekaligus menjadi representasi tim produksi yang dibentuk. Mereka adalah pekarya, pemeran, pekerja produksi, dan pelaku artistik yang berjuang dengan semangat serta dukungan yang ada .

Sehari seusai pertunjukan di Koserna, mereka masih sempat melakukan ngamen teater di salah satu cafe di Medan. Lumayan, ada juga pemasukan hari ini, kata Agus Susilo. Mereka melakukannya terus agar pertunjukan keliling ini tetap berhasil di luar garapan juga, termasuk untuk tranportasi (pesawat dan bus). Lalu untuk akomodasi Yakoma PGI dan Bengkel Teater Rendra sudah menerima mereka.

Pertunjukan keliling Ekstase Kemoceng ini kelihatan menarik dan unik, terutama karena dilakukan dengan trio. Agus Susilo menjadi benteng kembali dalam program ini. Sedangkan dua person lainnya adalah mahasiswa yang benar-benar ditantang dalam pertunjukan keliling Ekstase Kemoceng. Hayyun Kamila Humaida, lahir 1996, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Unimed 2013, sedangkan Ajeng Srianingsih, lahir 1994, mahasiswa Sendratasik dan Pendidikan Seni Musik Unimed 2014.

Ekstase Kemoceng pasti tidak akan lupa membawa pulang oleole untuk dinamika teater dan kesenian di Medan atau Sumatera Utara. Semoga pertunjukan keliling ke 10 kota lancar dan sukses. SenSu (Seniman Sumut) Bangkit!

*Penulis adalah Direktur PLOt Siantar. Pernah melakukan supervisi untuk penampilan Agus Susilo di Mimbar Teater Indonesia (MTI) di Solo 2011 dan pertunjukan Teater Rumah Mata pada Panggung Perempuan Kala III Sumatera di Lampung 2013.

TINGGALKAN KOMENTAR