MEDAN – Tiga hal yang membikin mengapa ‘Roman Medan’ dilupakan, yakni tidak ada lembaga yang menyimpan atau menjaga keberadaan Roman Medan, para pembaca roman tidak menyimpan romannya dengan baik dan tidak dimasukkan dalam bacaan di sekolah.

Hal ini terungkap dalam Seminar ‘Sejarah Roman Medan’ yang di adakan jurusan pendidikan Sejarah fakultas Ilmu sosial Universitas Negeri Medan (Unimed) yang digelar di Gedung VIP Serbaguna, Unamed, Jalan Willem Iskandar Pasar V, Medan Estate, Sumatera Utara, Indonesia, Sabtu (31/3/2018).

Seminar yang menampilkan narasumber seperti Koko Hendri Lubis (Penulis Sejarah Roman Medan), Damiri Mahmud (Damiri Mahmud), Dr. Ir. Hj. Wan Hidayati, M.Si (Kadis Budpar Provinsi Sumatera Utara) dan Sejarawan Universitas Negeri Medan (Unimed) Ichwan Azhari  mendapatkan sambutan dari masyarakat umum, sastrawan, seniman dan kalangan mahasiswa ini dihadiri lebih dari 220 orang.

Foto ilustrasi: Djanda Liar salah satu Roman Medan. (ist)

Roman merupkan karya sastra yang menceritkan kehidupan tokoh atau beberapa tokoh dari lahir, dewasa hingga kematiannya. Roman merupkan karya sastra yang bersifat fiksi atau khayalan. Sama halnya dengan roman Medan. Roman medan merupkan jenis bacaan yang paling digemari dan menjadi primadona oleh msyarakat di zamannya.

Karena roman Medan ini unik, ceritanya itu sangat pro terhadap rakyat kecil. Roman Medan mengalami puncak kejayaan mulai dari tahun 1932 sampai 1942 saat kepemimpinan Jepang. Roman Medan sempat berhenti di produksi, namun akhirnya dilanjutkan kembali sampai tahun 1965. Akhirnya Roman Medan redup dan tidak lagi menjadi primadona dan pada akhirnya terlupakan sampai sekarang.

Foto: Damiri Mahmud disela-sela Seminar Roman Medan (FB Sugeng Satya Dharma)

“Roman Medan tidak mau mengikuti Balai Pustaka. Artinya Roman Medan itu mengambil jalannya sendiri. Para pengarang Roman Medan tidak mau menamakan diri mereka siapa sebenarnya,” kata sastrawan nasional Damiri Mahmud dalam pemaparannya.

Damiri Mahmud menegaskan, para pengarang Roman Medan tidak mau mengikuti pengarang sastra lain. “Dan mereka pun tidak mau mngikuti para pengrang sastra lain yang ada di Jakarta. Para pengarang Roman Medan ini pun tidak memiliki periodesasi seperti hal pengarang sastra lain yang ada,” tegasnya. (Arief Maulana Zen Nasution/gr)

TINGGALKAN KOMENTAR