Foto: Prita Istri Kita tampil di TIM. (gardo)

Oleh: Tatan Daniel

BERDIRI di kegelapan Teater Kecil, saya kehilangan orientasi ruang. Saya merasa, berada di balik dinding dapur rumah saya, mengintip dan menyimak isteri saya tengah merindukan mantan pacarnya, sambil menghina saya. Saya cemburu. Saya marah. Saya sedih sekali. Lutut saya lunglai. Saya gelisah. Saya ingin segera pergi dari situ, lalu duduk di kedai minuman, dan menenggak Putao berbotol-botol.

Tapi rasa penasaran, membuat saya tak bergeming. Saya terus mengintip dan mendengarkan desahnya, umpatannya, dan penyesalannya. Biola yang ia gesek, seperti menyayat-nyayat hati saya. Tiba-tiba saya ingin menangis. Saya merasakan kesedihan yang luar biasa. Saya ingin menghentikan perempuan sederhana itu, memeluknya, dan menghapus airmatanya. Saya tak boleh membiarkannya meratap. Saya terpikir, untuk mengajaknya ke rumah makan Padang yang rendangnya paling enak.

Lalu mengajaknya menonton film tentang kisah cinta yang paling romantis. Sambil merencanakan perjalanan bulan madu kedua. Saya lupa, jika perempuan di panggung itu adalah seorang pelakon senior TENA, seorang doktor, seorang insinyur, yang kemarin masih sibuk mengurus pencemaran sungai, nasib hutan rimba, dan masa depan bumi.

Pentas monolog “Prita Istri Kita” oleh seorang Wan Hidayati, kemarin malam, Sabtu, (16/9/2017), membuat saya kembali merenungi banyak ikhwal. Sama seperti pentas di Hotel Aston, Medan, beberapa waktu yang lalu. Dengan perasaan menggeremang. Sambil memastikan bahwa di Teater Kecil TIM malam kemarin, benar, TENA-lah yang berpentas. Kelompok teater modern yang paling tua umurnya di Medan.

Yang ingin menegaskan kehadirannya kembali. Saya bangga, berada di antara semangat yang tak pernah jinak, dan elan vital yang tak pernah sudi menjadi ‘cacing’ (meminjam metafora Prita di atas panggung), yang membuat saya, di malam yang kering itu, ingin segera mencari secangkir kopi panas, sambil menghirup kretek dalam-dalam, dan menyalami siapa saja yang saya temukan dengan perasaan bahagia!

Selamat kepada Wan Hidayati, kepada sang sutradara, Tuan Yan Amarni Lubis, kepada tuan Hadira Herawadi, Kuntara DM, Mak Yal, Retno Kampoeng, Banjar Hidayat, Buyung Bizard, Teddy Mihelde Yamin, Mad Binjai, Eva Gusmala Yanti, Herman Lunk, Jamal Accordion Accordion, Mitra Hutagalung, dan semuanya.. Tabik saya, dengan rasa hormat yang dalam.

Terima kasih juga, telah berkenan menjadikan Anjungan Sumatera Utara TMII yang sederhana sebagai rumah singgah, tempat mengendapkan lelah, meski agaknya, tak juga cukup tidur, karena nyamuk, mimpi, dan imajinasi yang tak henti berpijar, di remang hangat rumah Melayu. (tatan daniel/gr)

TINGGALKAN KOMENTAR