odipus dalam tanda petik pementasan
‘Oedipus Dalam Tanda Petik’ Sutradara D. Rifai Harahap

[dropcap color=”#888″ type=”square”]T[/dropcap]AK ada layar yang ditarik katrol di Gedung Taman Budaya Sumut saat menggelar pertunjukan Drama Seni Sastra di Gedung Utama Taman Budaya Sumatera Utara, Medan , Selasa (19/8/2014) malam.  Pentas itu begitu telanjangnya, setelanjang saat ‘Oedipus Dalam Tanda Petik’ itu di pentaskan.

Cerita pun bergulir dan memikat mata ratusan penonton yang nyaris memenuhi Gedung Utama Taman Budaya Sumut malam itu. Mengalir seperti juga kehidupan yang harus berlangsung. Meski terkadang tergagap-gagap namun hidup adalah sebuah proses latihan dan ujian. Oedipus yang pedangnya menancap tepat di jantung Laius adalah sebuah kenyataan dari keyakinan Sang Raja kepada nujum seorang peramal. Boleh jadi itu adalah bagian dari dirinya yang lain.

Seperti kegusaran kita akan kehidupan yang mulai kehilangan relnya, arahnya. Kesan terburu-buru masih terlihat pada pola permainan yang di sutradari D Rivai Harahap ini. Mengingatkan kita kepada tubuh-tubuh yang selalu dalam ritme sebuah kota besar. Tubuh tubuh yang dalam keseharian masih gamang, laiknya Oedipus yang dari satu kesalahan terjebak dalam kesalahan yang lain lantaran mengawini ibu kandungnya dan membunuh ayahnya sendiri.

Teater Imago dan Komunitas Sama Sama adalah perjalanan. Bukan sebuah tujuan akhir. Dia adalah waktu yang terus bergulir. Hidup adalah teater dan teater adalah hidup, begitu kata D Rivai Harahap pada suatu waktu. Kini ada mereka, aktor-aktor yang terus menggeliat melakukan perlawanan terhadap “kematian” teater di Medan. Ada Andi Mukli, Sule, A Munawar Lubis, Indra Trianta, Fachdu Wunandar, Faisal Arif, Sulaiman, Tias Septilia, Eva Susanti dan Rizky. Teater juga menjadi ada, ketika Kuntara DM, memanggungkan, daun pinang kering di halaman TBSU, plastik kresek yang terbuang, kardus pembungkus eletronik, goni plastik karung beras, topeng karton yang berkolaborasi dengan tubuh-tubuh aktor yang kemudian mampu berdialog dengan penontonnya.

Tetapi memang ada persoalan saat ada “Batak” dengan nama-nama seperti Oedipus, laius dan beberapa nama Yunani dalam cerita yang ditulis Sopochles ratusan tahun lalu. D Rivai Harahap mengaku hanya mengambil cerita dari karya besar sastra Yunani ini. Semata mata untuk sebuah tontonan yang dibentuk dari aktor-aktor yang tentu saja punya tubuh, tangan, kaki, mata, kepala, bibir, hidung, bahu yang dimerdekakan bahkan gigi. Itu juga, seperti merdekanya benda-benda di atas panggung seperti, pedang kayu, kain sarung, kain merah, putih dan hitam yang ditarik pemain yang dimerdekaan sang sutradara dengan tali rafia entah dari mana juga asalnya.

Inilah teater yang lahir begitu saja dan “kawin” juga seenaknya dengan sebuah cerita klasik yang hidup pada tahun 400-an. Tetapi perkawinan ini belum sepenuhnya memiliki ruh antara tokoh-tokoh dan aktor-aktor. Sehingga ada kegelisahan lain yang masih terjadi di bangku-bangku penonton. (aba/gardo)

TINGGALKAN KOMENTAR