Foto: Cover Novel 'Penari dari Serdang' (ist)

JAKARTA – Setelah tiga tahun lalu menerbitkan 3 buku kumpulan puisi — 99 Sajak (2015), Perjalanan 63 Cinta (2017 ) dan Luka Cinta Jakarta (2017) yang diterbitkan oleh KPG (Kepustakaan Populer Gramedia),, pada awal 2019 ini, penulis novel “Arjuna Mencari Cinta” (1977) itu menghasilkan novel baru: “Penari dari Serdang,” yang diterbitkan oleh GPU (Gramedia Pustaka Utama).

Acara akan digelar di Rumah Budaya Tembi Jogja, 20 Februari 2019, pkl.19.30-21.30 WIB.

Acara peluncuran buku baru itu, dilakukan Yudhis di dua tempat. Pertama, di Bentara Budaya Solo pada tgl 18 Februari 2019, dan kedua di Rumah Budaya Tembi Jogja pada tgl 20 Februari 2019. Khusus untuk di Jogja, acara dilakukan Yudhis bersama saudara kembarnya, Noorca Massardi yang juga akan meluncurkan novel baru, “Simvlacrvm” yang ditulis Noorca bersama putri sulungnya, Cassandra.

Acara tersebut sekalian menjadi perhelatan syukuran sederhana menjelang harijadi Yudhis & Noorca yang ke-65 (tepatnya tgl 28 Februari).

Untuk memeriahkan kedua hajatan itu, Yudhis menggelar pentas musikalisasi puisi yang dimainkan oleh kelompok Uniloka (dua pemusik rock dari Solo: Gema “Soloensis” Isyak dan Gandhi Asta).

Adhie, Yudhis, Noorca (ist)

Berbeda dengan pentas kolaborasi mereka sebelumnya (“Pentas Puisi Nge-Rock”), kali ini duet Uniloka itu memainkan musik irama Melayu dan Keroncong.

Irama Melayu untuk mengolah beberapa puisi yang terdapat di dalam novel “Penari dari Serdang”. Sedangkan irama keroncong — didendangkan bersama Farida “Ida” Klara Tika — untuk sajak-sajak introspektif yang ditulis Yudhis sebagai penanda setiap ulangtahunnya.

SINOPSIS

Novel “Penari dari Serdang” adalah kisah cinta segitiga yang memicu konflik dua orang penari dengan beban sejarah masa silam dan masa datang. Harapan dan kepedihan mereka berkelindan dengan kegelisahan etnis Melayu di Sumatera Timur yang tengah berjuang untuk mendapatkan kembali tanah ulayat mereka: demi kebangkitan marwah bangsa Melayu di zaman baru.

Buku pertama dari novel trilogi ini adalah tonggak baru bagi pengarang novel “Arjuna Mencari Cinta” untuk menandai kembalinya ke dunia sastra. Sebelumnya, Yudhistira ANM Massardi berhasil meluncurkan tiga kumpulan puisi: 99 Sajak (peraih dua penghargaan kumpulan puisi terbaik 2015-2016) , Perjalanan 63 Cinta (2017) dan Luka Cinta Jakarta (2017).

YUDHISTIRA ARDI NOEGRAHA MOELYANA MASSARDI


Yudhistira ANM Massardi (ist)

Lahir di Subang, Jawa Barat, 28 Februari 1954. Anak keenam (kembar bersama Noorca M. Massardi) dari selusin bersaudara. Mulai aktif menulis pada 1970.
Menikah dengan Apriska Hendriany (Siska) pada 28 Februari 1985. Dikaruniai tiga anak: Iga Dada Massardi (1985, kini memimpin grup band Barasuara), Matatiya Taya (1990) dan Kafka Dikara (1995).

NOVEL karyanya Arjuna Mencari Cinta (1977, terpilih sebagai Bacaan Remaja Terbaik oleh Yayasan Buku Utama-Depdikbud 1977, diangkat ke film dan sinetron), dilanjutkan sebagai trilogy dengan Arjuna Mencari Cinta Part II (1981), Arjuna Wiwahahaha…! (1984).

Berkat Arjuna Mencari Cinta, memperoleh beasiswa profesional dari Pusat Kebudayaan Jepang (tinggal di Kyoto-Tokyo selama tujuh bulan) dan terpilih untuk mengikuti Iowa International Creative Writing Programme di Amerika Serikat selama tiga bulan (1983).

Novel lainnya: Ding Dong (1978), Obladi Oblada (1979), Mencoba Tidak Menyerah (1980, salah satu pemenang sayembara mengarang roman Dewan Kesenia Jakarta), serial Joni Garang (1992).

Yudhis juga menulis SANDIWARA: Wot atawa Jembatan (1977), Ke (1978) – keduanya memenangkan hadiah dari Dewan Kesenian Jakarta — Bisu in Blue (untuk Renny Djajoesman, 2001). Rock Opera Jangan Sakiti Anakku (untuk Renny Djajoesman, 2002), Karpet Merah Cleopatra (untuk Tamara Bleszhinsky, 2003), Sopirku/Opsirku/Korupsi (>Jose Rizal Manua, 2005), drama musikan Tikungan-H (2016, untuk Renny Djajoesman).

KUMPULAN CERITA PENDEK: Penjarakan Aku dalam Hatimu (1979), Yudhistira Duda (1981), Wawancara dengan Rahwana (1983), Wanita dalam Imajinasi (1993), Forum Bengkarung (1994)

KUMPULAN SAJAK: Sajak Sikat Gigi (Kumpulan Puisi Terbaik 1977, terbit 1983), Rudi Jalak Gugat (1982), Syair Kebangkitan (1985), 99 Sajak (Mendapatkan Dua Anugerah Kumpulan Puisi Terbaik 2015 dari Yayasan Hari Puisi dan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud, 2016). Perjalanan 63 Cinta (2017, terpilih dalam 16 besar dalam kompetisi Yayasan Hari Puisi). Luka Cinta Jakarta (2017). (***/gr)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here