Peluncuran buku CemetiPeluncuran dan Bedah Buku “Turning Targets: 25 Tahun Cemeti” telah digelar pada Rabu, 28 Januari 2015 di Ruang Seminar Galeri Nasional Indonesia. Acara ini dibuka dengan sambutan singkat dari Kepala Galeri Nasional Indonesia Tubagus ‘Andre’ Sukmana, Direktur Rumah Seni Cemeti/Cemeti Art House Nindityo Adipurnomo, dan Co-Direktur Rumah Seni Cemeti/Cemeti Art House Mella Jaarsma.

Sejak berdiri pada 1988, nama Cemeti Art House atau Rumah Seni Cemeti dikenal di ranah seni rupa kontemporer. Cemeti menjadi panggung besar yang melahirkan seniman Tanah Air dan kini mendunia.

Seperti Eddie Hara, Heri Dono, Anusapati, Ichwan Noor, Bambang Toko. S.Teddy, Eko Nugroho, dan sebagainya. Berbagai catatan perjalanan sepanjang 25 tahun berdirinya Cemeti termuat dalam buku berjudul ‘Turning Targets: 25 Tahun Cemeti’.

Buku yang digagas sejak 2013 bertepatan dengan rangkaian acara 25 tahunnya Cemeti, baru bisa dirilis di 5 kota pada Januari 2015. “Kami menerbitkannya dengan dua bahasa dan ternyata membutuhkan waktu yang lebih lama lagi,” ucap Mella Jaarsma usai peluncuran buku di Galeri Nasional, Rabu (28/1/2015)

Sebanyak 17 artikel dari 17 penulis dalam buku Turning Targets: 25 Tahun Cemetimenyuguhkan persoalan infrastruktur, manajemen perkembangan seni rupa, juga tentang sejarah kolonial, dimensi waktu, kurasi, penelitian dalam menciptakan karya, residensi, dan sebagainya. Asikin Hasan memberikan 25 poin opininya terhadap buku ini, dan Adhe Darmawan yang mengingatkan tugas sebuah galeri yaitu bagaimana merelevansikan dirinya secara terus menerus.

Diharapkan Turning Targets: 25 Tahun Cemeti dapat menginspirasi dan menstimulasi kreativitas masyarakat khususnya generasi muda, serta menyuguhkan perspektif pemahaman baru tentang perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia.

Acara dilanjutkan dengan bedah buku yang menghadirkan narasumber (pendedah) Ade Darmawan (Direktur Ruangrupa / Kurator / Seniman) dan Asikin Hasan (Kurator Galeri Nasional Indonesia), serta sebagai moderator Citra Smara Dewi (Kurator Galeri Nasional Indonesia).

Paparan narasumber direspon secara antusias oleh para peserta yang terdiri dari mahasiswa, akademisi, komunitas seni, masyarakat umum, dan awak media, dengan melontarkan beberapa pertanyaan dalam diskusi santai yang juga mengakhiri acara ini. (gr)

TINGGALKAN KOMENTAR