Pelukis Aurora saat memberikan lukisannya kepada Wakil Ketua DPR RI Fadly Zon. (ist)

JAKARTA-Kurator seni senior yang juga Dosen Program Magister Penciptaan dan Pengkajian Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Prof Dr. Suwarno Wisetrotomo, M.Hum menilai pelukis muda Aurora Santika Pangastuti memiliki prasyarat yang dibutuhkan untuk menapaki jalan kesenian yang tak mudah ini. Pergulatan yang sungguh-sungguh, disertai integritas, komitmen, dedikasi dan semangat menjelajah serta menerobos kekangan, adalah modal besar serta penting untuk menghadirkan diri di panggung pemikiran dan penciptaan seni rupa hari ini serta masa depan.

“Pameran tunggal pertama Aurora ‘Ara’ Santika kali ini menghadirkan debutan baru perempuan pelukis muda usia, yang berani memilih profesi sebagai pelukis, dan sangat berani dalam hal mengambil serta mengolah tema-tema yang sangat serius yang jauh dari sederhana. Bagi saya, itulah modal yang besar bagi Ara untuk menapaki rimba dunia seni rupa. Semangatnya untuk menerobos itulah yang tampak menyala. Banyak orang bersama sang kala menunggu debut Ara berikutnya,” ujar Suwarno yang pengamat seni lukis Indonesia sekaligus kurator Pameran Tunggal Seni Rupa bertajuk “Breaking Through” di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki Jl. Cikini Raya No. 73 Menteng, Jakarta, Senin (19/2/2018).

Sebanyak 23 lukisan hasil karya gadis kelahiran Bogor 19 Juni 1996 dipamerkan dalam ajang yang digelar dari 19 Februari hingga 25 Februari 2018 ini. Selain melakukan terobosan terhadap keberaniannya memilih profesi yang penuh resiko, tema dan pesan dalam karya-karya Ara juga sangat kuat. Hal ini menandakan, dalam usia semuda itu, Ara telah berani berpihak pada suatu persoalan serius, dan berani pula menyuarakan kepada masyarakat luas.

“Melihat semangat, potensi, dan karya-karyanya, saya dengan antusias menemani, menjadi teman diskusi, memilih karya-karyanya, dan menulis untuk menyertai pameran tunggalnya ini. Saya merasa, Ara memiliki modal yang cukup baik untuk menghadirkan diri dalam percaturan seni rupa melalui gagasan dan karya-karyanya,” tutur Suwarno.
Menurutnya, menjadi pelukis adalah pekerjaan yang melibatkan ketrampilan yang piawai, kecerdasan gagasan, kejujuran, komitmen, integritas, disertai perilaku yang bertanggung jawab. Karena ‘kecerdasan gagasan’ memiliki implikasi penting dan mendasar.

“Aurora Santika, perempuan muda yang memilih pekerjaan menjadi pelukis, memenuhi syarat disebut sebagai bagian dari Generasi Millenials,” tuturnya.

Generasi milenial merupakan generasi yang lahir dan tumbuh di tengah kompleksitas persoalan yang berlapis-lapis, dari kepungan teknologi informasi dan komunikasi mutakhir yang cepat dan serba digital, persoalan kehidupan sosial, politik, ekonomi, budaya, dalam skala mikro maupun makro, yang secara langsung maupun tidak, berdampak pada pilihan pekerjaan (profesi). Sebutlah sebagai contoh, betapa “kekerasan” semakin marak, seiring dengan peranti teknologi informasi yang demikian gampang di gunakan.

“Karya-karya lukisan Ara menyimpan sekaligus menyuarakan pesan yang kuat, yakni perkara di sekitar ‘kekerasan’ yang menimpa seseorang, yang menimbulkan trauma, dan bagaimana upaya melawan kekerasan serta trauma itu. Sebuah tema yang cukup serius, karena terkait dengan ‘luka-luka’ psikologis yang tak mudah mengelolanya,” ulasnya.

Dia menilai, karya-karya lukisan Ara, secara visual menunjukkan tata rupa warna-warna tajam; merah, biru, kuning, hijau dengan intensitasnya masing-masing, baik menuju gelap atau terang. “Karya-karya lukisan Ara yang penuh warna itu, dapat dipahami sebagai upaya membangun ironi melalui warna dan bentuk, bahwa pergulatan, perjuangan, kecemasan, atau trauma, tak harus dihadirkan dengan warna-warna muram, apalagi gelap. Pilihan terhadap warna-warna terang dan tajam merupakan bagian dari upaya pembebasan sekaligus menyuarakan perlawanan,” ucapnya.

Suwarno menilai Ara adalah seorang pembelajar yang cermat. Karya-karyanya bertolak dari pengalaman dan pengamatan terhadap apa yang terjadi pada dirinya dan di lingkungannya. Dalam pameran ini, karya-karya Ara dapat dikelompokkan menjadi tiga seri tema yang saling bertautan, yakni pertama seri Memories, kedua seri Paper Airplane, dan ketiga seri Snakes & Rabbits.

Pada dua karya pertama seri Paper Airplane, pesawat kertas (paper airplane) menjadi simbol keleluasaan gerak di ruang terbuka (lihat karya Flying the Paper Airplane, 2016, lukisan terdiri atas tiga panel yang menggambarkan perempuan muda tengah bermain pesawat kertas). Sosok perempuan adalah gambaran diri Ara, dan pesawat kertas adalah cita-cita dan pilihan hidupnya yang berada dan bergerak bebas di ruang terbuka. Ide karya tersebut ternyata berawal dari pengalaman traumatik ketika menjadi target bullying oleh oknum tertentu selama beberapa bulan masa perkuliahan. “Demikianlah cara Ara melawan. Kemarahan yang traumatis itu diwujudkan menjadi lukisan berseri (sequel) dengan dirinya sebagai pemeran utama,” jelasnya.

Karya-karya pada seri Paper Airplane tak hanya bertolak dari peristiwa perundungan, tetapi juga meluas terkait persoalan relasi dan komunikasi dengan teman, dengan orang tua, serta sekitar perasaan cemas terhadap diri sendiri terkait pilihan profesinya. “Misalnya, lewat lukisan Out of the Slump (2016), Underwater (2017), Into the Surface #1 (2017), Escape (2017), Looking Up (2017), Crawling the Way Out (2017), dan Into the Surface #2 (2017) dll,” terangnya. Ara jelasnya menggambarkan dengan baik semangat melawan itu dalam karya final dari seri Paper Airplane yaitu Breaking Through (2017) yang juga menjadi tajuk pameran tunggal Ara kali ini.

Dalam karya-karya seri Paper Airplane, Ara merasa menemukan kekuatan, keberanian, dan passion (gairah) untuk menekuni pilihannya (sebagai pelukis) sekaligus semangat untuk menyuarakan perlawanan. Semangat semacam itu digunakan untuk melihat dan memahami dari dekat persoalan-persoalan yang menimpa kaum perempuan yang meninggalkan trauma serius, termasuk di antaranya persoalan kekerasan seksual. Apalagi, Ara menyaksikan dari dekat kawan-kawannya yang mengalami kekerasan seksual dengan banyak cara, modus, dan berdampak memprihatinkan. Hal tersebut mendorong Ara untuk menciptakan karya-karya dengan seri tema Snakes & Rabbits yang berbicara mengenai dampak dan modus dari kekerasan seksual, khususnya terhadap perempuan dan anak-anak.

“Ara menyampaikan pesan melalui lukisan, bahwa keberadaan jaringan predator seks pada anak-anak merambah melalui jaringan media sosial seperti tertuang dalam karya Be Wary of Spider(s) (2017)”, ulasnya mengenai salah satu karya dalam seri Snakes & Rabbits. Pada karya The Merchant and the Client (2017) yang menggambarkan seekor tikus dan kelinci sedang bersekutu jahat dibawah rimbun taman, Ara menyampaikan kekhawatirannya mengenai prostitusi di masyarakat. Bahkan Ara juga menggubah lukisan dengan nada getir yang bertolak dari kisah nyata, yakni tentang pencabulan siswa sekolah Madrasah di daerah Bantul pada tahun 2017, yang dilakukan oleh guru bimbingan konseling melalui lukisan bertajuk A Teacher Misconduct (2017).
“Lukisan itu merupakan paparan yang menyodok ulu hati kita semua. Ketika kejahatan dipraktikkan, sesungguhnya ia tengah menebar teror seanjang hayat bagi korbannya. Sungguh pengalaman traumatis yang merenggut masa depan kehidupan sang korban,” pungkasnya.

Ditempat yang sama, Aurora Santika mengatakan pameran tunggal berjudul “Breaking Through” ini merupakan langkah awal menapaki dunia profesionalitas seni rupa. Hal ini juga sekaligus perkenalannya dengan lingkaran seni rupa di Jakarta.
“Saya harap karya-karya dalam pameran ini dapat diterima dengan baik oleh masyarakat penikmat seni di Jakarta serta dapat meramaikan wacana sepak terjang perupa perempuan di Indonesia,” pungkasnya. (gr)

TINGGALKAN KOMENTAR