Seputar kota Medan yang menjadi ibukota provisi Sumatera Utara memiliki banyak tempat pariwisata yang indah dan elok bahkan mempunyai pesona sebagai tempat masyarakat kota untuk membuang kepenatan setelah sepekan berja. Dari sekian banyak tempat piknik itu, tak banyak yang dikenal masyarakat kota Medan sendiri, tak lain karena tak digarap sebagaimana mestinya. Bahkan dibiarkan begitu saja, sehingga pesona alam itu pun terbenam dan diam.

Tercatat lebih dari 20 tempat pariwisata yang tak tergarap sebagaimana mestinya, seperti Air Terjun Dua Warna, Desa Durian Sirugun, Kec Sibolangit, 4 jam dari Kota Medan (3 jam berjalan kaki ke lokasi), dengan ketinggian 75 m. Air yang jatuh berwarna putih, setelah sampai ke telaga berubah menjadi biru. Ada  Air Terjun Sempuran Putih, Sir terjun 7 tingkat di Desa Cinta Rakyat, Kec Sibolangit, 2 jam dari Kota Medan, dilanjutkan 30 menit berjalan kaki. Ketinggian air terjun 150 m, namun ketujuh tingkatan air terjun hanya bisa dilihat dari sisi yang berbeda.

Ada Danau Linting, Sebuah puncak bukit kecil di Desa Sibunga-bunga Hilir, Kec Sinembah Tanjung Muda (STM) Hulu, 49 km dari Medan. Juga ada Lembah Loknya Desa Bandar Baru, Kecamatan Sibolangit, 45 Km dari kota Medan, berupa lembah dengan pemandangan indah, dan air terjun yang jatuh dari bukit ke sungai–sungai kecil yang dipenuhi dengan batuan besar.

Percut pantai (2)

Termasuk Pemandian Alam Lau Sigembur, Desa Simada-mada, Kec STM Hilir, 31 km dari Kota Medan, yang dikelilingi hutan rindang dan hawa sejuk. Selain itu, Pemandian Alam Kasanova, Kecamatan Sibiru-biru, 17 km dari Kota Medan, yang merupakan aliran sungai Seruai. Puluhan tempat lainnya di seputar kota Medan itu seperti mati.

Salah satu  tempat pariwisata yang tak tersentuh oleh tangan profesional adalah Pantai Percut,  Kecamatan Percut Sei Tuan, Deli Serdang, Sumatera Utara. Pantai ini tampaknya masih belum dikembangkan mengingat minimnya informasi tentang pantai ini.

Kota Medan semestinya bangga punya Pantai Percut. Penulis pun sudah cukup lama tidak kesana, dapat dipastikan 20  tahun lebih. Padahal, jarak Kota Medan ke Pantai Percut dengan kenderaan sepada motor tak lebih dari 45 menit  perjalanan. Ketika akan melangkah ke Percut, tak banyak referensi yang diperoleh. Kecuali dari mulut ke mulut.

Sebelum melangkah ke Percut, hatipun sudah mangkal, sebab masyarakatnya yang pasif. Ada rasa kesal dengan masyarakat di sekitarnya, dan hatipun bertanya-tanya mengapa mereka tidak menafaatkan dan mengelola tempat yang punya pesona ini?

Sebuah sungai membelah Desa Percut yang airnya mengalir menuju muara dan tembus ke laut Selat Malaka sebuah keindahan yang tak terbayangkan sebelumnya. Meski Sungai Percut tidak sebesar Sungai Mahakam, hanya 50 m atau kurang lebih seluas Sungai Deli yang membelah Kota Medan. Tapi, jika menatap ke laut lepas dan mata mengikuti riak air, disitulah pesonanya terlihat.

Tatkala mata mendekati muara, maka akan terlihat kawanan burung Bangau yang banyaknya lebih dari seribu ekor itu dapat memanjakan mata, dengan warnanya yang putih, terbang, bermain dan mengepakan sayapnya di atas permukaan air laut atau di tepi payah. Jika, mata perpaling dari kawnan burung Bangkau itu, maka akan menemukan air yang butek dan tempatnya tidak dikelola dan ditata dengan baik. Bahkan air bersih sulit ditemukan disana.

Pantai dan muara Percut yang punya pesona itu, ternyata tak menggoda masyarakat kota Medan untuk menikmatinya. Masyarakat kota Medan lebih mengutamakan kuliner hidangan lautnya, sehingga percut pun indentik dengan kuliner hidangan laut ketimbang pantainya yang indah. Kuliner hidangan laut Percut semakin terkenal lantaran tidak perlu uang banyak, tapi bisa membikin kenyang, sebab semuanya menu dengan harga murah.

Percut pantai (1)

Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang di bangun di Bagan Percut itu, rupa-rupanya mendatangkan ide bisnis kuliner yang murah meriah namun mampu memanjakan selera pecinta hidangan laut. Salah satu yang melihat potensi bisnis yakni Rumah Makan Romauli. Pengelolanya berasal dari Aceh, namun mampu membangun bisnsisnya dengan baik. Ada juga Rumah Makan Cahaya Putri. Rumah makan ini selain menyediakan makanan khas laut juga menyediakan hiburan organ tunggal.

Kembali ke wisata kuliner ala Bagan Percut yang unik.  Begitu kita sampai, boleh naik sepeda motor yang kalau di Medan di sebut  ‘kereta’ , boleh juga naik mobil. Kita akan di sambut dengan seorang juru parkir yang ramah. Tamu sangat dimanjakan disana. Jika di tempat lain sekali parkir bisa ditekan Rp5000, di sini mereka hanya mengenakan Rp 2000 saja.

Setelah mengunci kenderaan di tempat yang aman, kita langsung menuju Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Di sini kita juga tidak risih lantaran (biasanya) di kejar-kejar atau ditarik-tarik untuk membeli ikan. Tetapi pedagang di sana hanya menggelar ikan-ikannya, dan mempersilahkan pengunjung membeli sesuai selera masing-masing sehingga kita sangat merasa nyaman.

Kalau Anda dari kota Medan, maka akan  kaget setelah mendengar harga ikan dan makanan laut lainnya. Ada udang dari segala jenis, ikan dari segala jenis (terutama ikan besar) dan jenis kepah termasuk kerang. Semuanya bila dibanding harga di kota sangat jauh lebih murah.

Bersama keluarga mencoba menawar udang Kelong yang ternyata harganya cuma Rp 50 ribu.  Terbilang cukup murha, jika dibandingkan perkilo di pasar-pasar di kota Medan. Kami 4 orang, tak mampu menghabiskan  udang Kelong   yang dipesan tadi. Bila hendak Rumah Makan Cahaya Putri, harus menyeberangi Sungai Percut dengan boad. Ongkosnya juga tidak mahal, cukup mengeluarkan Rp3000 dari kocek. Saat menginjakan kaki di kawasan Rumah Makan Cahaya Putri, kami sudah disambut dengan senyuman yang ramah dari pelayan-pelayannya. Kita tinggal pesan, mau olah menu apa ikan laut yang dibeli di TPI tadi. Tinggal menyembutkan, sambal saos tomat asam manis, ikan bakar atau goreng, kepiting saos tomat atau asam, sayur asam sambal terasi dan lain-lain. Kesemuanya menu yang ditawarkan akan menggoda selera pecinta kuliner ala Percut.

Saat menunggu makanan disajikan, kita dapat  sejenak memanjakan mata dengan memandang ke arah sungai dengan boad yang berseliweran menganggkut penumpang, sembari menikmati minuman berbagai juce dengan harga hanya Rp8000 per porsi. Semua menu yang dipesan, dengan harga yang pantas.. Untuk memasak satu jenis menu makanan, koki hanya mendapatkan imbalan sebesar Rp7000.

Inilah pesona Pecut, lebih dikenal sebagai tempat kuliner. Padahal, jika saja dikelola dengan baik, Percut bisa menjadi tempat wisata yang menjanjikan. Tidak saja bagi Pemkab Deli Serdang, tapi juga bagi investor yang bisa mengembangkannya. (aba/gardo)

TINGGALKAN KOMENTAR