Foto: Ruang Pameran Tetap Koleksi GNI. (ist)

JAKARTA – Galeri Nasional Indonesia (GNI) kembali membuka Pameran Tetap Koleksi GNI/Koleksi Negara sejak 23 Maret 2019 setelah melakukan penataan ulang selama kurang lebih empat bulan. Penataan ulang dilakukan pada interior dan juga tata karya berdasarkan konsep kurasi yang dirancang oleh tim Kurator yaitu Bayu Genia Krishbie dan Teguh Margono.

Pameran Tetap Koleksi GNI di Gedung B lantai 2 selanjutnya dibuka untuk umum setiap Hari Selasa hingga Minggu, pukul 09.00-16.00 WIB, kecuali Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama. Khusus selama bulan Ramadan, pameran ini ditutup pada pukul 15.00 WIB.

“Tujuan penataan ulang ini adalah untuk memberikan penyegaran terhadap tampilan Pameran Tetap Koleksi GNI, mempresentasikan karya-karya koleksi GNI/koleksi negara yang belum pernah ditampilkan pada Pameran Tetap sebelumnya, dan juga meningkatkan layanan edukasi-kultural GNI kepada publik khususnya di bidang seni rupa,” kata Kepala Galeri Nasional Indonesia, Pustanto, Rabu (8/5/2019).

Foto: Ruang Pameran Tetap Koleksi GNI. (ist)

Ruang Pameran Tetap Koleksi GNI sebelumnya pernah dilakukan penataan pada 2013-2015. Sebelum 2013, Pameran Tetap Koleksi GNI menampilkan karya-karya perupa Indonesia dan mancanegara berdasarkan kurasi tertentu dan bergantian secara periodik, dengan tiga kategori penyajian yaitu kategori kronologis sejarah seni rupa modern Indonesia; kategori tematik seperti pemandangan alam dan abstrak; serta kategori karya-karya seniman mancanegara.

Setelah penataan pada 2015, Pameran Tetap Koleksi GNI yang dikuratori Suwarno Wisetrotomo dan Citra Smara Dewi ini disajikan dengan penataan berdasarkan periodisasi perjalanan seni rupa Indonesia yang terbagi dalam dua bagian besar, yaitu Galeri 1 dan Galeri 2, yang secara keseluruhan terdiri dari 13 ruang dengan dilengkapi teks informasi (cetak dan multimedia).

Galeri 1 menampilkan Seni Rupa Modern Indonesia dan Internasional yang terbagi menjadi tujuh ruang, di antaranya Ruang 1: Koleksi Internasional; Ruang 2: Raden Saleh Sjarif Bustaman (1807–1880); Ruang 3: Mooi Indie dan Persagi (1920–1942); Ruang 4 dan 5: Era Pendudukan Jepang, Kemerdekaan Republik Indonesia, dan Lahirnya Era Sanggar (1942–1945); serta Ruang 6 dan 7: Era Akademi Seni Rupa (1947–sekarang). Sedangkan Galeri 2 dibagi menjadi empat ruang, di antaranya Ruang 8 dan 9 yang menampilkan Gerakan Seni Rupa Baru, serta Ruang 10 dan 11 yang menyajikan Seni Rupa Kontemporer Indonesia.

“Dibukanya kembali Pameran Tetap Koleksi GNI melalui konsep penyajian yang baru ini merupakan wujud upaya GNI dalam memberikan layanan edukasi–kultural sekaligus kesempatan bagi publik untuk mengakses, mendapatkan pengetahuan atau informasi, memahami, serta mengapresiasi karya-karya para perupa Indonesia, dan juga mengenal lebih dekat sosok para perupa Indonesia melalui presentasi karyanya,” kata Pustanto.

Foto: Ruang Pameran Tetap Koleksi GNI. (ist)

Selain itu melalui karya-karya yang ditampilkan, diharapkan dapat menjadi rujukan tentang perjalanan seni rupa Indonesia sekaligus referensi dalam mengenali dan mencermati orisinalitas karya seni rupa. Pameran ini juga diharapkan dapat menjadi destinasi wisata visual bagi publik luas. Dari segi kelembagaan, pameran ini merupakan bentuk pertanggungjawaban GNI kepada publik atas tugas dan fungsi GNI dalam pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan karya seni rupa untuk mendukung praktik-praktik terkait pengembangan ilmu pengetahuan khususnya seni rupa. (**/gr)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here