Dok. GNI (12)

MENGENANG almarhum pegrafis perempuan Indonesia, Galeri Nasional Indonesia kembali menggelar Pameran Tunggal Marida Nasution (Alm.) untuk yang kedua kali. Sebelumnya pada Maret 2001 silam, pernah diselenggarakan Pameran Tunggal ke-IV Marida Nasution berjudul “Harkat Perempuan”.

Pameran yang terbuka untuk umum ini berlangsung hingga 30 Maret mendatang. Setiawan Sabana menjadi kurator dari pameran yang menampilkan 40 karya mendiang Marida ini. ’’Pameran in memoriam ini hendak mengenang Marida Nasution dari sisi perjalanan kiprah seninya secara utuh dari masa awal hingga akhir,’’ kata Setiawan Sabana. Menurut Wawan, sapaannya, ada benang merah perjalanan kesenimanan Marida yang muncul dalam karya-karya di pameran ini.

Wawan menyebut pemilihan karya-karya dalam pameran ini merujuk pada enam katalog pameran Marida Nasution semasa hidup. Sebagai seorang pegrafis, Marida piawai dengan teknik-teknik cetak saring, maupun etsa.

Wawan menyebut Marida juga bereksplorasi dengan karya tiga dimensi berupa patungpatung mungil dalam kemasan khas seni intalasi. Wawan berpendapat, karya Marida yang tak hanya berkutat dengan dunia grafis menunjukkan eksplorasi keluar batas konvensi pegrafis pada umumnya.
’’Lewat instalasi grafis, seni grafis diajak untuk membaurkan diri dalam wacana seni kontemporer Indonesia secara umum,’’ kata Wawan.

Pameran ini merupakan hasil kerja sama Galeri Nasional Indonesia dengan Keluarga Besar
Marida Nasution dan Institut Kesenian Jakarta. Berbeda dari pameran-pameran sebelumnya, pameran ini sebagai wujud dari rencana dan kehendak Marida Nasution yang sudah dipersiapkannya menjelang akhir hayatnya.

Pameran tunggal kali ini merupakan pameran retrospektif dalam rangka mengenang sosok Marida Nasution yang telah berpulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa pada 22 September 2008. Pameran ini menguak sisi perjalanan kiprah seni Marida Nasution secara utuh dari awal hingga akhir, dengan menunjukkan “benang merah” perjalanan tersebut sehingga alur dan liku-liku perjalanan kesenimanan dan kesenian Marida dapat
terbaca.

Dok. GNI (11)

Konsep in memoriam tersebut diterjemahkan dalam penyajian sekitar 40 karya grafis cetak saring dan etsa (etching) yang tidak hanya berupa karya seni grafis konvensional, tetapi juga menghadirkan objek-objek 3D (patung-patung kecil), dalam kemasan yang meruang sebagai karya instalasi. Dalam karya instalasi tersebut cetak saring sebagai teknik tidak diterapkan pada helaian kertas tapi pada helaian akrilik yang transparan.

Keseluruhan karya itu menandai kiprah seni almarhumah sejak masa pendidikan sebagai mahasiswi seni grafis Institut Kesenian Jakarta (IKJ) hingga beberapa waktu menjelang wafat akan ditampilkan dalam pameran ini. Rujukan yang dipakai sebagai titik tolak penyajian koleksi karya tersebut adalah keberadaan enam katalog pameran tunggal pertama (1991), kedua (1994), ketiga (1997), keempat (2001), kelima (2004) dan keenam (2005).

Selain karya-karya Marida Nasution, pameran ini juga menyuguhkan berbagai peralatan kerja almarhumah, objek-objek yang disayanginya, dan arsip-arsip lain yang dipandang menjadi “kesatuan” dengan sosok Marida di dalam dan di luar konteks kesenian, sebagai perempuan pegrafis Indonesia dan sebagai individu perempuan pada umumnya.

Penceritaan kisah perjalanan kesenimanan dan kesenian Marida juga diperkuat dengan Peluncuran Buku berjudul “Marida Nasution: Kiprah Seorang Perempuan Pegrafis Indonesia”, yang akan melengkapi pembukaan pameran ini.

Melalui pameran ini, diharapkan seni grafis dapat diapresiasi publik secara luas, serta menjadi inspirasi dan motivasi bagi para pegrafis generasi baru untuk menekuni demi memperjuangkan seni grafis agar tetap terjaga eksistensinya sejajar dengan perkembangan seni rupa lainnya. (gr)

TINGGALKAN KOMENTAR