TAHUN ini genap 100 tahun kelahiran mendiang pelukis Basoeki Abdullah. Cucu tokoh pergerakan nasional, Dr. Wahidin Sudirohusodo yang dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 1915 ini telah dianggap sebagai sosok pelukis yang paling dikenal di Indonesia, karena telah memberi warna dalam praktik dan wacana seni rupa modern Indonesia. Program yang digelar oleh Museum Basoeki Abdullah ini puncaknya akan terjadi pada 21 September nanti di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.

poster_basuki-01-724x1024 (1)

Banyak yang tertarik dengan pelukis yang sering menerima pesanan potret ini. Bukan hanya karena tampangnya yang rupawan. Bukan pula karena ia pandai bergaul dengan berbagai kalangan. Bukan juga karena kemampuan menjadikan modelnya “lebih indah” (karena ia memiliki keterampilan teknik yang amat mumpuni).

Lebih dari sekadar itu, ia juga punya sejenis kemampuan personal, yakni komunikasi dan pendekatan yang membuat banyak orang merasakan kehadirannya adalah bagian dari kesenangan, kenyamanan, sekaligus memberi kebanggaan.

Sebagian lagi menganggapnya sombong dan elitis. Ia pemilih dan perfeksionis. Terlalu tinggi bagi kalangan yang tak memungkinkan dekat dengan diri & dunianya. Untuk sekadar nonton pamerannya saja, harus bayar. Padahal membayar untuk menonton pameran itu di luar kebiasaan pada masa itu, sekarang saja di Indonesia belum terbiasa. Anggapan sinis sepanjang hidupnya juga tak pernah berakhir: pelukis salon, penganut mooi indies, ke-Barat-baratan, mata keranjang, playboy, dan perayu wanita.

Nah, ini dia, “rayu”, “perayu” & “rayuan”? Kata “rayu” dalam kamus berarti bujukan, janji, juga hiburan untuk menyenangkan hati. Arti yang lain adalah memikat. Plus, berarti pula “mengajukan permohonan”. Perayu, tentu adalah orang yang mengajukan rayuan. Rayuan adalah hasil dari merayu.

Basoeki Abdullah tanpa disadari telah meninggalkan jejak berupa rayuan. Ini bukan perkara perilakunya. Bukan hanya dirinya, setiap orang memiliki keinginan merayu. Jadi dalam konteks ini lukisan-lukisannya adalah salah satu hasil “rayuan atau hiburan (yang menyenangkan)”.

Rayuan adalah kehendak. Kehendak yang ditafsir dan diinterpretasi menjadi ungkapan dan ekspresi artistik. Lukisan adalah cara ungkap, sekaligus sebuah jalan untuk menghasilkan opini atas realitas yang digali dari kesenangan dan kemampuan. Maka hasilnya bisa menyenangkan atau mengecewakan apresian. Lukisan, puisi, lagu, rangkaian bunga adalah beberapa sampel sebuah sarana sekaligus juga hasil dari rayuan.

Pameran ini ingin memandang sosok Basoeki Abdullah yang telah berhasil mengajak kita untuk “merayakan kehangatan dan keceriaan melihat realitas kehidupan dan alam raya”. Ia dan karya-karyanya tampak tidak memperlihatkan phatos, kedukaan, kematian atau persoalan sebagai derita, apalagi untuk waktu yang lama. Karya-karyanya seperti mantra visual, lebih dekat dengan konsep eros dalam kehidupan sehari-hari.

Ia memilih menjadi naturalis yang kuat. Ia seperti merayu kita semua untuk tetap mampu kritis meski kadang dan sekaligus lengah dan terbuai. Karenanya, “rayuan” seperti menjadi metode dalam berkarya. Kebesaran alam, para potret elite, wanita-wanita cantik, dewa-dewi adalah objek yang menjadi sarana beautifikasi atau penciptaan kenikmatan baginya. Rayuannya memikat kita semua.

Dalam rangkaian 100 tahun peringatan lahirnya Basoeki Abdullah ini, sejumlah karya yang bernapaskan kehangatan, keceriaan, dan pentas para manusia pilihan menjadi sajian utama. Sejumlah karya yang bertema potret, pemandangan alam, mitologi, dan topik keperempuanan menjadi bagian di dalamnya. Tentu saja dalam pameran ini akan diseleksi sejumlah karya, baik yang ada di Museum Basoeki Abdullah, Galeri Nasional Indonesia, museum lainnya dan sejumlah kolektor individu.

Pameran ini juga didukung dengan agenda lain seperti kompetisi seni rupa komunitas Wedha Pop Art Portrait (WPAP), pameran pendukung yang diselenggarakan di Galeri Rumah Jawa, serta Diskusi Permuseuman dengan topik “Museum Basoeki Abdullah Ditengah Permuseuman Indonesia”. Selain itu ada pula seminar seni rupa tentang Basoeki Abdullah yang mengetengahkan pembicara rektor IKJ Dr. Wagiono, sejarawan J.J.Rizal, pengamat seni Eddy Soetriyono pada 23 September nanti.

Pameran yang rencananya akan dibuka oleh Menteri Pendidikan ini juga mengundang para perupa, dengan sistem seleksi tertutup. Konsep “Rayuan”, bukan sekadar mampu menvisualisasikan objek atau subjek sebagai sebentuk kenikmatan mata. Lebih dari itu, kami mengajak semua untuk melakukan “rayuan” dengan spirit edukasi, religi, maupun sosial. Dimana akhirnya lukisan tidak saja sebagai benda artistik (ekonomis), tetapi lebih dari itu, sebagai objek praktik intelektual, maupun diagnosa situasi dan kristalisasi ideologi.

Tujuan pameran ini pertama untuk kritis terhadap peran, proses kreatif dan sejarah Basoeki Abdullah. Keduabertujuan untuk menggali sejauh mana sesungguhnya wacana dan makna “Rayuan” di alam pikiran para perupa, terutama pada pelukis Basoeki Abdullah. Ketiga untuk menciptakan situasi berupa tindak (misalkan Anda melakukan) rayuan dalam konteks kritis, agar lebih indah, memikat sekaligus berdasar realitas dan fakta yang terjadi sesungguhnya melalui kecerdasan. (gr)

Foto ilustrasi poster  ‘Rayuan 100 Tahun Basoeki Abdullah’ (ist)

TINGGALKAN KOMENTAR