Foto: Opera Batak Sisingamangaraja di Malaysia (giat)

KUALALUMPUR – Tim Pertunjukan Opera Batak ‘Sisingamangaraja Tongtang I Tano Batak menguncang Universiti Teknologi Mara (UiTM) Pahang, Malaysia. Betapa tidak, lebih dari dua ribu penonton menyaksikan opera yang jarang ditemukan di negara jin tersebut.

Dengan jemputan khusus ke Kualalumpur esok hari setelah pertunjukan di University of Malaya (24/09). Perjalanan dari Kualalumpur ke Pahang mencapai 3 jam. Lokasi UiTM begitu asri dan 20 orang dari tim diinapkan di lingkungan kampus yang memiliki 170 ribu mahasiswa itu.

Tiba di UiTM semua peralatan pertunjukan sekaligus ditempatkan langsung di Gedung Dewan Indera Segara, tempat pertunjukan yang dilangsungkan pada 26 September 2018. Suasana ketenangan di lingkungan kampus UiTM membuat tim lebih bebas untuk istirahat sebelum disambut dan dijamu makan malam oleh pihak universitas dengan sambutan langsung oleh Prof. Dr. Mohd Nazip Suratman, Rektor dan Lectur Senior UiTM.

Pelakon Opera Batak Sisingamangaraja di Malaysia (giat)

Dalam suasana makan makan rektor yang alumnus sejumlah perguruan tinggi luar negeri itu menyampaikan rasa bahagia dengan hadirnya saudara-saudara serumpun membawa pertunjukan Opera Batak “Sisingamangara”, di samping harapan beliau untuk membangun kerjasama selanjutnya. Sedangkan Dr. Sulaiman Juned, MSn menyampaikan kemungkinan kerjasama itu, meskipun tim pertunjukan masih merupakan hasil program hibah bagi empat dosen Insitut Seni Indonesia (ISI) Padangpang. Keempat dosen tersebut setelah Sulaiman Juned (seksligus pemeran Guru Somalaing) adalah Enrico Alamo (sutradara), Sherli Novallinda (Koreografer), dan Rosta Sembiring.

Dua nama terakhir kebetulan berhalangan ikut bersama tim ke Malaysia. Namun proses awal dilakukan keempat dosen dengan survey dan penelitian hingga melahirkan naskah “Sisingamangaraja” dan melibat penyelesaiannya dengan tiga dosen lainnya untuk garapan pertunjukan. Selain dosen teater (Edi Suisno) dua dosen karawitan terlibat (Sriyanto dan I Dewa Supenida) hingga berangkat ke Malaysia pada 23 – 27 September 2018.

Semua dosen yang ikut ke Malaysia diperkenalkan kepada Rektor UiTM, di samping para aktor dari ISI Padangpanjang (Ikhsan Harianto, Wulan, Rika, Teuku Akmal, Berri) dan Thompson Hs dari PLOt Siantar. Para penari (Lovia, Ayu, Irwan, Suci, Rani, Julianto) serta mahasiswa musik (Hatta, Yohanes) melengkapi suasana hangat dalam sambutan dan perkenalan dengan Rektor UiTM Pahang, di samping Giat (dokumenter) dan Oktavianus (musisi PLOt).

26 September 2018 (malam) tepat dengan waktu dan urutan acara para mahasiswa UiTM Pahang memenuhi Gedung Dewan Indera Segara. Rektor dan tiga wakil duduk paling depan dengan seorang Ibu Boru Pane dari Sidimpuan. Pertunjukan diawali dengan penampilan drama oleh dua orang mahasiswa UiTM yang tergabung dengan kelompok teater di sana yang beberapa tahun terakhir menjadi terdepan dalam kompetisi pertunjukan teater di Malaysia. Penampilan kedua mahasiswa melakonkan cerita antara Ayah dan Anak. Reaksi bagus dari arah penonton bergantian untuk penampilan drama itu.

Pertunjukan Opera Batak “Sisingamangara” pun dimulai setelah protokol menyampaikan petikan tentang cerita dengan penekanan pada sebuah pesan: “Pahlawan mati hanya sekali dan hidup berulang kali. Sedangkan penghianat selalu mati berkali-kali dan hidup hanya sekali.”
Video Mapping membuka judul dengan nama Sisingamangaraja dan posisinya sebagai kerajaan spiritual di Tanah Batak. Video mapping dibuat terakhir oleh M. Rafqi Ansar untuk ilustrasi dan pengganti setting panggung. Suasana tradisi dan kontemporer berbaur dalam pertunjukan dengan hadirnya delapan (8) tari dan visualisasi gerak yang turut menjadi ilustrasi dalam suasana perang dan gerilya Sisingamangara dan keluarga.

Sungguh menyedihkan Perang di Tanah Batak (Tongtang I Tano Batak) melalui pengorbanan Sisingamangara, keluarga, dan para panglima dari berbagai daerah (termasuk Aceh). Akhir pertunjukan secara beruntun ditampilkan kematian Putri Lopian, Patuan Nagari, dan Sisingamangaraja setelah sebelumnya dikabarjan kematian Sarbut Tampubolon dan Amandopang Manullang.

Kesedihan itu memang bukan untuk melarutkan karena usungan Opera Batak arahan sutradara Enrico Alamo masih merupakan episode pertama yang ajan dievaluasi untuk episode berikutnya dalam kaitan hibah penelitian dari Kemenristek Republik Indonesia. Kesedihan yang mengakhiri tragisnya perang yang dipimpin Sisingamangaraja XII melawan kolonial digantikan oleh seorang narator (Berri Prima) yang awalnya menyampaikan sejumlah satire dan mengakhiri situasi saat ini dengan kurangnya refleksi atas pengorbanan para pendahulu untuk tanah air dan bangsa.

Tim pertunjukan dengan penuh aplaus direspon oleh lebih duaribu penonton di Pahang malam itu sebelum tukar cendera mata antara kedua belah pihak. Suasana multikultural pada malam itu juga begitu tampak dan membangun suasana akrab melalui sesi berfoto antara tim dan penonton. (Thompson Hs/gr)

TINGGALKAN KOMENTAR