Foto: Acara Grebeg Surowiti. (ist)
loading...

Tumpeng dikumpulkan di dua lokasi yakni, di parkir wisata desa serta di lokasi pesarean (lingkungan yang dipercaya sebagai petilasan Sunan Kalijogo)

GRESIK – Dalam napak tilas perjalanan Sunan Kalijogo, para warga di Desa Surowiti, Kecamatan Panceng, Gresik, Jawa Timur, menggelar agenda rutin tahunan bertajuk “Grebeg Surowiti”, Kamis (27/10/2016) lalu.

Pada agenda tersebut, ada ribuan tumpeng yang dibawa oleh para warga. Tumpeng ini dikumpulkan di dua lokasi yakni, di parkir wisata desa serta di lokasi pesarean (lingkungan yang dipercaya sebagai petilasan Sunan Kalijogo).

“Masyarakat di sini mempercayai, bila tumpeng yang berbentuk piramid sebagai bentuk perlambangan doa mereka untuk sang pencipta,” tutur Kepala Desa Surowiti Khalidul Iman, Kamis (27/10/2016).

Sebelum dibawa ke kompleks yang diyakini sebagai makam Sunan Kalijogo, ribuan tumpeng tersebut lebih dulu diarak berkeliling kompleks sejauh 1 kilometer. Setelah itu, baru dilakukan tahlilan bersama (ritual keagamaan) dan dilanjutkan dengan saling menukar tumpeng, yang diakhiri dengan makan bersama.

“Sudah tiga kali edisi kami lakukan. Namun untuk kali ini, tidak hanya warga Desa Surowiti saja yang terlibat, melainkan juga warga desa tetangga seperti Serah dan Sukodono,” jelasnya.

Kegiatan ini, dikatakan Iman, sebagai langkah untuk lebih memperkenalkan kepada masyarakat umum tentang potensi wisata Desa Surowiti, yang dianggapnya cukup layak untuk dikunjungi jika sedang berada di Gresik.

“Untuk acara kali ini, ada sekitar 2 ribuan tumpeng yang dibawa oleh warga kemudian dimakan bersama-sama usai doa. Di mana sebagai ikonnya ada dua tumpeng besar, satu tumpeng nasi dan satu lagi berisikan hasil panen,” beber Iman.

Sebuah konsep paduan religi dan wisata yang dianggap cukup menarik oleh Wakil Bupati Gresik, Mochammad Qosim. Ia pun berharap, supaya acara Grebeg Surowiti ini bisa termasuk dalam agenda nasional.

“Saya juga sudah ngomong kepada perangkat desa setempat, untuk segera membuat konsep proposal dan segera berkomunikasi dengan pihak Disbudparpora (Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Olahraga) untuk itu,” ujar Qosim.

Selain doa dan makan tumpeng bersama, rangkaian agenda ini rencananya bakal ditutup dengan pementasan seni wayang kulit, malam nanti (27/10/2016). Sebuah seni tontonan, yang dianggap oleh warga Desa Surowiti sebagai peninggalan Sunan Kalijogo.(lan/gr)

TINGGALKAN KOMENTAR