Foto: Nahum Situmorang (ist)

Oleh. Tatan Daniel

– di Karet, di Karet (daerahku y.a.d)
Sampai jua deru angin.
(Chairil Anwar)

DARI koleksi museum Tropen, saya menemukan selembar foto tua. Tigabelas belia berseragam putih-putih, di halaman dalam sebuah sekolah. Seorang memegang cello, yang lainnya dengan biola. Tak banyak keterangan tentang foto yang dibuat tahun 1927 itu, kecuali teks di bawahnya: Groepspotrets orkest bestaande uit leerling en van de Hogere Kweekschool (HKS) in Bandoeng. Saya tak tahu, apakah Nahum Situmorang, yang menamatkan pendidikannya di Kweekschool, Lembang itu, pada tahun 1928, ada di antara mereka.

Tak banyak catatan tentang Nahum. Bahkan, alam maya internet pun, yang berjejal dengan milyaran informasi setiap saat, hampir tak menyimpan jejaknya. Kecuali, dua potret diri. Itu pun dengan garis wajah yang tak begitu jelas. Selebihnya, beberapa foto peziarah yang berkunjung ke makamnya, di sebuah pekuburan tua, di Medan. Tampaknya, tak ada yang peduli, atau tak tahu, atau tak mau tahu, atau memang tak sempat untuk mengingatnya.

Tak banyak memang, bahkan nyaris tak ditemukan catatan otentik tentang Nahum, yang pernah berhimpun dalam “Sumatra Keroncong Concours” itu. Tak ada buku yang ditulis. Seolah-olah ia dibiarkan menjadi mitos, dengan kenangan yang rapuh, dengan segala kemungkinan dan pemaknaan.

Nahum adalah penyair yang bernyanyi, seniman yang tak betah berdiam di kamar. Ia tak menulis lagu dari balik jendela yang setengah terbuka. Ia seorang ‘troubadour’. Pelintas batas yang gelisah, yang bergaul dengan banyak sahabat.

Bermula dari Sipirok, tanah kelahirannya, ia berlayar ke Batavia. Masih diusia sangat belia. Pada zaman itu, bagi saya ia terasa ‘revolusioner’, seorang bocah yang bergegas mengarungi dunia yang jauh. Tanpa ragu. Tentang hal ini, saya teringat seorang Situmorang yang lain, Sitor. Yang sama berasal-usul dari kampung Urat, di tepi pulau Samosir, dan berleluhur yang sama, Ompu Tuan Situmorang. Sitor belajar menjadi jurnalis, Nahum belajar menjadi guru, dan kemudian mengajar di sekolah ‘liar’, yang didirikan abangnya. Sekolah partikulir yang tak direstui oleh penguasa kolonial. Begitulah, kendati mengenyam pendidikan di sekolah Belanda, Nahum tak pernah tertarik masuk dalam jaring nilai dan norma masyarakat kolonial. Ia tak lantas menjadi steril. Tak tergoda menjadi elitis. Ia tidak artifisial. Ia lebih memilih jujur pada kehendak jiwa, tanpa rekayasa. Dengan demikian, sesungguhnya dengan sadar ia telah menukar masa depannya dengan dunia pilihannya yang tak terbatas. Dengan malam-malam yang panjang. Persahabatan yang karib. Dunia tanpa kepentingan. Kehidupan yang murah hati. Kemerdekaan yang bersahaja. Semesta yang mempesona dan menggetarkan.

Nahum adalah pencerita yang baik. Naratif, tapi juga bisa liris-puitis. Ia mengantarkan imaji tentang Aek Sigeaon, bulan, langit, angin, dataran padang ilalang, lembah Silindung, bayang-bayang bukit, kemilau danau. Meresonansi alam raya, dan terkesima di hadapan keluasannya, tanpa lupa dengan seksama mencatat detil, bagai pengukir gorga yang bijaksana.

Diksi, dan metaforanya, menyuarakan ideologi kerakyatan yang kental. Ideologi inilah yang setiap kali menyeruak, ketika lagu-lagunya kembali terdengar. Ia tak pernah benar-benar punah. Meski, sebagai laki-laki Batak yang tak pernah menikah dan tak pernah mempunyai keturunan, ia bisa saja dianggap punah. Bahkan tak tercatat dalam rangkaian silsilah keluarga, karena ia tak wajib memelihara silsilah. Tapi karena ia tak benar-benar punah, kita pun menjadi tahu bahwa ia tak bisa digantikan. Karena ia menjadi ingatan bagi kita, maka kita pun tahu apa yang hilang dalam diri kita.

Saya tak tahu apakah sepanjang hidupnya ia merasa bahagia. Atau, tidak cukup merasa bahagia. Saya pun tak sempat membayangkan, apakah ia punya rumah. Atau pernah merindukan rumah, dengan keriangan percakapan keluarga yang hangat.

Lagu-lagunya menjadi elegi, semacam catatan perjalanan. Dari seorang pejalan yang tak tunduk pada waktu, pelintas batas, yang merenungi aneka petualangan, pengalaman, dan wacana. Petualangan yang tak sepenuhnya bisa diduga. Ekspresi kreatif yang kaya dengan lukisan alam dan sosok manusia yang ia temukan di mana saja. Di kedai makan, di pasar, di tikungan jalan, di bangku bis yang beringsut di lereng gunung, di atas perahu yang meluncur ketika pagi baru turun di danau. Imaji tentang lanskap Batak, dan habatahon, bayangan tentang waktu, pengalaman batin, hati yang patah bagai Syamsul Bahri pada Siti Nurbaya, cinta yang kunjung sudah, kasih yang tak pernah kering pada sang boru Tobing, dan momen-momen estetik yang ditemukannya sebagai penyaksi. Yang dikemas menjadi semacam oleh-oleh, kabar, atau kejadian-kejadian (happenings), untuk kemudian disampaikan di depan para audiensnya yang menunggu, pengunjung lapo tuak.

Dari Depok, ia ke Batavia, Bandung, Medan, Sibolga, Padangsidempuan, Tarutung, Siborong-borong, Dolok Sanggul, Sidikalang, Balige, Parapat, Pematang Siantar, Berastagi, Kabanjahe.. Ia bernyanyi dari lapo ke lapo. Diantara renungan dan kesendiriannya. Membagi kesedihan dan keriangan, di tengah aroma tuak, denting gelas, dan suara gitar. Dari sanalah, sekian banyak lagu tercipta, lalu mengalir ke mana-mana, sebagian malah disebut lagu rakyat. Nyanyian yang menyusupkan makna antropologis, tentang kebudayaan dan daya hidup manusia Batak. Tapi juga mengandung muatan ontologis, dan kesadaran fenomenologis keseharian. Dengarlah lagunya: “Lissoi.. Lissoi”, penggambaran keseharian yang hangat tentang para lelaki Batak, apa adanya. Simak pula lagunya yang lain, “Maragam-ragam”, sebuah perayaan sarat sukacita tentang pluralitas.

Saat menulis ini, saya menyimak “Havana” dari pengeras suara di sudut kedai. Lagu yang disukai Cha Cha, putri milenial saya. Kopi saya sudah setengah dingin. “Havana, ooh na na. Half of my heart is in Havana, ooh na na..” Tak memadai imajinasi saya, membayangkan kemungkinan ia menyanyikan “O Tao Toba na Uli”, bila suatu ketika putri saya yang suka bernyanyi itu berada di sebuah sudut kota Havana.

Lalu, adakah hubungan Chairil dengan Nahum? Tentu tak ada. Hanya, saya menemukan seberkas persamaan, di antara tingkat keliaran yang berbeda. Suara lirih itu. Pesan lirih itu. Pada sajaknya, “Yang Terampas dan Yang Putus”, Chairil menulis pesan tentang tempatnya bersemayam kelak, jika sudah tiada: di pekuburan Karet, di kawasan Pejompongan, Jakarta. Akan halnya Nahum, menorehkan pesan, seperti pemahat yang mengukir di atas batu, yang sukar dihapus, tentang ikhwal yang sama, “Molo marujungma muse ngolukku sai ingotma/Anggo bangkeku disi tanomonmu/Didi udeanku, sarihonma” (Bila hidupku sudah berakhir, ingatlah/Makamkanlah jasadku di sana/Sediakanlah kuburanku di sana). Pesan yang ia tulis dalam bagian akhir lirik lagunya, “Pulo Samosir”. Pesan yang terasa menjadi hutang yang harus dibayar.

Tapi untuk Nahum, pesan itu tak kunjung tertunaikan. Di sebuah petak pekuburan di Jalan Gajah Mada itu, di makam dengan hiasan relief gitar yang tak begitu bagus, ia seakan terdengar masih melantunkan lagu itu. Seperti andung, ratap yang tak henti menyelinap dari sela bilah-bilah besi, pagar makam yang mengurung seniman berjiwa merdeka itu. Ia tak lagi seperti ‘troubadour’, yang mengembara dari satu kota ke kota lain. Sudah hampir lima puluh tahun ia terbaring di sana, lelaki solitaire yang romantik itu. Saya mendengar ia masih bernyanyi, seakan ingin meredam riuh bising jalan raya yang sibuk, dengan orang-orang yang melintas di sana, yang tak benar-benar tahu ada seorang yang jiwanya menggapai-gapai, terkubur di sana. (gr)

TINGGALKAN KOMENTAR