Foto ilustrasi: Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia. (ist)
loading...

Catatan: Rd. Ace Sumanta

BOGOR tidak hanya mempunyai sebutan kota pusaka, kota budaya, kota pejuang dan sebutan banyak lainnya termasuk kota museum. Satu lagi hadir di Bogor yaitu “Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia”- yang sebelumnya bernama “Museum Etnobotani Indonesia”.

Foto: Rd. Ace Sumanta. (ist)

Sebagai pelaku seni budaya, pelaksana literasi, Badan Kesewedayaan Masyarakat, penggerak masyarakat pedesaan, komunitas anti rokok, tergabung dalam komunitas penelitian kebudayaan dan peradaban Pusaka Pakuan, KAPUK Bogor, bahkan senang bersilaturahmi hingga ke luar daerah dan beberapa pulau di Indonesia. Kehadiran Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia (MNSAI) merupakan pengembangan Museum Etnobotani Indonesia (MEI) Bogor sangatlah berfaedah, bermanfaat berdayaguna dan berhasilguna. Ilmu pengetahuan yang bersifat “edukatif, kreatif, inspiratif” sangat tersaji dengan sistem dan pengelolaan secara modern. Hasil kajian, penelaahan, artefak budaya dan peradaban sangat memacu untuk kita pelajari dan dalami.

Kita akan memahami proses kehidupan, tingkatan pemajuan kebudayaan masyarakat Indonesia dari Sabang-Merauke. Hal itulah yang membuat kagum, toleransi, kebersamasn dan tak terlepas dari banyak disiplin ilmu lainnya yang satu sama lain terkait dan saling menunjang juga saling melengkapi. Wawasan kita terhadap kebudayaan dan peradaban di Indonesia tersaji dan dapat dipelajari di Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia (MNSAI).

Begini sejarah singkatnya:
Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia merupakan pengembangan Museum Etnobotani Indonesia (MEI) yang berlokasi di Jln. Ir. H. Juanda No. 22 Kota Bogor 16122. Museum tersebut mula-mula dicetuskan oleh Prof. Sarwono Prawirohardjo, yang merupakan kepala LIPI pada saat itu. Gagasan itu bertepatan dengan peletakan batu pertama pembangunan gedung baru Herbarium pada tahun 1962, yang kemudian dimantapkan kembali ketika Dr. Setijati Sastrapradja memegang jabatan Direktur LBN (Lembaga Biologi Nasional) pada tahun 1973. Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya Museum Etnobotani Indonesia (MEI) tersebut dapat terwujud dan diresmikan pada tanggal, 18 Mei 1982 oleh Menristek Prof. Dr. Ing. B. J. Habibie.

Sekarang ibu Setijati Sastrapradja (Prof. Dr) pendiri dan pembina Perpustakaan Pelita Desa, Warkat Nusantara, dan pendiri lembar bacaan “Kejora” di Jln. Siaga 4 Loji Bogor Barat. Usia beliau sudah 80 tahun. Saya masih bertemu, diskusi serta mengadakan kegiatan Literasi, FGD banyak hal dengan beliau. Luar biasa masih sehat, energik dan berfikir cerdas dan baru-baru ini menerbitkan buku sebagai kado ulang tahunnya ke-80. Senantiasa Allah SWT memberikan perlindungan dan keberkahan.

Koleksi Museum Nasional Alam Indonesia (MNSAI) berasal dari MEI berjumlah 1880 nomor, yang berasal dari seluruh Nusantara, mulai dari Sabang sampai Merauke. Artefak etnobotani ini dopamerkan berdasarkan jenis tumbuhan dan pemanfaatannya. Selain itu, koleksi spesimen yang lain tersimpan di Herbarium Bogoriense (koleksi spesimen herbarium), Museum Zoologicum Bogoriense (koleksi spesimen fauna, dan Pusat Koleksi Jasad Renik (InaCC) (koleksi Mikrob).

Oleh karena itu, dengan kekayaan alam yang melimpah dan fitensi yang sangat besar, sehingga memungkinkan tingginya keanekaragaman hayatinya. Selain itu Indonesia juga dihuni lebih dari 500 entri atau lema. Lema-lema itu bervariasi dalam katagori suku bangsa, sub suku bangsa, kelompok sosial budaya yang khas, komunitas yang mendiami suatu pulau kecil, dan sebagainya. Tiap lema itu memiliki kebudayaan yang berbeda sesuai dengan adat dan tatanan yang berlaku, antar lain dalam memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya.

Pesatnya perkembangan teknologi modern memungkinkan mudahnya hubungan antar pulau di Indonesia, bahkan antar negara di dunia. Teknologi modern ini seringkali dapat mempengaruhi kehidupan dan kebudayaan suku bangsa di Indonesia. Sebagai akibatnya pengetahuan tradisisional tentang alam mengalami erosi, sehingga dirasaksn perlu untuk mempelajari serta mendokumentasikan yang masih tertinggal. Oleh karena itu didirikanlah Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia ( MNSAI), yang merupakan pengembangan dari Museum Etnobotani Indonesia.

Tentu kehadiran dan pengembangan museum sangat dinantikan dan memiliki manfaat:

1. Sebagai model pendidikan ilmu pengetahuan tentang pemaknaan sumber daya alam dan perubahan lingkungan hidup di Indonesia, status dan potensi biodiversitas untuk pembangunan, kebutuhan untuk konservasi dan pemanfaatannya, kontribusi perkembangan ilmu pengetahuan bagi semua orang dalam bentuk materi pendidikan dan pameran yang progresif dan dinamis.

2. Mempromosikan ilmu pengetahuan dan meningkatkan pemahaman tentang Iptek dengan menjadikan museum sebagai “science education fasilities”.

3. Sebagai media komunikasi secara interaktif dengan masyarakat tentang pentingnya nilai-nilai sejarah alam dan kehidupan manusia dan pentingnya Iptek untuk pembangunan berkelanjutan. Meningkatkan motivasi masyarakat khususnya generasi muda untuk melakukan eksplorasi dan inovasi ilmiah untuk mengubah potensi menjadi kenyataan dalam kehidupan.

4. Menyediakan bahan-bahan pembelajaran penggunaan dan pemanfaatan sumber daya alam serta lingkungan berdasarkan keselarasan kearifan lokal dengan sistem modern.

Demikian peran dan sumbang saran untuk pengetahuan sejarah alam Indonesia yang erat kaitannya dengan budaya dan peradaban di dalamnya. (Catatan: Rd. Ace Sumanta ).

 

TINGGALKAN KOMENTAR