Foto ilustrasi: Poster Batak Fiesta 2017. (ist)

Oleh: Thompson Hs*

Batak Fiesta merupakan program bulan keempat Horas Samosir Fiesta (HSF) 2017 sejak dimulai Maret lalu. Program tersebut akan dilaksanakan di Open Stage Tuktuk Samosir pada 27 – 29 Juni 2017.

Orientasi dan dalam kaitan eksekusi kegiatan, saya dua kali ke Tuktuk dan langsung ke tempat pelaksanaan. Open Stage Tuktuk terpisah dari pemukiman penduduk atau sejumlah penginapan. Sejak dibangun beberapa tahun lalu kegiatan bersifat nasional dan internasional sudah pernah dilaksanakan di sana. Waktu Festival Danau Toba menggantikan konsep Pesta Danau Toba diawali di Open Stage Tuktuk pada 2013, terutama untuk acara pembukaan. Demikian dengan penampilan Konser Musik Herman Delago (Musisi Austria) sudah dua kali terlaksana di Open Stage Tuktuk.

Foto: Thompson Hs. (ist)

Tuktuk merupakan satu kelurahan dari 24 desa/kelurahan di Kecamatan Simanindo. Di sana terdapat sekitar 10 persen dari 560 penginapan dan homestay yang tersebar di Kabupaten Samosir. Selain penginapan dan homestay ada banyak restoran, travel agen, bengkel kerajinan, galeri seni, semacam museum, tempat money changer, dan lain-lain yang biasanya ditawarkan destinasi unggulan. Dalam 10 objek wisata unggulan di Samosir Kelurahan Tuktuk dalam nomenklatur Dinas Pariwisata Samosir adalah Tuktuk Siadong. Kunjungan turisme mancanegara dan domestik ke objek wisata prioritas dan rintisan di Samosir cenderung melewati Tuktuk Siadong karena kedekatannya ke Parapat (Simalungun). Di Samosir ada 11 objek wisata prioritas dan 15 objk wisata rintisan. Semuanya cenderung terkait dengan keindahan alam dan kekayaan budaya.

Dari Tigaraja Parapat selalu ada kapal penumpang umum ke Tuktuk dan Tomok setiap hari dari pagi sampai sore. Bagi turis yang sudah mengetahui jalur itu tidak akan kesasar karena dari Ajibata (Tobasa) juga ada satu jalur kapal penumpang umum ke Tomok dan kapal ferry, mulai pukul 07.00 sampai 21.00 Wib. Tuktuk Siadong dan Tomok adalah dua pintu dari Parapat dan Ajibata menuju Samosir. Pintu masuk lainnya setiap hari ada dari Tigaras (Simalungun) melalui kapal penumpang umum dan kapal ferry ke Simanindo. Namun kelancaran dan keramaian penumpang dan turis cenderung memilih pintu Tuktuk Siadong dan Tomok. Kapal ferry dari Muara (Tapanuli Utara) ke Sipinggan (Selatan Samosir) ada juga kapal ferry setiap Senen dan Sabtu pukul 15.00 dan 09.00 Wib. Demikian kapal ferry dari Balige (Tobasa) ke Onanrunggu setiap Selasa dan Jumat pada pukul 16.00 dan 10.30 Wib. Sedangkan jalur darat menuju Samosir ada dari pintu Tele, dari arah Doloksanggul (Humbahas) dan Sidikalang (Dairi).

Samosir sebagai satu kabupaten pemekaran dari Tobasa pada tahun 2003 identik dengan Pulau Samosir. Namun sesungguhnya mencakup sebagian daratan sebelah Barat Danau Toba dan hutan-hutan sekitar Tele. Perbatasan daratan Samosir dengan Humbahas berada di sekitar desa Hutagalung, sedangkan dengan Dairi di sekitar desa Parbuluan. Sebagai sebuah pulau, Samosir ditandai dengan pengerukan rawa-rawa Pusuk Buhit oleh kolonial Belanda pada tahun 1934. Rawa-rawa yang dikeruk itu sekarang dikenal dengan Tano Ponggol (tanah patahan) dan tujuannya untuk memperlancar kapal perdagangan yang akan lewat dari Selatan ke Utara. Tano Ponggol dihubungkan dengan satu jembatan untuk dapat dilalui jalur darat.

Kembali ke Tuktuk Siadong

Tuktuk Siadong sudah dikenal oleh turisme mancanegara sejak tahun 1970-an karena fasilitas penginapannya. Fenomena peningkatan jumlah pernikahan turis atau orang Barat dengan orang Batak terjadi melalui keramaian Tuktuk Siadong sebagai destinasi wisata. Fenomena itu sudah disinggung dalam sebuah penelitian akademis dan dianggap menarik karena jumlah orang Batak menikah dengan orang Batak sangat terbatas sejak misi dan kolonialisme. Misalnya pimpinan misi Kristen Jerman ada melarang pernikahan dengan pribumi. Namun kelihatannya Tuktuk Siadong membuka peluang atau kemungkinan itu secara fenomenal melalui gerakan pariwisata. Tidak mengherankan kalau orang Barat ada yang tinggal dan bikin usaha di Tuktuk Siadong. Atau sebaliknya memboyong pasangan ke negaranya.

Sore Rabu (24/06/2017) kami kembali ke Tuktuk dalam kaitan dan persiapan Batak Fiesta 2017. Open Stage Tuktuk Siadong memiliki fasilitas seperti panggung dan beberapa ruangan dengan pelataran pertunjukan kolosal, eksebisi, parkir, dan tribun yang dapat menampung lebih dari 2000-an pengunjung. Panggung terbuat dari konstruksi baja, meskipun desain artistiknya harus dipikirkan untuk menutupi kekurangan visual. Berbagai ruangan sudah sangat potensial sebagai fasilitas umum, meskipun pemeliharaan rutinnya harus dipikirkan ke depan. Demikian dengan pelataran di bagian atas dan bawah akan sayang sekali kalau tidak dijaga dan dikelola pada setiap acara. Open Stage Tuktuk untuk sementara dapat menyerupai ampiteater satu-satunya di Kabupaten Samosir kalau semacam panggung outdoor tidak mungkin lagi dibuat di Samosir. Potensi ampiteater sesungguhnya masih dapat dibuat di tempat-tempat lain, seperti di sekitar Batu Hobon, desa Limbong dengan latar gunung Pusuk Buhit dan kesan mitologi dan legendarisnya.

Tuktuk Siadong sudah terlanjur lebih cepat dipengaruhi modernisasi. Namun sisa keunikan tradisi tidak jarang ditawarkan di sana. Ornamen kebatakan juga tetap bisa dilihat di Open Stage Tuktuk Siadong dengan kontruksi dan teknis modernisasi. Mungkin itu pula menjadi salah satu tantangan artistik dalam persiapan Batak Fiesta 2017. Tim kreatif, Even Organizer, pihak Dispar Samosir sangat serius untuk melewati tantangan itu.

Menginap di Tuktuk Vieuw

Tidak cukup satu hari satu malam melewati tantangan di Open Stage Tuktuk Siadong. Hari kedua dilakukan pengukuran sejumlah sisi panggung, set dekoratif, pencahayaan, dan hal-hal di luar artistik. Keluar dari bayangan dari tantangan itu dilakukan kunjungan kepada pengrajin dan penggiat pariwisata, selain waktunya istirahat di Tuktuk Vieuw, penginapan milik Pemerintah Kabupaten Samosir yang akan dibangun atau direnovasi ke tingkat yang lebih berstandar.

Di sekitar Tuktuk Siadong boleh dikatakan bukan gudangnya para pengrajin karena yang menonjol adalah toko-toko penjualan suvenir yang sepi dengan aktivitas pembuatan barang kerajinan. Selain satu galeri terkadang ada muncul membuat barang kecil-kecilan di toko penjualan; apakah proses awal atau sampai finishing. Namun toko-toko penjualan suvenir di Tuktuk Siadong tidak seramai di Tomok. Desa Siallagan yang dulu dikenal sebagai gudang para pengrajin kelihatannya juga mulai mengikuti gaya toko-toko penjualan suvenir di Tuktuk Siadong. Namun kerinduan menghadir para pengrajin di acara Batak Fiesta 2017 menjadi salah satu obsesi. Obsesi itu tentunya harus disebarkan tidak sebatas Tuktuk Siadong. Para pengrajin atau komunitasnya pasti sudah bekerja di berbagai tempat. Di desa Garoga, tempat salah satu Sigalegale yang legendaris sudah ada bengkel pengrajin. Ke situ juga kami menyempatkan diri berkunjung dan membuka informasi. Selama acara Batak Fiesta 2017 ada bayangan terjadinya eksebisi para pengukir dengan berbagai objek ukiran, di antaranya ulu paung, mahkota berukir yang biasa diletakkan di atas rumah Batak Toba. Sesungguhnya mahkota rumah tradisional itu dapat ditemukan varian-variannya dan ternyata sudah diteliti oleh Hokki Situngkit, Pendiri Bandung Fe Institut dengan metode ilmu eksakta.

Malam pertama tidak mengenalkan waktu kepada sebagian kami karena harus membahas berbagai hal penting sambil meneguk tuak. Malam kedua waktu mulai diperhitungkan dan membukakan solusi-solusi kecil. Tidur malam tidak lagi melewati tengah malam. Lalu pagi hari pun mendorong gerakan kaki mengelilingi jalan lingkar Tuktuk Siadong.

Jalan Lingkar Tuktuk Siadong

Keluar dari salah satu kamar di Tuktuk Vieuw, jalanan yang menurun menuju jalan lingkar Tuktuk Siadong. Sedangkan jalan menanjaknya adalah menuju Open Stage. Dari Open Stage jalanan juga menurun pada jalur masuk dan keluarnya dan tetap kembali ke jalan lingkar Tuktuk Siadong. Namun dari sisi ketinggian, pelataran bawah Open Stage lebih rendah dari area Tuktuk Vieuw.

Melewati jalan lingkar Tuktuk Siadong pasti beda antara naik kenderaan bermotor dengan berjalan dengan kaki. Namun kebanyakan turis-turis asing dari dulu kelihatan lebih suka berjalan kaki, kecuali rombongan turis asing yang sudah oltkrek. Namun pagi hari kedua itu turis-turis di Tuktuk Siadong kelihatan sepi. Beberapa ada turis-turis berwajah Asia secara berkelompok berjalan dan berhenti berfoto dengan latar bunga yang tumbuh di pinggir jalan. Turis-turis berwajah domestik juga kelihatan sudah mulai suka berjalan kaki. Mereka biasanya pasti lebih suka mandi-mandi di danau.

Selama satu jam menikmati Jalan lingkar Tuktuk Siadong ada sesuatu yang menarik. Beberapa plank ditemukan dengan informasi: ADA KAMAR DI TEPI DANAU. Informasi itu kelihatan sederhana, namun mengundang banyak maksud. Maksud pertama: danau masih penting, tempat berenang atau pemandangan saja. Maksud kedua: tawaran itu sudah kompetitif atau bisa dame-dame. Maksud ketiga: jangan menginap jauh dari tepi danau. Maksud keempat: jangan lupakan kami. Maksud kelima: Yang penting anda sudah tahu. Dan lain-lain!

Biasanya penginapan di Tuktuk Siadong sudah full boking sebulan dari hari-hari libur besar dan liburan anak sekolah. Acara Batak Fiesta 2017 tepat waktu liburan Hari Raya Umat Muslim dan liburan anak sekolah. Kalau penginapan ternyata sudah penuh karena kedua liburan itu, maka para pengunjung acara Batak Fiesta 2017 hanya punya penginapan alternatif di luar Tuktuk Siadong. Jangan takut, tentu saja seperti disinggung di awal tulisan ini, dari 560 penginapan dan homestay yang didata Dispar Samosir masih 10 persen ada di Tuktuk Siadong. Masih banyak penginapan dan homesta di Samosir dengan pelayanan yang berbeda-beda dan menarik. Datanglah ke acara Batak Fiesta di Open Stage Tuktuk Siadong 27 – 29 Juni 2017. Selama acara tiga hari tiga malam itu Anda bisa menyaksikan berbagai atraksi seni dan budaya, eksebisi seni kriya dan kuliner, bengkel seni, dan seminar “Toward Batak Day”. Pendukung utama acara ini dibayangkan dari 6 puak.

Samosir, 26 Mei 2017

*Kuratorial HSF 2017, Direktur PLOt Siantar.

TINGGALKAN KOMENTAR