by

Mengenang Amir Hamzah, Komunitas Kata-kata Gelar Diskusi Sastra

MEDAN – Damiri Mahmud mengatakan Penyair Amir Hamzah bukanlah penyair sufi laiknya Jalaluddin Rumi. Damiri menganggap puisi-puisi Amir Hamzah kebanyakan ditujukan kepada kekasihnya Llik Sundari.

Hal itu terungkap dalam acara yang digagas Komunitas Kata Kata Medan dalam sebuah tajuk berjudul ‘Diskusi Mengenang T Amir Hamzah dan Rumi’.

example banner

“Saya tidak menemukan nilai estetis dalam puisi Amir Hamzah tentang ketuhanan. Sebagai orang melayu tentunya saya dekat dengan bahasa yang dipakainya. Saya lebih kepada kekasihnya Llik Sundari, ” jelas Damiri, Sabtu (16/2/2019).

Damiri berpendapat bahwa sajak-sajak Amir Hamzah dalam Nyanyi Sunyi terutama ‘Padamu Jua’ adalah sajak cinta, pelukisan kepatahhatian Amir terhadap Ilik Sundari. Damiri menolak pendapat H.B. Jassin, A.H. Johns, A. Teeuw, Abdul Hadi W.M., Sutan Takdir Alisjahbana, dan lain-lain yang menepiskan eksistensi Amir Hamzah sebagai penyair lirik dan romantik, lebih menganggapnya sebagai mistikus atau sufi yang bersifat utopia belaka. Di mata mereka Amir Hamzah hanya mempermasalahkan kematian belaka dan tidak punya semangat hidup di dunia.

Ceramah ini menarik perhatian Jajang C. Noer yang pernah mengungkapkan hal senada kepada Arifin C. Noer tetapi tidak ditanggapi sang suami dengan serius. Kemudian H.B. Jassin tertarik dan merekomendasikan supaya dibukukan karena katanya pantas diketahui masyarakat umum sebab pembahasannya lebih memusatkan kepada riwayat hidup penyairnya. Tahun 1994, Dewan Kesenian Sumatera Utara menerbitkan ceramah itu sebagai sebuah buku dengan judul Amir Hamzah Penyair Sepanjang Zaman (Penafsiran Lain tentang Nyanyi Sunyi).

Pada 6 Juni 2007, Damiri kembali tampil mengetengahkan pendapatnya ini dalam Seminar Kesusastraan Bandingan Antarbangsa di Kuala Lumpur, Malaysia. Buku tentang Amir Hamzah yang ditulis oleh Damiri pernah pula diminta oleh Taufiq Ismail untuk dibukukan di Jakarta. Bahkan, seusai menjadi pembicara dalam seminar sastra bandingan tersebut, buku tersebut akan diterbitkan di Malaysia dengan judul Menafsir Kembali Nyanyi Sunyi.

Damiri memi­li­ki banyak alasan yang benar-benar dapat diterima oleh akal. Semua yang menafsir puisi Amir Hamzah tidak mengerti betul tentang Melayu dan kemelayu­an.

Amir Hamzah sebelum meni­kah dengan Tengku Kamali­ah, dia telah dua kali mengalami patah hati. Pertama dengan Aja Bun di Langkat dan patah Hatai keuda yang sangat mendalam dengan Ilik Sundari gadis Solo.

Amir seorang berdarah biru dari Kerajaan Langkat berhati lembut dan pe­nuh santun. Tata­kramanya terpelihara. Tutur ba­hasanya sangat baik bahkan in­dah, demikian kata Damiri.

Sayangnya para pemerhati/penafsir puisi Amir Hamzah ti­dak sampai melihat kuatnya tra­disi istana dan kemelayuan da­lam karya-karyanya.

Puisi Padamu Jua, adalah ka­rya agung penuh cinta yang agung terhadap kekasihnya Ilik Sundari yang berada di Solo. Kedalaman cinta Amir Hamzah terhadap Ilik Sundari diperoleh Damiri dari keterangan Putri Amir Hamzah, Tengku Tahura Alautiyah dan isteri Amir Ham­zah sendiri Tengku Kamaliah.

Sebelum meninggal Tengku Ka­maliah berpesan kepada pu­trinya Tengku Tahura Alautiyah, agar mencari dan menemui Ilik Sundari. Dan itu dilaksanakan oleh sang putri.

Ilik Sundai sudah menjadi isteri sorang menteri. Dia men­dapat kabar, kalau putri Amir Hamzah dan isterinya datang dari Medan mau bertemu. Ketika itu sang putri baru berusia 12 tahun, juga ingin bertemu dengan mantan kekasih ayahnya.

Kaki tangan isteri menteri itu (Ilin Sundari) pun menyuruh Tahura duduk di lobby hotel tem­pat mereka mengiap di Jakar­ta dan diberikan berbagai hadiah. Hal ini tanpa diketahui oleh Tengku Kamaliah, karena sibuk dalam urusan dagang.

Tanpa diketahui oleh Tahura, seseorang yang duduk disebuah sudut lobi hotel sedang mena­tap­nya. Seseorang itu adalah Ilik Sundari yang ingin melihat gu­rat-gurat wajah Amir Hamzah yang sangat dicintainya itu, pa­da diri sang putri.

Ketika Amir harus pulang ke Langkat atas panggilan sang Pa­man yang Sultan Langkat, Amir mengemukakannya kepada Ilik Sun­dari. Dengan hati sangat be­rat dan penuh cinta, Ilik Sundari melepas Amir pulang ke Lang­kat. Ilik Sundari tahu betul, kalau Amir tak mampu mengelak dari panggilan sang Paman yang Sul­tan.

Sebelum menikah dengan Tengku Kamaliah, Amir sempat sebulan di Jakarta untuk menge­masi barangt-barangnya. Dia tak keluar dari kamarnya. Dia menu­lis puisi-puisinya. Kumpulan pu­i­si-puisinya itu diserahkannya ke­pada sahabatnya. Oleh saha­bat­nya kemudian dijadikan buku.

Selain Padamu Juga, Puisi ber­judul Astana Rela, juga ditaf­sir sebagai puisi sufistis. Damiri juga menampiknya dengan ber­ba­gai alasan yang menarik dan masuk akal.

Demikian juga puisi yang berjudul Hanyut Aku. Dikatakan puisi yang sangat religius dan mistis. Damiri menolak tafsiran Sutan Takdir Alisjahbana dan Md. Saleh.

Menurut Damiri, terlalu ris­kan kalau dikatakan, sajak ini ber­isikan kerinduan kepada Tu­han. sebab kekasihku disitu ber­tidak sebagai pasif, tak membe­rikan sugesti sedikitpun.

Tiada suara kasihan, tiada angin mendingin hati,

tiada air menolak ngelak

dahagakan kasihmu, hauskan bisikmu, mati aku

sebab diammu.

Sajak ini adalah sajak cinta Amir Hamzah kepada kekasih­nya yang gagal itu. Dalam pers­pektif budaya, perhatikan ngelak (Jawa:haus) ditempatkan Amir dalam bait itu. Menunjukkan se­cara intuisif upaya Amir menga­winkan budaya Jawa-Melayu, sebagaimana keinginannya terhadap Ilik Sundari. KIta harus ingat, Amir Hamzah adalah penyair Rimantik.

Salah satu ciri kauj romantik, melukiskan sesuatu hal dalam keadaan bagaimanapun juga, senantiasa secara estetis dan hiperbolis. Perhatikan lagi kuplet akhir sajak ini.

Tenggelam dalam malam

Air di atas menindih keras

Bumi di bawah menolak ke atas

Mati aku, kekasihku, mati aku!

Jelasnya sajak Hanyut Aku, bukan sajak sufistis atau mistis, tapi sajak untuk sang kekasih yang sangat dicintranya di Solo. Jelasnya Damiri mengatakan, Amir amzah bukanlah penyair Sufi dan dalam puisi-puisnya tak ditemukan aura tasawuf. Amir Hamzah juga bukan mencari Makrifat dalam puisi-puisinya.

Jelasnya pengaruh budaya lokal dalam karya Amir Hamzah sangat kuat, terutama nuansa Me­layu. Salah mereka yang me­nafsirkan karya Amir Hamzah kalau mereka hanya memakai ka­camata Strukturalisme- eks­pre­sif saja. Mereka harus mene­lu­suri siapa Amir Hamzah dan bu­dayanya yang amat kental de­ngan kemelayuannya.

Selain Damiri Mahmud, pembicara lainnya adalah M Yunus Tampubolon. Yunus lebih berbicara dari sisi politik Amir Hamzah. Menurut Yunus, Amir Hamzah adalah pahlawan yang menjadi korban politik PKI masa itu.

Hadir juga cucu Amir Hamzah, Tengku Rina Usman. Dia juga dalam beberapa hal setuju dengan Damiri Mahmud, bahwa banyak dari puisi-puisi itu yang ditujukan pada llik Sundari. Tetapi ada juga bait-bait yang ditujukan sebagai bentuk perlawanan kepada Belanda dan kepada Tuhan.

“Jadi tidak melulu kepada llik Sundari. Tetapi juga ada kepada Belanda dan ada juga kepada Tuhan. Namun ini ditulisnya dalam satu puisi, ” ujar Tahura.

Tahura juga mengatakan bahwa ibunya, pernah meminta Amir Hamzah supaya mengawini juga llik Sundari sebagai istrinya juga. Tapi hal itu tidak terujud.

Penyair Teja Purnama menangkap ini sisi baru dalam dunia sastra yang terungkap. “Dan terungkapnya justru dalam di sini. Di dalam acara ‘Diskusi yang diselenggarakan komunitas kata kata ini’.. Mudah mudahan ini menjadi bahan diskusi pula pada kesempatan lain, ” ujar Teja.

Porman Wilson Manalu mengatakan, Komunitas Kata Kata ditahun 2019 ini tidak melulu menampilkan baca puisi tetapi juga diskusi sastra dan workshop sastra.

“Tahun 2019, kita lebih berpariatif, jadi diselingi dengan diskusi dan workshop sastra,” kata porman dalam pidatonya. (aba/bbs)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed